Tracxn: Pendanaan Fintech Asia Tenggara Turun 3% Jadi US$682 Juta pada Semester I-2026

Pendanaan Fintech Asia Tenggara 2026

Tracxn: Pendanaan Fintech Asia Tenggara Turun 3% Jadi US$682 Juta pada Semester I-2026 (Foto: Ilustrasi)

youngster.id - Laju pendanaan perusahaan teknologi finansial (fintech) di kawasan Asia Tenggara mengalami perlambatan tipis pada paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan laporan SEA FinTech Semi-Annual Funding Report – H1 2026 yang dirilis oleh platform data Tracxn, total pendanaan yang dihimpun sektor fintech di kawasan ini mencapai US$682 juta (sekitar Rp10,8 triliun).

Angka tersebut menandakan penurunan sebesar 3% hingga 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (H1 2025) yang mencatatkan US$711 juta, serta turun 4% dibandingkan semester kedua tahun 2025.

“Performa ini mengindikasikan pasar yang tidak menyusut secara drastis, namun juga belum menunjukkan pemulihan signifikan (bouncing back),” kata Analis Tracxn, dikutip Kamis (30/7/2026).

Mega-Round Mendominasi, Pendanaan Menengah Tertekan

Meskipun nilai total pendanaan mencapai ratusan juta dolar, lanskap pendanaan fintech Asia Tenggara pada H1-2026 sangat didominasi oleh dua mega-round bernilai besar.

Platform layanan pembayaran Airwallex berhasil meraih pendanaan Series H sebesar US$320 juta, sementara platform bursa terdigitalisasi Edena Capital meraup US$100 juta dalam putaran Series D. Gabungan dari kedua transaksi ini menyumbang 62% dari total modal yang terhimpun di seluruh kawasan.

“Jika dua pendanaan besar tersebut dikecualikan, ekosistem fintech Asia Tenggara sebenarnya hanya meraih pendanaan sekitar US$260 juta,” tambahnya.

Pada tahap awal (seed stage), nilai investasi melonjak hingga 45% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$78,1 juta dari sebelumnya US$53,8 juta pada H1 2025. Sebaliknya, tahap pertumbuhan (early stage atau Seri A & B) mengalami penurunan paling tajam, yakni merosot 23% YoY menjadi US$153 juta dari posisi sebelumnya US$199 juta. Sementara itu, pendanaan tahap lanjut (late stage) cenderung stabil meski terkoreksi tipis 2% YoY menjadi US$451 juta dibandingkan US$458 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Secara geografis, distribusi pendanaan fintech di Asia Tenggara masih berpusat di hub finansial utama kawasan. Singapura mengukuhkan dominasinya di posisi puncak dengan mengantongi 79% dari total pendanaan regional, atau mencapai sekitar US$535 juta.

Filipina menyusul di posisi kedua dengan raihan US$62 juta (sekitar 9%), di mana porsi terbesarnya disumbang oleh putaran pendanaan tunggal fintech Salmon Group sebesar US$60 juta di area Taguig/BGC.

Sementara itu, Malaysia menempati urutan ketiga dengan perolehan US$42,5 juta, sedangkan sisa porsi pendanaan yang ada terbagi untuk Indonesia, Thailand, dan Vietnam.

Aktivitas M&A dan Akses IPO Terus Melambat

Laporan Tracxn juga menyoroti lesunya aktivitas akuisisi (merger and acquisition/M&A) di sektor fintech. Sepanjang H1-2026, hanya terdapat 6 transaksi akuisisi fintech, turun 45% dibandingkan 11 transaksi pada H1-2025.

Akuisisi bernilai tertinggi dicatatkan oleh HCL Technologies yang mengakuisisi platform konsultasi kekayaan Finergic senilai US$14,7 juta. Selain itu, Western Union tercatat mengoperasikan akuisisi terhadap Dash dengan nilai transaksi yang tidak dipublikasikan.

Data Tracxn juga mencatat rata-rata jangka waktu dari pendanaan pertama hingga akuisisi kini memakan waktu lebih lama, yakni rata-rata 20,4 tahun.

Selain itu, tidak ada satu pun perusahaan fintech di Asia Tenggara yang melakukan penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) pada semester pertama 2026, berbanding terbalik dari H1-2025 yang mencatatkan satu aksi IPO.

Sejumlah lembaga pemodal ventura tercatat menjadi pemain paling aktif dalam menyalurkan pendanaan di kawasan sepanjang paruh pertama tahun ini. Pada tahap awal (seed stage), pergerakan investor didominasi oleh HashKey Capital, Stellaris, dan Bixin Ventures.

Sementara itu, aktivitas pendanaan tahap pertumbuhan (early stage) dipimpin oleh Altara Ventures, Peak XV Partners, dan Santo Venture Capital. Adapun untuk pendanaan tahap lanjut (late stage), Hedosophia menjadi pemodal paling aktif yang mengucurkan investasinya ke startup terkemuka di Asia Tenggara. (*AMBS)

 

 

Exit mobile version