CarbonEthics Dorong Integritas Pasar Karbon dan Regulasi Kuat di APEC ABAC 2026

Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO) CarbonEthics, Bimo Soewadji, berbicara dalam diskusi panel Asia Pasifik pada ABAC Meeting I 2026 (Foto: Istimewa)

youngster.id - Startup restorasi ekosistem berbasis teknologi (tech-enabled), CarbonEthics, menekankan pentingnya integritas pasar karbon dan infrastruktur regulasi yang kokoh dalam mendorong pembiayaan iklim di kawasan Asia-Pasifik. Pandangan ini disampaikan dalam pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Business Advisory Council (ABAC) Meeting I 2026 yang berlangsung di Hotel Shangri-La, Jakarta.

Sebagai pemain kunci dalam ekonomi hijau, CarbonEthics menilai bahwa konektivitas regional yang ditopang oleh kerangka regulasi kredibel adalah kunci untuk menjaga daya saing kawasan Indo-Pasifik di tengah dinamika geoekonomi global.

Co-Founder dan CEO CarbonEthics, Bimo Soewadji, menyoroti bahwa infrastruktur yang kredibel dapat mengurangi fragmentasi bilateral dalam perdagangan karbon. Ia memberikan contoh konkret melalui kebijakan di Indonesia yang telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon.

“Penguatan kerangka regulasi nasional menjadi salah satu pilar penting. Regulasi ini akan menjadi fondasi kuat bagi perdagangan karbon nasional ketika aturan turunannya resmi diberlakukan,” jelas Bimo, dikutip Kamis (26/2/2026).

Untuk menjembatani kesenjangan kelayakan pembiayaan (bankability) di pasar karbon, CarbonEthics menawarkan solusi strategis melalui penerapan sistem Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) yang andal dan akurat guna menjamin kualitas setiap kredit karbon yang dihasilkan. Langkah ini dibarengi dengan sistem pencatatan kredit karbon yang transparan untuk membangun kepercayaan di antara pelaku pasar serta investor global. Selain itu, CarbonEthics juga mendorong penggunaan standar berintegritas tinggi dalam mekanisme perdagangan yang mampu meningkatkan daya saing pasar tanpa harus membatasi ruang bagi inovasi.

CarbonEthics menegaskan bahwa proyek karbon tidak hanya soal angka, tetapi juga dampak sosial. Bimo menekankan pentingnya penerapan prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) untuk memastikan komunitas lokal terlibat secara bermakna.

“Keterlibatan komunitas sebagai penerima langsung pembiayaan iklim akan meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat. Hal ini memperkuat kredibilitas sosial proyek dan pada akhirnya mendorong kepercayaan investor untuk masuk lebih dalam ke pasar hijau,” tambah Bimo.

Langkah CarbonEthics ini sejalan dengan pernyataan Shinta Kamdani, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Berkelanjutan KADIN, yang menyebut penguatan inisiatif karbon sebagai bagian vital dari strategi pembiayaan berkelanjutan yang inklusif.

Ketua Umum KADIN, Anindya Novyan Bakrie, turut memberikan apresiasi atas kontribusi pemikiran CarbonEthics dalam mendorong infrastruktur digital dan pasar karbon berintegritas demi mempercepat investasi hijau di kawasan regional.

Partisipasi aktif CarbonEthics dalam ABAC 2026 mempertegas komitmen perusahaan untuk membangun ekosistem pasar karbon yang kredibel melalui tata kelola yang transparan dan pelibatan masyarakat sebagai fondasi pembiayaan iklim masa depan.

.

STEVY WIDIA

 

Exit mobile version