youngster.id - Pasar fintech Asia-Pasifik mulai memasuki fase stabilisasi setelah mengalami perlambatan tajam pada paruh pertama tahun ini. Hal ini terungkap dari laporan terbaru KPMG dalam Pulse of Fintech H2 2025. Meski belum mencerminkan pemulihan penuh, arus modal dinilai tidak lagi mengalami penurunan sedalam periode sebelumnya dan mulai bergerak lebih selektif.
Sepanjang 2025, Asia-Pasifik mencatat total investasi fintech sebesar US$9,3 miliar melalui 763 transaksi, turun dibandingkan US$11,7 miliar pada 2024. Khusus semester II 2025, pendanaan mencapai US$4,6 miliar dari 362 transaksi.
“Angka tersebut menegaskan bahwa ‘musim dingin pendanaan’ belum sepenuhnya berakhir, namun laju penurunan mulai melandai,” kata pihak KPMG, seperti dilansir Fintech News Singapore, Jum’at (27/2026).
KPMG mencatat ketidakpastian makroekonomi, tensi geopolitik, serta tekanan profitabilitas masih memengaruhi keputusan investor. Namun, perilaku investor kini berubah dari menarik diri secara menyeluruh menjadi memusatkan modal pada perusahaan dengan model bisnis yang skalabel, jalur profitabilitas yang jelas, dan teknologi yang memberi dampak nyata terhadap efisiensi operasional.
Menurut catatan KPMG, sepanjang paruh pertama 2025 (H1 2025), pendanaan fintech di kawasan Asia-Pasifik merosot ke level terendah dalam lebih dari satu dekade. Total investasi hanya mencapai US$4,3 miliar dari 363 transaksi, turun tajam dibandingkan US$7,3 miliar pada semester sebelumnya.
Secara global, investasi fintech hanya mencapai US$44,7 miliar dari 2.216 kesepakatan. Angka ini menjadi periode enam bulan terlemah sejak 2020, saat pandemi COVID-19 mengguncang ekonomi dunia.
AI Jadi Magnet Utama Investasi
Perubahan paling menonjol terlihat pada sektor kecerdasan buatan (AI). Secara global, pendanaan fintech berbasis AI mencapai US$16,8 miliar pada 2025, dan Asia-Pasifik mulai menjadi bagian penting dari tren tersebut.
Investor kini lebih tertarik pada AI yang terintegrasi dalam infrastruktur keuangan, seperti untuk kepatuhan (compliance), deteksi fraud, manajemen risiko, dan otomatisasi operasional. Bank dan perusahaan asuransi di kawasan ini memanfaatkan generative AI, large language models, hingga agentic AI untuk menekan biaya dan meningkatkan akurasi proses bisnis.
KPMG menegaskan bahwa startup fintech tidak lagi cukup hanya menambahkan fitur AI, tetapi harus menunjukkan diferensiasi teknologi dan dampak bisnis yang terukur agar menarik pendanaan.
Selain AI, investor semakin memprioritaskan sektor infrastruktur seperti regtech, core banking, dan payments berbasis B2B. Secara global, investasi payments mencapai US$19,2 miliar pada 2025, namun jumlah transaksi turun ke level terendah dalam sembilan tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa hanya pemain besar dan mapan yang kini mampu menarik modal.
Di Asia-Pasifik, minat investor bergeser ke platform modular untuk transaksi lintas negara, orkestrasi multi-rail, dan integrasi kepatuhan. Tren ini berbeda dari siklus sebelumnya yang didominasi e-wallet dan super app.
Data KPMG menunjukkan bahwa pendanaan terbesar pada semester II 2025 didominasi perusahaan fintech yang sudah matang dan berfokus pada infrastruktur. Beberapa transaksi utama meliputi:
- PhonePe (India) – US$600 juta
- AlloyX (Hong Kong) – US$350 juta
- Airwallex (Singapura) – US$330 juta
- Upsider (Jepang) – US$313,7 juta
- PremiaLab (risk & compliance) – US$220 juta
- Toss (Korea Selatan) – US$200 juta
- Honest (Indonesia) – US$140 juta
Selain itu, India juga mencatat pendanaan besar pada Snapmint, Raise Fintech Ventures, dan Metropolitan Stock Exchange.
Aset Digital Mulai Pulih, Regulasi Jadi Penentu
Sektor aset digital menunjukkan pemulihan dengan investasi global hampir dua kali lipat menjadi US$19,1 miliar pada 2025. Meski porsi Asia-Pasifik masih relatif kecil dibanding Amerika Serikat dan Eropa, kawasan ini aktif membangun kerangka regulasi.
Hong Kong mempercepat rezim lisensi stablecoin, sementara negara lain mengembangkan tokenisasi aset dan mata uang digital bank sentral (CBDC). Di sisi lain, China tetap mempertahankan larangan ketat terhadap aktivitas kripto, menandakan fragmentasi kebijakan di kawasan.
KPMG mencatat meningkatnya partisipasi institusi keuangan tradisional dalam pemanfaatan stablecoin untuk treasury management, pembayaran lintas negara, dan tokenisasi pasar uang. Fokus industri bergeser dari spekulasi ke infrastruktur keuangan yang teregulasi.
Untuk 2026, KPMG memproyeksikan AI tetap menjadi magnet utama investasi, diikuti konsolidasi fintech kecil yang mencari skala dan unit ekonomi lebih sehat. Perkembangan regulasi aset digital juga akan menentukan seberapa cepat partisipasi institusi meningkat di Asia-Pasifik.
Jika semester I 2025 ditandai oleh kontraksi, maka semester II menunjukkan pergeseran menuju disiplin investasi. Modal masih mengalir, tetapi hanya ke segmen yang lebih sempit dan terukur.
KPMG menyimpulkan bahwa era pendanaan mudah telah berakhir. Jika dekade sebelumnya menguntungkan para disrupter tercepat, fase berikutnya akan lebih berpihak pada perusahaan fintech dengan fondasi kuat, efisiensi operasional, dan kepatuhan regulasi yang jelas. (*AMBS)

















Discussion about this post