youngster.id - Menandai mundurnya arus modal secara struktural seiring investor semakin selektif dalam menyalurkan investasi baru, ekosistem teknologi Indonesia mengalami penurunan tajam pendanaan sepanjang 2025.
Perusahaan intelijen pasar Tracxn mencatat, total pendanaan yang dihimpun perusahaan teknologi Indonesia pada 2025 hanya mencapai US$213 juta. Angka ini turun 38% dibandingkan 2024 sebesar US$345 juta, serta merosot 85% dari puncak pendanaan US$1,4 miliar pada 2023.
“Penurunan terjadi di seluruh tahap pendanaan, mulai dari seed, early stage, hingga late stage. Kondisi ini menandakan pergeseran dari sekadar koreksi siklus menuju fase pengetatan modal yang lebih berkepanjangan,” ungkap Tracxn, dikutip Selasa (20/1/2026).
Tracxn juga mencatat aktivitas investasi terkonsentrasi pada jumlah transaksi yang jauh lebih sedikit. Investor disebut menerapkan “selektivitas ekstrem”, dengan fokus pada startup yang memiliki unit economics terbukti dan model bisnis yang defensif.
Pendanaan tahap akhir (late stage) mengalami penurunan terdalam, anjlok 45% secara tahunan menjadi US$79,8 juta, seiring investor institusional lebih memilih stabilitas perusahaan menengah dibandingkan ekspansi agresif tahap akhir. Pendanaan tahap seed mencapai US$26,4 juta, turun 18% dari 2024 dan 68% dibandingkan level 2023. Sementara itu, pendanaan tahap awal (early stage) merosot 37% menjadi US$107 juta.
Meski secara umum melemah, dana yang masih mengalir ke ekosistem teknologi Indonesia cenderung bergerak ke sektor-sektor yang lebih berwujud dan terkait infrastruktur. Food dan agritech menjadi sektor dengan pendanaan terbesar, mengantongi US$70,6 juta pada 2025, naik 72% dari 2024 meski masih jauh di bawah capaian 2023 sebesar US$280 juta. Retail tech menarik US$49 juta, meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan 2024, sementara energy tech memperoleh US$44,8 juta, menandai kembalinya minat investor setelah nihil pendanaan pada tahun sebelumnya.
Aktivitas exit tetap terbatas dan bersifat strategis. Indonesia hanya mencatat dua IPO teknologi pada 2025, yakni Superbank yang didukung Grab dan melantai pada Desember, serta agen perjalanan daring NusaTrip yang mencatatkan saham di Nasdaq. Jumlah ini sama dengan 2024, namun turun tajam dari lima IPO pada 2023.
Aktivitas akuisisi juga melemah dengan hanya sembilan transaksi sepanjang 2025, dibandingkan 14 transaksi dua tahun sebelumnya. Tidak ada pendanaan jumbo di atas US$100 juta, dan tidak muncul unicorn baru selama tahun tersebut. Dari sisi geografis, Jakarta tetap mendominasi hampir seluruh pendanaan teknologi nasional.
“Konsentrasi ini mencerminkan model investasi yang berpusat pada hub, di mana modal masih terkunci pada infrastruktur, talenta, dan kedekatan operasional di ibu kota,” pungkasnya.
Perlambatan pendanaan berlangsung di tengah sejumlah skandal yang mengguncang industri teknologi nasional pada 2025. Startup agritech eFishery, yang sebelumnya menjadi ikon ekonomi digital Indonesia, terseret isu tata kelola dan pelaporan keuangan yang memicu pengawasan ketat investor di seluruh sektor. Sebelumnya, startup rantai pasok TaniHub kolaps akibat dugaan salah kelola dan praktik pembiayaan bermasalah, meninggalkan kreditur dan mitra usaha dalam kondisi rentan. (*AMBS)
