youngster.id - Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan talenta digital. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperkirakan Indonesia membutuhkan lebih dari 9 juta talenta digital hingga 2030, sementara pasokan dari pendidikan formal diperkirakan hanya sekitar 6 juta talenta.
Kondisi ini membuat pengembangan kompetensi dan kolaborasi lintas sektor menjadi semakin penting. Kebutuhan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan menciptakan solusi digital yang relevan dengan kebutuhan industri.
Karena itu, penguatan ekosistem yang mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, startup, dan talenta diperlukan untuk mempercepat lahirnya inovasi sekaligus memperkuat sumber daya manusia digital Indonesia.
Menteri Komunikasi dan Digital RI Meutya Hafid mengatakan, Garuda Spark Innovation Hub (GSIH) dirancang sebagai ruang kerja bersama yang mempertemukan berbagai elemen ekosistem digital sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi talenta dan inovasi dari berbagai daerah.
“Keberhasilan GSIH tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan atau kolaborasi, tetapi dari output yang dihasilkan dan dampaknya bagi masyarakat. Dari BSD dan sepuluh kota mitra, kita ingin memastikan inovasi dan talenta digital dapat tumbuh di berbagai daerah, sehingga konektivitas dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan dan pada akhirnya memperkuat kedaulatan digital Indonesia,” ujar Meutya dalam peluncuran GSIH BSD City, dikutip Jumat (28/8/2026).
Melalui ekosistem tersebut, Ericsson turut memperkuat kolaborasi melalui 5G Innovation Center (5GIC). Ericsson dan Komdigi menandai kolaborasi tersebut melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) oleh President Director Ericsson Indonesia Nora Wahby dan Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi Sonny Hendra Sudaryana bersama sejumlah mitra ekosistem digital.
5GIC menjadi pusat open innovation yang berfokus pada pengembangan teknologi 5G, artificial intelligence (AI), dan Industry 4.0. Pusat inovasi ini mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, talenta, startup, komunitas, dan mitra ekosistem untuk mengembangkan solusi yang dapat menjawab kebutuhan industri.
President Director Ericsson Indonesia Nora Wahby mengatakan, keberadaan 5GIC di GSIH diharapkan dapat menjadi ruang bagi talenta dan pelaku inovasi untuk mengembangkan sekaligus menguji ide mereka.
“Melalui Ericsson 5G Innovation Center yang menjadi bagian dari GSIH, kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi terbuka untuk mengembangkan, menguji, dan memvalidasi solusi berbasis 5G, AI, dan Industry 4.0,” kata Nora.
Menurut Nora, ide yang lahir dari hackathon maupun kolaborasi ekosistem tidak seharusnya berhenti pada tahap prototipe. Melalui 5GIC, Ericsson ingin mendorong ide tersebut berkembang menjadi use case yang teruji, pilot project, hingga solusi yang siap dikembangkan dan diterapkan secara lebih luas.
Salah satu inovasi yang ditampilkan di 5GIC adalah MINERVA, platform industrial intelligence berbasis AI yang dikembangkan Future of Tech. MINERVA merupakan pemenang Hackathon Ericsson 2025 dan dirancang untuk mengubah data operasional menjadi actionable insights.
Kehadiran 5GIC sekaligus memperlihatkan bagaimana pengembangan talenta digital dapat diarahkan tidak hanya pada peningkatan keterampilan, tetapi juga pada penciptaan solusi teknologi yang memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan industri.
Peluncuran GSIH BSD City dihadiri sekitar 500 peserta dari unsur pemerintah, industri, akademisi, startup, dan investor. Sepuluh kota mitra GSIH juga terhubung dalam kegiatan secara hybrid.
Dengan mempertemukan talenta, startup, akademisi, pemerintah, dan industri dalam satu ekosistem, kolaborasi GSIH dan 5GIC diharapkan dapat mempercepat lahirnya inovasi lokal sekaligus membantu Indonesia mengejar kebutuhan talenta digital yang terus meningkat.
.
STEVY WIDIA
