youngster.id - Adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di kalangan pelaku usaha Indonesia terus meningkat. Studi terbaru Unlocking Indonesia’s AI Potential yang dirilis Amazon Web Services (AWS) bersama Strand Partners menunjukkan 40% bisnis di Indonesia kini telah mengadopsi AI, naik dari 28% pada tahun lalu atau tumbuh 43% secara tahunan.
Studi tersebut memperkirakan lebih dari 26 juta bisnis di Indonesia telah memanfaatkan AI. Peningkatan penggunaan AI tersebut mulai memberikan dampak nyata terhadap kinerja perusahaan, dengan 75% bisnis yang telah mengadopsi AI melaporkan peningkatan produktivitas. Selain itu, 73% responden memperkirakan AI akan menjadi pendorong pertumbuhan bisnis mereka dalam beberapa tahun mendatang.
Country Manager AWS Indonesia, Anthony Amni, mengatakan Indonesia kini memasuki fase baru dalam perjalanan transformasi AI. Menurutnya, peluang yang dihadirkan AI harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia agar manfaat teknologi tersebut dapat dimaksimalkan.
“Kita harus melihat bahwa ini adalah salah satu peluang yang paling besar untuk generasi muda, sebagaimana AI mengubah dunia, termasuk Indonesia, dan keterampilan baru pun sangat diperlukan,” kata Anthony pada gelar AWS Summit Jakarta 2026, Kamis (6/8/2026) di Jakarta.
Menurut Anthony, meski adopsi AI terus bertumbuh, laporan tersebut menunjukkan sebagian besar perusahaan masih berada pada tahap awal implementasi. Sebanyak 56% organisasi yang telah menggunakan AI masih berada dalam fase eksplorasi atau eksperimen, sedangkan hanya 12% yang telah mengintegrasikan teknologi tersebut secara penuh ke dalam operasional bisnis.
Kesiapan menghadapi gelombang teknologi AI berikutnya juga masih menjadi tantangan. Laporan AWS mencatat baru 14% perusahaan yang merasa siap mengadopsi teknologi seperti AI agentik, AI fisik, dan robotika canggih. Sementara itu, 56% pelaku usaha mengaku kekurangan keterampilan AI dan digital menjadi hambatan utama dalam memperluas penerapan AI di organisasi mereka.
Selain persoalan talenta, tata kelola AI juga masih perlu diperkuat. Hanya 16% organisasi yang telah memiliki fungsi tata kelola AI secara khusus, sementara baru 19% perusahaan yang memiliki kerangka kerja yang jelas untuk mengukur return on investment (ROI) dari implementasi AI. Sebanyak 47% responden menyebut penyusunan kerangka pengukuran tersebut menjadi prioritas berikutnya.
Melihat tantangan tersebut, Vice President of Governance & Compliance AWS Nandini Ramani menilai, investasi pada pengembangan talenta menjadi salah satu faktor penting agar Indonesia mampu memanfaatkan peluang AI secara maksimal.
“Sejak 2017, AWS telah membantu lebih dari 1,3 juta orang di Indonesia mengembangkan keterampilan cloud dan AI melalui berbagai program pelatihan, kolaborasi dengan institusi pendidikan, serta pengembangan tenaga kerja,” ungkapnya.
Pada Juni 2026, AWS meluncurkan program IndonesiapandAI, yang menyediakan pembelajaran mandiri (self-paced) mengenai cloud dan AI generatif dalam bahasa Indonesia secara gratis bagi masyarakat berusia 18 tahun ke atas tanpa memerlukan pengalaman sebelumnya.
AWS juga menghadirkan MAIN (Mastering AI for Nation-Building), program akselerator karier selama lima bulan bagi pekerja muda di Jawa Barat yang dikembangkan bersama Yayasan Alkademi, Ikatan Alumni ITB, dan BBPVP Bandung di bawah Kementerian Ketenagakerjaan.
Selain itu, AWS juga menjalankan berbagai program pengembangan talenta lainnya, seperti AWS Terampil di Awan, AWS CendekiAwan, AWS & Dicoding Back-End Academy dan AI Academy, AWS re/Start, AWS Academy, AWS Educate, serta AWS Skill Builder yang menyasar pelajar, mahasiswa, pendidik, pengembang perangkat lunak, hingga pekerja yang ingin beralih karier ke bidang teknologi.
“Kami menilai organisasi yang mampu membangun fondasi AI melalui strategi yang jelas, tata kelola yang baik, serta tenaga kerja yang memiliki keterampilan memadai akan lebih siap memanfaatkan gelombang inovasi AI berikutnya,” ucapnya.
Laporan tersebut juga menunjukkan sektor jasa keuangan dan layanan kesehatan menjadi dua industri yang paling maju dalam penerapan AI. Sebanyak 78% organisasi jasa keuangan melaporkan peningkatan produktivitas setelah mengadopsi AI.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post