youngster.id - Raksasa teknologi global, Amazon, mengumumkan komitmen investasi masif untuk memperkuat infrastruktur cloud (komputasi awan) dan artificial intelligence (AI/kecerdasan buatan) di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Total investasi yang dialokasikan untuk Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand tersebut diproyeksikan mencapai lebih dari US$33 miliar (atau sekitar Rp528 triliun) hingga tahun 2039.
Berdasarkan kajian dampak ekonomi yang dirilis Amazon, rangkaian investasi jangka panjang ini diproyeksikan mampu menyumbang lebih dari US$64 miliar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kolektif keempat negara tersebut. Selain itu, proyek ini diperkirakan akan menyerap lebih dari 56.300 tenaga kerja penuh waktu setiap tahunnya di dalam rantai pasok pusat data (data center) lokal.
Langkah strategis ini berjalan beriringan dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara (ASEAN), yang diperkirakan bakal menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia dengan nilai ekonomi digital menyentuh US$560 miliar pada tahun 2030.
“Kami membangun infrastruktur, melatih tenaga kerja lokal, dan memampukan bisnis di seluruh kawasan ini untuk bersaing secara global,” ujar David Zapolsky, Chief Global Affairs and Legal Officer Amazon, dikutip Jum’at (22/5/2026).
Zapolsky juga mengapresiasi kepemimpinan berani dari pemerintah di Asia Tenggara dalam merumuskan kebijakan yang mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi global di bidang AI dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sebagai bagian dari komitmennya, Amazon tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga fokus pada pengembangan kapasitas SDM (upskilling). Sejak tahun 2017, Amazon tercatat telah melatih 2.7 million individu di Asia Tenggara dalam bidang keahlian cloud, yang kini menjadi fondasi utama bagi adopsi AI di tingkat perusahaan.
Amazon kini aktif bekerja sama dengan pemerintah, institusi pendidikan, dan mitra industri untuk membangun jalur bakat digital (digital talent pipeline). Fokus utamanya adalah mencetak profesional berketerampilan tinggi seperti cloud architects, spesialis AI/machine learning (ML), serta data engineers.
“Pelatihan AI dan Cloud adalah faktor pemampu (enabler) yang paling penting, namun area ini justru menjadi tempat di mana sebagian besar negara masih kurang berinvestasi. Kami telah melatih 2,7 juta orang sejak 2017, namun kecepatannya perlu diakselerasi secara dramatis,” tambah Zapolsky.
Sejalan dengan target perusahaan untuk mencapai emisi nol bersih (net-zero carbon emissions) pada tahun 2040, Amazon turut menyuntikkan investasinya ke sektor energi hijau di Asia Tenggara.
Di Singapura, Amazon berinvestasi pada dua proyek energi terbarukan yang mampu memasok daya listrik bersih untuk hampir 20.000 rumah tangga setiap tahunnya. Sementara di Indonesia, Amazon mengukir kerja sama strategis dengan perusahaan listrik negara, PT PLN (Persero).
Kolaborasi ini melahirkan kesepakatan tarif hijau (green tariff agreement) berkapasitas 210 megawatt. Kerja sama ini menjadi yang pertama di jenisnya di Indonesia, yang memungkinan korporasi untuk membeli energi terbarukan secara langsung di dalam negeri.
Komitmen Amazon di Asia Tenggara sendiri telah mengakar sejak peluncuran Amazon Web Services (AWS) Region Singapura pada tahun 2010, disusul peluncuran toko Amazon.sg pada 2019. Sejak saat itu, Amazon terus memperdalam penetrasi pasarnya ke negara-negara tetangga dengan meluncurkan platformnya di Indonesia (2021), Malaysia (2024), dan Thailand (2025).
Hanya pada tahun 2025 saja, investasi gabungan Amazon di Asia Tenggara—mencakup infrastruktur dan kompensasi karyawan di lini bisnis Toko (Stores), AWS, Perangkat (Devices), hingga Hiburan (Entertainment)—telah menembus angka US$3 miliar. (*AMBS)
