youngster.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya mengatasi tantangan pilot trap di sektor industri manufaktur nasional. Pilot trap merupakan kondisi ketika inisiatif digitalisasi perusahaan berhenti pada tahap uji coba dan gagal diimplementasikan secara luas dalam operasional produksi.
Langkah konkret ini dilakukan melalui Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI 4.0), sebuah lembaga yang dibentuk di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin. Lembaga ini bertugas memberikan dukungan terstruktur guna memutus pola kegagalan digitalisasi, mengacu pada data McKinsey yang menunjukkan bahwa 79% perusahaan manufaktur global masih terjebak dalam fase tersebut.
Kepala BPSDMI Kemenperin, Masrokhan, menjelaskan bahwa pilot trap kerap terjadi akibat adopsi teknologi yang dilakukan tanpa rencana implementasi yang matang.
“PIDI 4.0 dibentuk untuk menjembatani kesenjangan antara aspirasi dan implementasi. Bukan sekadar memperkenalkan teknologi, tetapi memastikan penerapannya secara nyata. Peran kami melalui BPSDMI dan PIDI adalah memastikan transformasi dapat berlangsung secara berkelanjutan,” ujar Masrokhan, dikutip Jum’at (10/7/2026).
Cetak Ribuan Tenaga Kerja Digital dan Inovasi Lokal
Hingga akhir tahun 2024, PIDI 4.0 mencatatkan realisasi program dengan melatih 1.921 tenaga kerja dalam berbagai kompetensi digital strategis, seperti Internet of Things (IoT), data science, dan smart manufacturing. Selain itu, sebanyak 10 perusahaan telah menerima pendampingan penuh untuk perencanaan transformasi, serta 338 perusahaan mengakses demonstrasi teknologi secara real time.
Guna mempercepat adaptasi di pabrik skala menengah, Kemenperin juga memperkenalkan inovasi lokal berupa Industrial IoT SmartBox. Perangkat pemantau mesin ini melengkapi ekosistem PIDI 4.0 yang ditopang oleh lima pilar utama: Showcase Centre, Capability Centre, Delivery Centre, Artificial Intelligence and Engineering Centre, serta platform kolaborasi digital.
Masrokhan menegaskan bahwa intervensi ini tidak hanya menyasar korporasi besar di Pulau Jawa, melainkan juga menyentuh industri kecil dan menengah (IKM) di seluruh wilayah Indonesia lewat peta jalan (roadmap) yang disesuaikan dengan kapabilitas masing-masing.
Sektor Manufaktur Jadi Penopang Utama PDB Nasional
Urgensi penuntasan hambatan digitalisasi ini berkaitan erat dengan posisi krusial sektor manufaktur terhadap stabilitas ekonomi nasional. Pada kuartal pertama tahun ini, sektor manufaktur menyumbang 17,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nonmigas Indonesia dan menyerap sekitar 20 juta tenaga kerja. Sektor ini juga mencatatkan nilai ekspor sebesar US$196,54 miliar, menerima investasi senilai US$43 miliar (Rp697,5 triliun), serta berkontribusi 26% bagi penerimaan pajak nasional.
Presiden Direktur NEC Indonesia, Joji Yamamoto, memberikan pandangan bahwa keberhasilan negara maju seperti Jepang dan Jerman keluar dari pilot trap didorong oleh investasi berkelanjutan pada kesiapan digital SDM. Menurutnya, pelaku industri di Indonesia tidak perlu mendigitalisasi seluruh lini secara terburu-buru.
“Transformasi digital akan berhasil jika diperlakukan sebagai proses yang berkelanjutan, bukan proyek satu kali. Mulailah dari area yang spesifik dan bernilai tinggi, lalu lakukan perluasan secara bertahap dengan dukungan data dan keahlian yang memadai,” ungkap Joji Yamamoto melalui jawaban tertulis.
Melalui sinergi teknologi yang relevan dan kesiapan talenta yang terstruktur, Kemenperin optimistis digitalisasi mampu memperkuat daya saing ekosistem industri nasional secara inklusif.
STEVY WIDIA
