youngster.id - Riset global terbaru dari Bain & Company bertajuk Global Automotive Consumer Survey mengungkapkan bahwa adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam riset pembelian kendaraan di Indonesia mencatatkan angka tertinggi di dunia, yakni menembus lebih dari 90%.
Survei yang melibatkan lebih dari 12.000 pembeli mobil di seluruh dunia ini menyoroti bagaimana teknologi baru, termasuk AI, secara fundamental mengubah perilaku konsumen dalam membandingkan merek, model, dan fitur kendaraan. Di Asia, termasuk Indonesia dan China, konsumen menunjukkan keterbukaan yang jauh lebih tinggi terhadap inovasi teknologi dibandingkan konsumen di Amerika Serikat dan Eropa.
Global Automotive & Mobility Practice Leader di Bain & Company, Klaus Stricker, menjelaskan bahwa perjalanan konsumen dalam membeli kendaraan kini bertransformasi dengan cepat secara digital.
“Perjalanan membeli mobil berubah dengan cepat, tetapi yang mencolok adalah bagaimana konsumen di seluruh dunia merespons perubahan tersebut secara berbeda. Teknologi dapat menjadi pembeda yang kuat bagi sebagian pembeli, sementara bagi yang lain harga dan merek tetap menjadi penentu. Kami mendapati pembeli mobil semakin sering menggunakan AI untuk membandingkan merek, model, dan opsi,” ujar Klaus, Kamis (22/10/2026).
Perbedaan Perilaku Global: Faktor Harga vs Fitur Teknologi
Laporan Bain & Company menyoroti pergeseran tren preferensi konsumen yang signifikan berdasarkan wilayah geografis. Pertama, faktor harga masih menjadi pertimbangan utama bagi konsumen di Amerika Serikat dan Eropa, masing-masing sebesar 68% dan 62%. Di kawasan AS, tingkat loyalitas terhadap produsen lama (legacy automakers) juga tercatat masih yang paling kuat.
Kedua, kondisi berbeda terlihat di pasar China di mana faktor fitur dan teknologi justru mengungguli aspek harga dengan porsi mencapai 58%, didukung oleh adopsi AI lintas kelompok usia yang menyentuh hampir 80%.
Ketiga, terkait adopsi AI lintas generasi di Indonesia dan Asia, jika di negara maju seperti Jepang, Eropa, dan AS penggunaan AI masih terkonsentrasi pada kalangan pembeli muda, maka di Indonesia pemanfaatan AI untuk riset otomotif telah merata di berbagai kelompok usia hingga melampaui angka 90%.
Minat Tinggi pada Mobil Listrik (BEV) dan Kendaraan Otonom
Survei juga mencatat tingginya minat konsumen terhadap kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicles / BEV), terutama di kalangan generasi muda (Generasi Y dan Z). Namun, kendala utama bagi konsumen yang masih ragu beralih ke BEV adalah masalah biaya dan keterbatasan infrastruktur pengisian daya (charging). Di AS dan Eropa, sekitar 6 dewan dari 10 pembeli enggan membayar lebih mahal untuk BEV dibandingkan mobil konvensional.
Selain elektrifikasi, minat terhadap teknologi pengemudian otonom (autonomous driving) tercatat sangat kuat di kawasan Asia dan Timur Tengah, jauh melampaui Eropa dan AS. Sebanyak 84% konsumen China tertarik membeli kendaraan dengan otonomi Level 3 (L3) atau lebih tinggi, dengan tingkat antusiasme serupa yang juga terlihat di Indonesia, India, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Tingginya minat terhadap teknologi canggih ini diprediksi akan mengikis loyalitas merek tradisional. Konsumen yang mendambakan fitur canggih terbukti lebih terbuka untuk beralih ke merek produsen baru jika menawarkan fungsionalitas berkendara yang lebih unggul. (*AMBS)

















Discussion about this post