youngster.id - Sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia mencatatkan nilai gross merchandise value (GMV) US$99 miliar pada 2025. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi US$180 miliar pada 2030. Potensi tersebut perlu diperkuat dengan membangun kepercayaan investor melalui kolaborasi pemerintah, pelaku industri, perusahaan rintisan, dan komunitas teknologi.
Hal ini mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar Bali Tech Week (BTW) 2026. Program ini membidik peluang investasi di sektor teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid mengatakan, Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi digital dengan nilai mencapai US$99 miliar pada 2025 atau tumbuh 14%. Potensi tersebut perlu diperkuat dengan membangun kepercayaan investor melalui kolaborasi pemerintah, pelaku industri, perusahaan rintisan, dan komunitas teknologi.
“Kita pahami bahwa kita tidak bisa membangun kepercayaan dari investor itu sendirian. Ini adalah kerja-kerja kolaboratif yang memerlukan banyak pihak,” kata Meutya dalam jumpa pers, Road to Bali Tech Week 2026, Selasa (13/10/2026) di Jakarta.
Bali Tech Week 2026 yang mengusung tema “Archipelago Ascending- Advance Together, Innovate Further akan berlangsung pada 19-23 Oktober 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali. Acara ini menargetkan kehadiran 4.000 peserta, termasuk 1.000 delegasi internasional dari 37 negara.
Menurut Meutya, Indonesia dapat memanfaatkan momentum dengan mengejar ketertinggalan dan memperkuat posisinya di tengah dominasi negara-negara besar, seperti Amerika Serikat dan China.
“Disrupsi teknologi membuat kita justru bisa memotong jalur, ibaratnya lewat jalur cepat. Kita bisa maju ke depan untuk kemudian mengikuti dan menyeimbangkan posisi kita selama ini,” ujarnya.
Dia juga berharap penyelenggaraan Bali Tech Week dapat memperoleh dukungan dari berbagai pihak sehingga mampu meningkatkan posisi Indonesia dalam peta transformasi digital global. Selain itu, Bali Tech Week 2026 tidak hanya menjadi ajang mempertemukan investor dengan pelaku industri teknologi, tetapi juga ruang bagi pemerintah untuk menyerap masukan dari industri dalam merumuskan kebijakan yang mendukung iklim investasi.
“Kami juga memastikan bahwa dalam event ini ingin mendapat banyak masukan mengenai regulasi. Jadi, regulasi kita ingin hadir dengan masukan banyak pihak termasuk industri, sehingga regulasi yang akan kita keluarkan adalah regulasi yang tidak membuat kaget, regulasi yang terprediksi, sehingga investor akan nyaman,” ujar Meutya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kemkomdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, akan ada 13 agenda konferensi dan kegiatan yang mencakup berbagai sektor dalam ekosistem digital seperti konektivitas, keamanan siber, kecerdasan artifisial, gim, dan teknologi finansial.
“Bali Tech Week dirancang sebagai platform teknologi terpadu yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari komunitas perusahaan rintisan (startup), industri gim, kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), keamanan siber, aset digital, infrastruktur teknologi, pembuat kebijakan, hingga investor,” ungkapnya.
Saat ini, sebanyak 1.785 peserta telah terdaftar untuk mengikuti Bali Tech Conference dari 30 negara antara lain Indonesia, Amerika Serikat, Tiongkok, Australia, dan India. Kemkomdigi menargetkan kegiatan ini diikuti oleh 4.000 peserta.
“Diharapkan ini akan menjadi event yang sangat bermanfaat buat kita semua, apalagi dalam menggairahkan kembali iklim investasi, terutama ekonomi digital,” kata Edwin.
Sementara itu, Direktur Network Telkom, Budi Satria Dharma Purba, mendukung penuh perhelatan Bali Tech Week 2026 tersebut. Pasalnya, acara tersebut sesuai dengan fokus Telkom Group untuk terus mengembangkan infrastruktur digital serta iklim investasi yang kondusif.
“Kami melihat bahwa Bali Tech Week ini menjadi sangat relevan untuk hal ini. Karena ini adalah platform yang mempertemukan kita semua, baik dari pemerintah, pelaku usaha, penyedia teknologi, investor, yang punya potensi untuk hadir di sana,” tutur Budi.
Sementara dari sektor telekomunikasi, Direktur Utama Telkomsel Nugroho menilai operator perlu mencari sumber pertumbuhan baru di tengah persaingan yang semakin ketat. Menurut dia, peningkatan kualitas dan cakupan jaringan harus disertai pengembangan layanan digital yang memberikan nilai tambah kepada pelanggan.
“Kami tidak bisa hanya mengandalkan konektivitas. Kualitas dan cakupan jaringan terus kami tingkatkan. Namun, di atas itu ada layanan di luar konektivitas yang akan menjadi sumber pertumbuhan berikutnya,” ujarnya.
Penguatan ekosistem juga menjadi perhatian perusahaan teknologi. Direktur Utama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, Hans Patuwo mengatakan, pertumbuhan perusahaannya berkaitan dengan perkembangan ekosistem teknologi Indonesia, termasuk layanan yang menjawab kebutuhan konsumen, mitra pengemudi, dan pedagang.
Hans menilai kolaborasi antara perusahaan dan pemerintah diperlukan untuk mendukung perkembangan industri teknologi dalam negeri.
“Jika seluruh ekosistem teknologi di Indonesia tumbuh, kami juga akan ikut tumbuh. Kami merasa bertanggung jawab untuk membantu, mendukung, dan bekerja sama dengan pemerintah maupun pihak lain guna meningkatkan ekosistem teknologi di Indonesia,” ujarnya.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post