youngster.id - Pengembangan kecerdasan buatan (AI) mulai diarahkan Indonesia tidak hanya untuk mempercepat adopsi teknologi, tetapi juga membangun kemampuan nasional dalam menciptakan dan mengembangkan solusi AI. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kedaulatan AI, produktivitas sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid mengatakan, teknologi digital semakin penting untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% pada 2029. Untuk mencapainya, Indonesia membutuhkan peningkatan produktivitas, efisiensi investasi, serta daya saing ekonomi.
Menurut Meutya, transformasi digital tidak cukup hanya ditandai dengan meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang digital. Ekosistem digital juga harus mampu menghasilkan produktivitas, inovasi, lapangan kerja berkualitas, serta memperkuat kemampuan teknologi nasional.
“Pengembangan AI tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan untuk mengadopsi teknologi yang dikembangkan negara lain,” kata Meutya dalam pernyataan tertulis,dikutip Senin (17/8/2026).
Karena itu, Indonesia perlu membangun kemampuan sendiri melalui riset, pengembangan talenta, kapasitas komputasi, dan inovasi. Kemampuan tersebut penting agar pemanfaatan AI dapat menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus perekonomian nasional.
Ekonomi Digital Besar, Kapabilitas AI Perlu Diperkuat
Potensi ekonomi digital menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong penguatan ekosistem AI nasional. Meutya mengutip laporan e-Conomy SEA 2025 yang mencatat nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$99 miliar atau sekitar Rp1.770,3 triliun pada 2025.
Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$340 miliar atau sekitar Rp6.079,8 triliun pada 2030. Pemerintah juga menargetkan ekonomi digital dapat berkontribusi 19% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2045.
Namun, besarnya aktivitas ekonomi digital dinilai belum cukup jika tidak diikuti peningkatan produktivitas dan kemampuan teknologi nasional. Karena itu, penguatan konektivitas, pusat data, cloud, dan kapasitas komputasi perlu berjalan bersama dengan pengembangan inovasi dan sumber daya manusia.
Dalam upaya memperkuat ekosistem AI, Kementerian Komdigi mengembangkan Indonesia AI Center of Excellence. NVAITC Joint Center menjadi bagian dari inisiatif tersebut dengan mempertemukan perguruan tinggi, industri, mitra teknologi, dan pemerintah.
Pusat tersebut didukung fasilitas GPU Merdeka yang memberikan akses komputasi berperforma tinggi kepada mahasiswa dan peneliti melalui skema GPU-as-a-Service.
Talenta AI Disiapkan untuk Persoalan Nasional
Pembangunan infrastruktur teknologi juga diikuti pengembangan talenta. Kementerian Komdigi bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) untuk menyiapkan praktisi dan spesialis AI.
Program tersebut menggunakan studi kasus dunia nyata dengan pendampingan akademisi internasional dan praktisi industri. Peluncuran angkatan kedua AITF dilakukan bersamaan dengan peresmian NVAITC Joint Center.
Talenta yang dikembangkan diarahkan untuk menghasilkan solusi atas berbagai persoalan nasional. Sejumlah proyek yang dikembangkan antara lain Tech4Disaster untuk mitigasi bencana, SmartAgri untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan efisiensi irigasi, serta e-Nose TB untuk membantu skrining tuberkulosis secara non-invasif.
Menurut Meutya, pengembangan tersebut menunjukkan bahwa talenta Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi global, tetapi juga perlu mampu menciptakan solusi yang relevan bagi kebutuhan dalam negeri sekaligus memenuhi standar global.
Kedaulatan AI Bukan Berarti Menutup Diri
Meski mendorong kemampuan nasional, Meutya menegaskan bahwa membangun kedaulatan AI bukan berarti Indonesia harus mengembangkan seluruh teknologi secara mandiri atau menutup diri dari teknologi global.
Kolaborasi dengan perusahaan dan mitra teknologi global tetap dibutuhkan, sepanjang kerja sama tersebut dapat memperkuat kemampuan dan kepentingan nasional.
Ke depan, NVAITC Joint Center diharapkan tidak berhenti sebagai fasilitas teknologi. Pusat tersebut ditargetkan menghasilkan talenta AI yang kompeten, riset terapan, solusi yang digunakan masyarakat dan industri, serta inovasi dan kekayaan intelektual yang dikembangkan di Indonesia.
Dengan demikian, pembangunan AI nasional diarahkan bukan sekadar untuk memperluas penggunaan teknologi, tetapi juga membangun kemampuan Indonesia dalam menghasilkan solusi AI yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian.
STEVY WIDIA
