youngster.id - Di tengah melonjaknya tren perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri, platform pengajuan visa digital SPUN resmi mengumumkan kolaborasi strategis dengan Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE), Privy. Langkah ini diambil guna mengatasi hambatan klasik pengurusan izin masuk negara asing yang selama ini identik dengan prosedur dokumen yang rumit dan berulang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2026, perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri mengalami lonjakan signifikan sebesar 36,26% secara tahunan (Year-on-Year/YoY) hingga menyentuh angka 793,16 ribu perjalanan. Pertumbuhan ini memicu kebutuhan akan sistem pengurusan dokumen perjalanan yang lebih efisien dan terintegrasi.
Melalui kerja sama ini, SPUN menjadi platform pengajuan visa pertama yang memanfaatkan basis data identitas digital tersertifikasi milik Privy. Pengguna kini dapat langsung melakukan pengurusan dokumen menggunakan fitur Login with Privy di situs resmi SPUN atau mengakses langsung lewat menu PrivyHub di aplikasi Privy tanpa perlu melakukan registrasi ulang dari awal.
CEO dan Co-Founder SPUN, Christa Sabathaly, menjelaskan bahwa adopsi integrasi ini berjalan cukup cepat dengan mencatatkan ribuan pengguna baru pada bulan pertama peluncurannya. Menurutnya, masalah utama penolakan atau hambatan visa sering kali bukan karena pemohon tidak memenuhi syarat, melainkan akibat kesalahan pengisian administrasi yang berbelit-belit.
“Dengan integrasi SPUN ke dalam fitur PrivyHub di aplikasi Privy, pengguna yang sudah terverifikasi di Privy bisa langsung mengakses layanan SPUN tanpa harus memulai dari awal. Kami mengelola pengajuan secara digital untuk lebih dari 400 jenis visa di 90 negara, lengkap dengan pendampingan dokumen dan garansi sesuai ketentuan,” ujar Christa, Jum’at (19/6/2026).
Sementara itu, CEO & Founder Privy, Marshall Pribadi, menekankan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk implementasi nyata dari digital trust (kepercayaan digital) di Indonesia. Integrasi ini memastikan keabsahan data pengguna sekaligus mempercepat verifikasi tanpa mengorbankan aspek keamanan siber.
Guna memperluas edukasi mengenai platform digital ini, SPUN dan Privy menggelar aktivasi interaktif di Stasiun MRT Blok A, Jakarta Selatan, yang berlangsung sejak 8 Juni hingga 7 Juli 2026. Proyek ini juga menggandeng beberapa mitra ekosistem luar negeri seperti ChinaGo dan organisasi pertukaran pelajar AFS Bina Antar Budaya.
Pemilihan stasiun transportasi publik sebagai lokasi edukasi dinilai tepat untuk menjangkau target pasar yang dinamis, mulai dari kalangan profesional, pelajar internasional, hingga pelancong keluarga.
Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta (Perseroda), Farchad Mahfud, menyambut positif pemanfaatan ruang publik ini.
“Kehadiran SPUN dan Privy di Stasiun MRT Blok A menjadi salah satu contoh bagaimana stasiun dapat dimanfaatkan untuk mendekatkan layanan digital kepada masyarakat melalui akses yang mudah, nyaman, dan terintegrasi dengan aktivitas sehari-hari,” tutur Farchad.
Meskipun efisiensi penyiapan dokumen kini terpangkas secara digital, keberhasilan akhir dari persetujuan visa tetap menjadi otoritas penuh dari kedutaan besar negara tujuan masing-masing pihak pemohon. Namun, kehadiran ekosistem digital ini diharapkan mampu menekan potensi malpraktik jasa perantara visa ilegal yang kerap merugikan konsumen.
STEVY WIDIA
