youngster.id - Perjalanan satu dekade pengembangan super app di Indonesia telah mencapai titik balik baru. GoTo, super app pelopor di Indonesia, memilih memusatkan bisnisnya pada layanan pembayaran, pinjaman, dan on-demand. Langkah penyusutan fokus ini terbukti berhasil membuahkan hasil: GoTo mencatatkan EBITDA yang disesuaikan sepanjang tahun 2025 sebesar Rp2 triliun (naik 544%) serta membukukan laba pra-pajak disesuaikan pertamanya pada kuartal ketiga 2025.
Meski demikian, capaian GoTo yang menjangkau lebih dari 27 juta pengguna bertransaksi bulanan menunjukkan bahwa kebiasaan harian (daily habit) pengguna di Indonesia berakar pada segmen layanan berfrekuensi tinggi seperti pembayaran dan transportasi, bukan pada banyaknya fitur.
Kondisi tersebut melahirkan tantangan tersendiri bagi sektor telekomunikasi. Dengan 331 juta koneksi seluler aktif—setara 116% dari total populasi—operator seluler memegang jaringan distribusi terbesar di Indonesia. Namun, aplikasi resmi milik operator umumnya hanya diakses beberapa menit saja dalam sebulan oleh para pengguna.
Tantangan Sektor Telekomunikasi Pasca-Konsolidasi
Guna mempererat keterlibatan pengguna, Telkomsel meluncurkan kembali MyTelkomsel sebagai super app yang menggabungkan fitur kesehatan, perjalanan, pembayaran, hiburan, hingga belanja. Langkah ini berhasil menarik lebih dari 40 juta pengguna aktif bulanan dari total 157,6 juta pelanggan. Meski demikian, mayoritas pelanggan masih bersentuhan dengan operator sebatas untuk transaksi pengisian ulang (top-up).
Tekanan bisnis bagi operator kini semakin nyata. Setelah merger XL Axiata dan Smartfren rampung, pasar telekomunikasi Indonesia terakselerasi menjadi tiga operator utama: Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XLSmart. Berakhirnya perang harga harga paket data turut mendorong pemulihan Average Revenue Per User (ARPU). ARPU Telkomsel tercatat naik 5,2% secara kuartalan menjadi Rp43.400 pada kuartal ketiga 2025.
Namun, laporan PwC Indonesia edisi Juni 2026 memperkirakan pertumbuhan industri telekomunikasi berada di kisaran satu digit menengah hingga tahun 2030, di mana sekitar 97% pelanggannya merupakan pengguna prabayar yang sangat sensitif terhadap harga.
Riset Global Telecom Study 2026 dari Simon-Kucher mengungkapkan bahwa pengguna aplikasi operator memiliki customer lifetime value 17% lebih tinggi. Selain itu, peserta program engagement dapat meningkatkan lifetime value hingga 20% serta mengerek ARPU sebesar 19%.
Infrastruktur ‘White-Label’ dan Monetisasi Waktu Pengguna
Melihat celah tersebut, penyedia infrastruktur white-label seperti The Binary Holdings (TBH) mengoperasikan platform terintegrasi di dalam aplikasi mitra, seperti Daily Rewards di MyTelkomsel, The Binary Hub di Indosat Ooredoo Hutchison, dan Fando di GoPay.
Melalui platform ini, aktivitas harian pengguna seperti menonton video pendek, bermain gim kasual, hingga menjelajah marketplace dapat diubah menjadi poin reward. Poin tersebut nantinya dapat ditukarkan dengan pulsa, kuota data, hingga voucher belanja. Seluruh insentif ini didanai oleh iklan dan pengiklan merchant, tanpa menambah beban biaya pengguna.
Saat ini, jaringan TBH memproses sekitar 1,8 miliar transaksi mikro per bulan di Indonesia dan beberapa negara berkembang lainnya.
Founder dan CEO The Binary Holdings, Manit Parikh, menyoroti pentingnya menciptakan rantai perolehan poin (earning loop) yang konsisten bagi para pelanggan prabayar.
“Indonesia sudah menjalankan eksperimen super app, dan hasilnya jelas: para pemenang mencapai profitabilitas dengan menyusut, bukan dengan menambah fitur,” kata Manit, dikutip Selasa (4/8/2026).
“Operator duduk di atas jaringan distribusi terbesar di negeri ini tetapi hanya memegang perhatian pengguna sekitar dua menit dalam sebulan. Anda tidak bisa tumbuh dengan menaikkan harga ketika 97% dari basis pelanggan Anda adalah prabayar. Brand dan merchant-lah yang mendanai engagement tersebut. Pelanggan menonton video, mengumpulkan poin, lalu menukarnya tanpa mengeluarkan uang ekstra, sementara operator memperoleh lini pendapatan baru dari waktu yang dihabiskan pengguna,” pungkas Manit. (*AMBS)
