youngster.id - Investasi teknologi di kawasan Asia Pasifik diprediksi akan menembus angka fantastis sebesar US$437 miliar (sekitar Rp6.900 triliun) dalam periode 2025 hingga 2030. Berdasarkan laporan terbaru Forrester’s Asia Pacific Tech Market Forecast 2026-2030, Indonesia menjadi salah satu motor penggerak utama dengan proyeksi pertumbuhan belanja teknologi mencapai 12,5% pada tahun 2026.
Angka pertumbuhan Indonesia ini melampaui rata-rata regional dan hanya kalah tipis dari Vietnam (15,4%) di pasar Asia Tenggara (Filipina 12,3%, Malaysia 9,5%, Thailand 6,8%, Singapura 6,0%). Secara keseluruhan, belanja teknologi di Asia Pasifik diperkirakan tumbuh 9,3%, didorong oleh investasi besar-besaran pada perangkat lunak (software), layanan TI, dan peralatan komunikasi.
Laporan Forrester menyoroti pergeseran strategi ekonomi digital di Asia Tenggara, dari yang sebelumnya fokus pada akuisisi pengguna menjadi monetisasi. Pendapatan layanan digital di kawasan ini menyentuh angka US$11 miliar pada 2024, melonjak 2,5 kali lipat dibandingkan tahun 2022.
Beberapa faktor kunci yang mendorong pertumbuhan di Indonesia dan tetangganya meliputi: Interoperabilitas QR Code lintas negara, dengan mempercepat digitalisasi sektor keuangan; Adopsi Industri 4.0, dengan terus berkembang pesat di Indonesia, Vietnam, dan Thailand; Pusat Data AI, melalui investasi pada infrastruktur cloud dan pusat data yang dioptimalkan untuk AI.
Meski angka pertumbuhan terlihat menjanjikan, Frederic Giron, VP dan Senior Research Director Forrester, memperingatkan adanya realitas yang kompleks.
“CIO (Chief Information Officer) di seluruh kawasan sedang berjuang menghadapi inflasi perangkat lunak, volatilitas harga perangkat keras, dan perbedaan regulasi yang berdampak langsung pada rencana modernisasi,” ujar Giron, Kamis (26/3/2026).
Di Singapura, misalnya, pertumbuhan tertahan di angka 6% akibat kelangkaan talenta AI yang signifikan. Sementara itu, Australia menghadapi kenaikan harga software hingga lima kali lipat dari tingkat inflasi umum karena vendor mulai menyisipkan kemampuan AI dalam kontrak pembaruan.
Selain masalah internal industri, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi ancaman makro. Kenaikan biaya energi diprediksi akan menekan PDB negara-negara Asia yang bergantung pada impor minyak, yang pada akhirnya bisa memperketat anggaran TI perusahaan.
Forrester menyarankan para pemimpin teknologi untuk mengalihkan fokus pada investasi yang sangat tertarget, seperti otomatisasi dan platform berbasis AI, guna memastikan peningkatan produktivitas yang terukur di tengah ketidakpastian ekonomi. (*AMBS)
