youngster.id - Di tengah kebutuhan industri terhadap talenta AI dan cloud computing yang terus meningkat, lebih dari 160 mahasiswa terbaik Asia Pasifik berkumpul di Jakarta dalam ajang 10th Huawei ICT Competition Asia Pacific Finals 2026. Kompetisi teknologi tingkat regional ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan mereka di bidang jaringan, cloud, komputasi, hingga inovasi digital.
Ajang kompetisi hasil kolaborasi Huawei dan ASEAN Foundation tersebut diikuti lebih dari 8.000 mahasiswa dari berbagai negara Asia Pasifik. Setelah melalui proses seleksi ketat, sebanyak 160 finalis berhasil melaju ke babak final regional yang digelar di Jakarta.
Sekretaris Jenderal ASEAN Dr Kao Kim Hourn menilai, generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan daya saing ekonomi digital ASEAN di masa depan.
“Masa depan ASEAN tidak hanya akan dibentuk oleh teknologi itu sendiri, tetapi juga oleh orang-orang di baliknya: para inovator muda, programmer, insinyur, pengembang, dan pemimpin digital,” ujar Dr. Kao Kim Hourn dalam acara yang digelar Rabu (13/5/2026) di Sekretariat ASEAN, Jakarta.
Menurutnya, talenta digital kini bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan fondasi utama pertumbuhan ekonomi digital kawasan. Untuk itu, kompetisi ini hadir di tengah pesatnya perkembangan AI dan transformasi digital yang membuat kebutuhan terhadap talenta teknologi semakin tinggi di kawasan ASEAN.
“Tak hanya menjadi arena kompetisi, Huawei ICT Competition juga sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri digital global,” ungkapnya.
Vice President Huawei Asia Pacific, Peter Pan Junfeng, mengatakan para peserta bukan hanya sekadar kompetitor, tetapi juga calon pemimpin digital yang akan menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan nyata di masa depan.
“Tantangan yang Anda hadapi di sini mencerminkan persoalan nyata di dunia, dan kreativitas serta tekad Anda akan membantu membentuk solusi yang dapat membangun masyarakat yang lebih baik,” kata Junfeng.
Ia menjelaskan penyelenggaraan tahun ini menjadi penanda satu dekade Huawei ICT Competition digelar di kawasan Asia Pasifik. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2015, program ini telah melibatkan lebih dari 170.000 mahasiswa dari 2.000 universitas di 80 negara.
Selain mendorong inovasi, kompetisi ini juga diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara institusi pendidikan, industri teknologi, dan pemerintah dalam mempersiapkan talenta digital masa depan. Di tengah perkembangan AI yang semakin masif, ajang ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa dan talenta digital muda dari Indonesia mampu bersaing di level internasional.
Pada kompetisi tahun ini, mahasiswa Indonesia berhasil mencatatkan prestasi di tingkat regional. Tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) sukses meraih Grand Prize kategori Network Track, mengungguli peserta dari berbagai negara Asia Pasifik. Prestasi Indonesia juga datang dari Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung yang berhasil membawa pulang penghargaan juara kedua regional pada kategori network track.
Tak hanya mahasiswa, Indonesia juga meraih penghargaan pada kategori Teaching Competition melalui Dr. Husni Teja Sukmana dari APTIKOM yang berhasil membawa pulang Grand Prize.
Selain Indonesia, Vietnam juga mendominasi kompetisi dengan memenangkan kategori Cloud Track dan Computing Track. Sementara Institute of Technology of Cambodia keluar sebagai juara Innovation Track.
STEVY WIDIA


















Discussion about this post