Kamis, 14 Mei 2026
No Result
View All Result
youngster.id
Pratesis Ads
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
No Result
View All Result
Home News Industry

6 Dari 10 Anak Muda Andalkan Teknologi AI Untuk Swadiagnosis Masalah Kesehatan

14 Mei 2026
in Industry
Reading Time: 2 mins read
6 Dari 10 Anak Muda Andalkan Teknologi AI Untuk Swadiagnosis Masalah Kesehatan

Pendiri Health Collaborative Center Dr dr Ray Wagiu Basrowi MKK FRSPH. (Foto: stevywidia/youngster.id)

0
SHARES
0
VIEWS

youngster.id - Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Di tengah kemudahan akses informasi digital, masyarakat kini bisa mencari hampir semua hal hanya lewat smartphone, termasuk informasi kesehatan dan kemungkinan diagnosis penyakit.

Fenomena ini semakin banyak terjadi di kalangan anak muda urban. Alih-alih langsung berkonsultasi ke dokter saat mengalami keluhan kesehatan, sebagian besar justru memilih mencari jawaban melalui Google, media sosial, hingga mesin pencari berbasis AI.

Studi terbaru Health Collaborative Center (HCC) mengungkap sekitar 6 dari 10 anak muda urban di Indonesia lebih memilih melakukan swadiagnosis dibanding langsung pergi ke tenaga medis saat mengalami gangguan kesehatan.

“Fenomena swadiagnostik meningkat tajam sejak era digital karena akses informasi kesehatan sekarang sangat mudah diperoleh hanya lewat internet dan media sosial,” kata Dr dr Ray Wagiu Basrowi MKK FRSPH Ketua Peneliti dan Pendiri HCC pada jumpa pers Rabu (13/5/2026) di Jakarta.

Dia menerangkan, penelitian ini berlangsung pada Maret hingga April 2026 dan melibatkan 448 responden dari berbagai kota urban di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, hingga Yogyakarta. Mayoritas responden berasal dari kelompok usia produktif dengan akses internet harian yang sangat tinggi.

“Dalam studi tersebut, sebanyak 59,8% responden usia di bawah usia 40 tahun mengaku lebih memilih mencari diagnosis sendiri ketika mengalami keluhan kesehatan. Bahkan, responden dengan riwayat penyakit kronis disebut memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar melakukan swadiagnosis dibanding langsung berkonsultasi ke dokter,” ungkap Ray.

Studi HCC juga menemukan Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis anak muda urban Indonesia. Sementara website kesehatan menjadi sumber kedua yang paling sering digunakan.  Sementara, keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernapasan, kardiovaskular, pencernaan, hingga psikologis.

Menurut Ray fenomena ini berangkat dari  kemudahan akses informasi. Hal ini membuat banyak orang merasa lebih nyaman mencari jawaban sendiri dibanding harus datang ke fasilitas kesehatan.

Data menunjukkan, 53,7% responden mengaku lebih nyaman melakukan swadiagnosis karena dianggap lebih praktis, hemat biaya, dan tidak perlu antre di fasilitas kesehatan.

“Sebagian masyarakat merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu panjang, antre, biaya tambahan, dan energi emosional. Akhirnya internet dianggap lebih praktis, lebih cepat, lebih murah, dan terasa lebih personal,” ucapnya.

Menurutnya, perilaku ini tidak selalu sepenuhnya buruk, tetapi bisa menjadi masalah ketika masyarakat terlalu bergantung pada informasi digital tanpa melakukan pemeriksaan medis secara langsung.  Apalagi dalam penelitian tersebut menemukan, 36% responden memilih melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa berkonsultasi ke dokter setelah melakukan swadiagnosis.

Bahkan, sekitar 27% responden mengaku tidak melanjutkan pengobatan dokter karena informasi yang ditemukan di internet dianggap bertentangan dengan resep atau diagnosis tenaga medis.

“Risiko terbesar dari swadiagnosis adalah keterlambatan penanganan medis, overdiagnosis, hingga munculnya distrust terhadap sistem kesehatan apabila informasi yang diperoleh tidak tervalidasi dengan baik,” kata Ray menegaskan.

Meski begitu, studi ini juga menunjukkan kepercayaan terhadap dokter sebenarnya masih cukup tinggi. Sekitar 47,9% responden mengaku tetap memercayai tenaga kesehatan, meskipun mereka masih mencari konfirmasi tambahan melalui internet.

Ray menilai kondisi ini menunjukkan pentingnya peningkatan literasi kesehatan digital di tengah perkembangan AI dan teknologi informasi yang semakin pesat.

“AI dan internet seharusnya menjadi alat bantu untuk meningkatkan kesadaran kesehatan, bukan menggantikan peran konsultasi medis profesional,” ujarnya.

Melalui studi ini, HCC mendorong pentingnya edukasi literasi kesehatan digital agar masyarakat, khususnya generasi muda urban, lebih bijak dalam memilah informasi kesehatan di era digital.

“Ke depan, tantangannya bukan melarang masyarakat mencari informasi kesehatan di internet. Itu hampir mustahil. Tantangannya adalah bagaimana negara, tenaga kesehatan, platform digital, dan institusi pendidikan membangun literasi kesehatan digital yang sehat dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Health Collaborative Center merupakan lembaga kajian dan kolaborasi kesehatan yang berfokus pada isu kesehatan masyarakat, perilaku kesehatan, kesehatan mental, literasi kesehatan, dan transformasi sistem kesehatan di Indonesia.

 

 

STEVY WIDIA

Tags: Health Collaborative Center (HCC))swadiagnosistenaga medis
Previous Post

Halodoc Luncurkan Halofit, Program Manajemen Berat Badan dengan Pendekatan Digital

Next Post

Talenta AI Muda Asia Pasifik Adu Inovasi di Huawei ICT Competition 2026

Related Posts

Tokopedia, OVO dan Grab Bersatu Perangi COVID-19
Headline

Grab Sediakan 2.000 Layanan Transportasi Bagi Tenaga Medis

3 April 2020
0
Load More
Next Post
Talenta AI Muda Asia Pasifik Adu Inovasi di Huawei ICT Competition 2026

Talenta AI Muda Asia Pasifik Adu Inovasi di Huawei ICT Competition 2026

Discussion about this post

Recent Updates

Talenta AI Muda Asia Pasifik Adu Inovasi di Huawei ICT Competition 2026

Talenta AI Muda Asia Pasifik Adu Inovasi di Huawei ICT Competition 2026

14 Mei 2026
6 Dari 10 Anak Muda Andalkan Teknologi AI Untuk Swadiagnosis Masalah Kesehatan

6 Dari 10 Anak Muda Andalkan Teknologi AI Untuk Swadiagnosis Masalah Kesehatan

14 Mei 2026
Halodoc Luncurkan Halofit, Program Manajemen Berat Badan dengan Pendekatan Digital

Halodoc Luncurkan Halofit, Program Manajemen Berat Badan dengan Pendekatan Digital

14 Mei 2026
AI Berkembang Pesat, Guru Tetap Jadi Kunci Pendidikan Masa Depan

AI Berkembang Pesat, Guru Tetap Jadi Kunci Pendidikan Masa Depan

14 Mei 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

27 Juni 2019
Sayurbox x Blitz

Sayurbox Gunakan Motor Listrik Blitz untuk Layanan Pengiriman

10 Januari 2024
Startup Hayokerja

Startup HayoKerja Hadirkan Solusi PHL bagi Perusahaan Pencari Tenaga Kerja

25 September 2023
fraud KoinP2P - KoinWorks

Gara-Gara Kasus Fraud KoinP2P, Rusak KoinWorks Sebelanga

22 November 2025
Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

0
Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

0
Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

0
Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

0
Talenta AI Muda Asia Pasifik Adu Inovasi di Huawei ICT Competition 2026

Talenta AI Muda Asia Pasifik Adu Inovasi di Huawei ICT Competition 2026

14 Mei 2026
6 Dari 10 Anak Muda Andalkan Teknologi AI Untuk Swadiagnosis Masalah Kesehatan

6 Dari 10 Anak Muda Andalkan Teknologi AI Untuk Swadiagnosis Masalah Kesehatan

14 Mei 2026
Halodoc Luncurkan Halofit, Program Manajemen Berat Badan dengan Pendekatan Digital

Halodoc Luncurkan Halofit, Program Manajemen Berat Badan dengan Pendekatan Digital

14 Mei 2026
AI Berkembang Pesat, Guru Tetap Jadi Kunci Pendidikan Masa Depan

AI Berkembang Pesat, Guru Tetap Jadi Kunci Pendidikan Masa Depan

14 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Layanan Bisnis
Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved
No Result
View All Result
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development

Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Go to mobile version