youngster.id - Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Di tengah kemudahan akses informasi digital, masyarakat kini bisa mencari hampir semua hal hanya lewat smartphone, termasuk informasi kesehatan dan kemungkinan diagnosis penyakit.
Fenomena ini semakin banyak terjadi di kalangan anak muda urban. Alih-alih langsung berkonsultasi ke dokter saat mengalami keluhan kesehatan, sebagian besar justru memilih mencari jawaban melalui Google, media sosial, hingga mesin pencari berbasis AI.
Studi terbaru Health Collaborative Center (HCC) mengungkap sekitar 6 dari 10 anak muda urban di Indonesia lebih memilih melakukan swadiagnosis dibanding langsung pergi ke tenaga medis saat mengalami gangguan kesehatan.
“Fenomena swadiagnostik meningkat tajam sejak era digital karena akses informasi kesehatan sekarang sangat mudah diperoleh hanya lewat internet dan media sosial,” kata Dr dr Ray Wagiu Basrowi MKK FRSPH Ketua Peneliti dan Pendiri HCC pada jumpa pers Rabu (13/5/2026) di Jakarta.
Dia menerangkan, penelitian ini berlangsung pada Maret hingga April 2026 dan melibatkan 448 responden dari berbagai kota urban di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, hingga Yogyakarta. Mayoritas responden berasal dari kelompok usia produktif dengan akses internet harian yang sangat tinggi.
“Dalam studi tersebut, sebanyak 59,8% responden usia di bawah usia 40 tahun mengaku lebih memilih mencari diagnosis sendiri ketika mengalami keluhan kesehatan. Bahkan, responden dengan riwayat penyakit kronis disebut memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar melakukan swadiagnosis dibanding langsung berkonsultasi ke dokter,” ungkap Ray.
Studi HCC juga menemukan Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis anak muda urban Indonesia. Sementara website kesehatan menjadi sumber kedua yang paling sering digunakan. Sementara, keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernapasan, kardiovaskular, pencernaan, hingga psikologis.
Menurut Ray fenomena ini berangkat dari kemudahan akses informasi. Hal ini membuat banyak orang merasa lebih nyaman mencari jawaban sendiri dibanding harus datang ke fasilitas kesehatan.
Data menunjukkan, 53,7% responden mengaku lebih nyaman melakukan swadiagnosis karena dianggap lebih praktis, hemat biaya, dan tidak perlu antre di fasilitas kesehatan.
“Sebagian masyarakat merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu panjang, antre, biaya tambahan, dan energi emosional. Akhirnya internet dianggap lebih praktis, lebih cepat, lebih murah, dan terasa lebih personal,” ucapnya.
Menurutnya, perilaku ini tidak selalu sepenuhnya buruk, tetapi bisa menjadi masalah ketika masyarakat terlalu bergantung pada informasi digital tanpa melakukan pemeriksaan medis secara langsung. Apalagi dalam penelitian tersebut menemukan, 36% responden memilih melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa berkonsultasi ke dokter setelah melakukan swadiagnosis.
Bahkan, sekitar 27% responden mengaku tidak melanjutkan pengobatan dokter karena informasi yang ditemukan di internet dianggap bertentangan dengan resep atau diagnosis tenaga medis.
“Risiko terbesar dari swadiagnosis adalah keterlambatan penanganan medis, overdiagnosis, hingga munculnya distrust terhadap sistem kesehatan apabila informasi yang diperoleh tidak tervalidasi dengan baik,” kata Ray menegaskan.
Meski begitu, studi ini juga menunjukkan kepercayaan terhadap dokter sebenarnya masih cukup tinggi. Sekitar 47,9% responden mengaku tetap memercayai tenaga kesehatan, meskipun mereka masih mencari konfirmasi tambahan melalui internet.
Ray menilai kondisi ini menunjukkan pentingnya peningkatan literasi kesehatan digital di tengah perkembangan AI dan teknologi informasi yang semakin pesat.
“AI dan internet seharusnya menjadi alat bantu untuk meningkatkan kesadaran kesehatan, bukan menggantikan peran konsultasi medis profesional,” ujarnya.
Melalui studi ini, HCC mendorong pentingnya edukasi literasi kesehatan digital agar masyarakat, khususnya generasi muda urban, lebih bijak dalam memilah informasi kesehatan di era digital.
“Ke depan, tantangannya bukan melarang masyarakat mencari informasi kesehatan di internet. Itu hampir mustahil. Tantangannya adalah bagaimana negara, tenaga kesehatan, platform digital, dan institusi pendidikan membangun literasi kesehatan digital yang sehat dan bertanggung jawab,” pungkasnya.
Health Collaborative Center merupakan lembaga kajian dan kolaborasi kesehatan yang berfokus pada isu kesehatan masyarakat, perilaku kesehatan, kesehatan mental, literasi kesehatan, dan transformasi sistem kesehatan di Indonesia.
STEVY WIDIA
