youngster.id - Dani Yogatama, Co-Founder dan CEO Reka, membawa perusahaan teknologi kecerdasan buatan (AI) tersebut bersaing di pasar global melalui pengembangan model AI multimodal. Reka mengembangkan teknologi yang mampu memproses teks, gambar, audio, dan video dalam satu sistem, dengan fokus pada kinerja dan efisiensi komputasi.
Perusahaan yang didirikan pada 2022 itu memperoleh pendanaan US$110 juta dari investor yang mencakup NVIDIA dan Snowflake pada Juli 2025. Pendanaan tersebut mengantarkan Reka ke valuasi US$1 miliar, menjadikannya salah satu perusahaan AI berstatus unicorn yang dibangun oleh talenta dengan latar belakang riset teknologi global.
Perjalanan Dani juga mendapat pengakuan melalui Endeavor. Ia resmi terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur Indonesia ke-120 dalam International Selection Panel (ISP) Endeavor ke-109 di Montreal, Kanada, pada September 2026.
Terpilihnya Dani memperluas representasi pengusaha Indonesia dalam jaringan global Endeavor, khususnya di sektor deep tech atau teknologi mendalam. Melalui jaringan tersebut, ia diharapkan dapat memperluas akses ke mentor, investor, dan mitra bisnis untuk mendukung pertumbuhan Reka di berbagai pasar.
“Fokus kami tetap jelas, membangun dan mengembangkan teknologi AI frontier untuk pasar global. Endeavor membuka akses langsung ke mitra bisnis dan penasihat yang tepat, sehingga kami bisa bergerak lebih cepat,” ujar Dani, Selasa (20/10/2026).
Ia menambahkan, Reka juga ingin berkontribusi kepada komunitas pendiri startup dan mendukung generasi berikutnya dari perusahaan deep tech.
Kembangkan Teknologi AI Multimodal
Berbeda dari perusahaan yang berfokus pada penerapan AI untuk kebutuhan bisnis tertentu, Reka mengembangkan model AI yang menjadi dasar bagi berbagai aplikasi. Pendekatan multimodal memungkinkan sistem memahami beragam jenis data, termasuk teks, gambar, audio, dan video.
Kemampuan tersebut membuka peluang pemanfaatan AI untuk berbagai kebutuhan perusahaan, mulai dari analisis konten visual hingga pencarian informasi dan riset berbasis dokumen.
Salah satu produk Reka adalah Reka Flash, model AI multimodal yang dirancang untuk memahami teks, gambar, audio, dan video. Perusahaan ini juga mengembangkan Reka Vision, platform untuk menganalisis, mencari, dan melakukan penalaran berdasarkan data visual.
Produk lainnya, Reka Research, memanfaatkan pendekatan agentic AI untuk menjawab pertanyaan kompleks melalui penelusuran web dan dokumen. Sementara itu, Reka Quant dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi model melalui teknik kuantisasi.
Efisiensi menjadi salah satu fokus pengembangan Reka karena penggunaan model AI berskala besar membutuhkan infrastruktur komputasi yang memadai. Kemampuan menekan kebutuhan komputasi dan biaya inferensi dapat membantu perusahaan memperluas penggunaan AI tanpa meningkatkan biaya operasional secara berlebihan.
“AI berkembang sangat cepat. Tetapi membangun model yang mampu bersaing di lapisan paling dasar membutuhkan kombinasi riset, talenta, infrastruktur, dan kemampuan untuk membawa teknologi tersebut ke penggunaan nyata,” kata Dani.
Menurut dia, Reka ingin membangun teknologi yang tidak hanya kuat dari sisi riset, tetapi juga efisien dan dapat digunakan perusahaan di berbagai industri.
Pengalaman Riset di Google DeepMind
Dani memiliki latar belakang akademis dan profesional di bidang ilmu komputer serta riset AI. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian melanjutkan studi di University of Tokyo sebagai penerima beasiswa Monbukagakusho.
Dani selanjutnya meraih gelar doktor dari School of Computer Science, Carnegie Mellon University, Amerika Serikat.
Sebelum mendirikan Reka, ia bekerja di Baidu Silicon Valley AI Lab. Ia kemudian menghabiskan enam tahun sebagai Senior Staff Research Scientist di Google DeepMind, London.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari bekal Dani dalam membangun perusahaan yang berfokus pada pengembangan model AI. Bersama tim peneliti yang memiliki pengalaman di laboratorium teknologi terkemuka, ia mengembangkan Reka sebagai perusahaan riset sekaligus penyedia produk AI untuk pasar global.
Pada Juli 2025, Reka mengumumkan pendanaan US$110 juta dari investor baru dan lama, termasuk NVIDIA dan Snowflake. Menurut pengumuman resmi perusahaan, dana tersebut akan digunakan untuk mempercepat pengembangan teknologi serta memperluas penggunaan platform AI multimodal Reka di kalangan perusahaan.
Keterlibatan kedua investor tersebut juga membuka peluang pengembangan ekosistem teknologi yang mendukung penggunaan model AI. NVIDIA dikenal melalui teknologi komputasinya, sedangkan Snowflake menyediakan platform data yang digunakan perusahaan untuk mengelola dan menganalisis informasi.

Perluas Jaringan Bisnis Global melalui Endeavor
Selain mengembangkan teknologi, tantangan bagi perusahaan AI adalah membawa hasil riset menjadi produk yang digunakan secara luas. Hal ini membutuhkan kemampuan membangun kemitraan, menjangkau pelanggan, dan mengembangkan organisasi untuk melayani pasar internasional.
Bagi Dani, jaringan Endeavor menjadi salah satu sarana untuk memperkuat kemampuan tersebut. International Selection Panel merupakan tahap akhir seleksi Endeavor yang berlangsung selama 12–18 bulan. Dalam proses ini, para pendiri perusahaan dengan potensi pertumbuhan tinggi menjalani wawancara dengan panelis internasional sebelum kandidat ditentukan melalui deliberasi.
Dalam ISP ke-109 di Montreal, Dani berdiskusi dengan para investor dan pengusaha yang memiliki pengalaman membangun serta mengembangkan bisnis di pasar global.
“Duduk bersama para pendiri dan operator berpengalaman membantu kami menajamkan kembali asumsi tentang apa yang benar-benar dibutuhkan untuk membawa Reka ke skala operasional berikutnya,” ujarnya.
Dani mengatakan, diskusi tersebut memberinya kesempatan untuk memperoleh perspektif baru mengenai strategi pengembangan Reka, termasuk bagaimana membawa teknologi yang dibangun perusahaan menjadi bisnis global dengan skala operasional lebih besar.
Managing Director Endeavor Indonesia, Monika Rudijono, mengatakan terpilihnya Dani memperluas representasi sektor teknologi dalam jaringan pengusaha Endeavor Indonesia.
“Indonesia tidak kekurangan talenta AI kelas dunia. Yang selama ini kurang adalah jalur bagi talenta itu untuk membangun perusahaan global dan tetap terhubung ke ekosistem asalnya. Dani membuktikan keduanya bisa berjalan bersamaan,” kata Monika.
Menurut Monika, kehadiran Dani menambah representasi perusahaan deep tech dalam jaringan Endeavor Indonesia yang selama ini juga diisi pendiri dari sektor konsumen, teknologi finansial (fintech), dan logistik.
Dengan terpilihnya Dani, jumlah Endeavor Entrepreneur Indonesia mencapai 120 orang. Dalam ISP Montreal pada September 2026, Endeavor memilih 18 entrepreneur yang memimpin sembilan perusahaan.
Endeavor merupakan jaringan global yang mendukung pengusaha dengan potensi pertumbuhan tinggi untuk mengembangkan perusahaan berskala besar. Organisasi ini menghubungkan para pendiri dengan mentor, investor, dan pengusaha berpengalaman, sekaligus mendorong mereka berkontribusi kembali kepada ekosistem kewirausahaan.
Secara global, Endeavor menyatakan memiliki lebih dari 3.100 entrepreneur di lebih dari 45 negara. Jaringan tersebut telah menciptakan lebih dari 6,1 juta lapangan kerja dan menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari US$111 miliar.
Bagi Indonesia, perjalanan Dani dan Reka menunjukkan keterlibatan talenta Indonesia dalam pengembangan teknologi AI di tingkat global. Tidak hanya menggunakan teknologi yang dikembangkan perusahaan internasional, talenta Indonesia juga berpeluang membangun perusahaan yang menghasilkan model AI untuk digunakan oleh berbagai industri di dunia. (*AMBS)
|
Dani Yogatama Dani Yogatama adalah ilmuwan komputer dan peneliti kecerdasan buatan (AI) asal Indonesia yang menjabat sebagai Co-Founder dan CEO Reka serta Associate Professor di Departemen Ilmu Komputer, University of Southern California (USC), Amerika Serikat. Bidang keahliannya mencakup machine learning (ML), natural language processing (NLP), model bahasa besar (large language models/LLM), pembelajaran penguatan (reinforcement learning), dan pengembangan arsitektur AI yang efisien. Dani turut berkontribusi dalam pengembangan teknologi AI, termasuk AlphaStar, sistem multi-agent reinforcement learning untuk permainan StarCraft II, serta Deep Speech 2, sistem pengenalan suara end-to-end. Penelitiannya juga mencakup kemampuan yang muncul pada model bahasa besar ketika mencapai skala tertentu, mekanisme attention yang efisien, dan metode transfer representasi lintas bahasa. |
|
|
Perusahaan/Lembaga |
Jabatan |
|
Reka |
Co-Founder dan CEO |
|
University of Southern California |
Associate Professor Ilmu Komputer |
|
Google DeepMind |
Senior Staff Research Scientist |
|
Baidu Silicon Valley AI Lab |
Peneliti |
|
Pendidikan – PhD Ilmu Komputer — Carnegie Mellon University – Monbukagakusho Fellow — University of Tokyo – Sarjana – Institut Teknologi Bandung (ITB), Indonesia |
|
















Discussion about this post