Aplikasi S-OBAT Untuk Baca Resep Dokter

Lima mahasiswa UGM mengembangkan aplikasi S-OBAT untuk membaca resep dokter (Foto: dok. UGM/Youngsters.id)

youngster.id - Untuk menyiasati salah baca resep (prescription errors) sehingga bisa berakibat kesalahan medis (medical error) pada praktik klinis, lima orang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan aplikasi S-SOBAT (Sahabat Obat).

Berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, terungkap bahwa di Yogyakarta terdapat 92,12% resep obat dengan tulisan tangan yang tak terbaca, 74,6% memiliki data pasien yang tidak lengkap, dan 60,3% memiliki anamnesis yang tidak lengkap.

Sementara itu, berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh Archives of Internal Medicine ditemukan bahwa 19% dari semua resep dokter memiliki kesalahan dalam penentuan dosis (improper dosages).

Menyikapi permasalahan tersebut, lima mahasiswa UGM dari Fakultas Kedokteran, Elektronika dan Instrumen (ELINS), dan Teknologi Informasi, yakni Ade Saputri, Gita Mumtarin, Marsa Harisa, Fathin Naufal, dan Jonathan mengembangkan aplikasi S-OBAT.

“Inovasi ini dirancang untuk mengurangi jumlah kesalahan pengobatan yang terjadi selama fase peresepan,” ucap Ade, seperti dikutip dari laman UGM. “S-OBAT merupakan alat penulisan resep obat yang dibuat pertama kali di Indonesia,” tambahnya.

Dijelaskan Ade, aplikasi S-OBAT ini ditujukan untuk dokter layanan primer, terutama yang berada di daerah pelosok. Oleh karena itu, S-OBAT menggunakan database Formularium Nasional yang cocok untuk sistem BPJS.

S-OBAT terdiri dari dua komponen utama, yaitu aplikasi berbasis android dengan interface yang mudah digunakan dan printer. Aplikasi ini juga memungkinkan dokter memasukkan resep dan mengkses semua informasi yang diperlukan tentang dosis, kontraindikasi, dan lain sebagainya. Fiturnya ditulis dalam bahasa Indonesia dan dijalankan secara mudah hanya dengan ujung jari Anda.

“Berbasis Arduino, printer akan mencetak data dari aplikasi melalui koneksi Bluetooth,” kata Fathin, mahasiswa jurusan Teknologi Informasi UGM.

Menurut Fathin, hasil cetakan aplikasi ini dalam format standar dan dilengkapi font yang jelas sehingga dapat dengan mudah dibaca oleh apoteker. Perangkat ini juga memiliki kemampuan untuk terhubung ke beberapa perangkat sekaligus.

STEVY WIDIA