Biji Salak Ternyata Bisa Untuk Antiaging

Penuaan dini menjadi momok kaum hawa. (Foto: ilustrasi/youngster.id)

youngster.id - Salak, buah dengan kulit bersisik ini ternyata menyimpan banyak manfaat. Belum lama ini lima mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Brawijaya Malang meneliti manfaat biji buah salak untuk bahan kosmetik, yakni anti-penuaan dini.

Daniel Matin AG, salah seorang anggota tim menjelaskan bahwa selama ini biji buah salak hanya dianggap limbah yang tidak berguna.
“Padahal ada kandungan polifenol dalam biji salak yang memiliki khasiat sebagai antioksidan. Antioksidan diketahui bermanfaat untuk mencegah penuaan dini dengan cara menekan radikal bebas akibat sinar ultraviolet matahari dan mencegah penurunan kolagen,” kata Daniel yang dilansir Antara, Selasa (5/2/2019).

Daniel bersama rekan setimnya, yakni Putu Dewi Pradnya Paramitha, Dewinta Intan Rachmawati, Vicka Marcellia Indriawati, dan Eki Mayuka Trisnawati tengah mempresentasikan hasil penelitian mereka di Thailand. Hasil dari penjurian lomba itu akan diumumkan pada 6 Februari 2019.

Menurut mereka riset ini sebagai pengembangan penelitian-penelitian sebelumnya yang terkait.

“Proses pembuatan diawali dengan pengumpulan bahan baku, yaitu biji salak. Biji salak dikeringkan dengan oven pada suhu tinggi untuk mengurangi kadar air sehingga diperoleh serbuk biji salak yang lebih efektif diekstraksi. Biji salak kering dihancurkan hingga menjadi serbuk kemudian dimaserasi,” kata Daniel lagi.

Baca juga :   Skin Care Anti Penuaan Dari Biji Labu Kuning

Dia menjelaskan, proses ekstrak awalnya dilakukan pemisahan ampas dan filtrat untuk didapat ekstrak cair biji salak. Ekstrak cair biji salak diolah lagi untuk didapatkan ekstrak kental. Kemudian bahan itu diolah lagi dan produk terakhir berebentuk serum berukuran nano, kata mahasiswa asal Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, ini.

“Alasan dibuat sediaan antiaging dalam bentuk serum dikarenakan serum memiliki basis air yang lebih sesuai dengan cairan di tubuh sehingga lebih mudah menembus ke dalam lapisan kulit,” katanya.

Sedangkan penghantar serum yang digunakan adalah transfersom yang memiliki karakteristik lebih fleksibel dalam menembus pori-pori kulit yang kecil tanpa memecah transfersom hingga ke target.

Kasubag Kearsipan dan Humas Universitas Brawijaya Kotok Gurito, semoga temuan itu bisa diimplementasikan dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.

“Semoga temuan ini juga memberikan inspirasi bagi mahasiswa Universitas Brawijaya yang lain untuk giat melakukan penelitian dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat,” katanya.

STEVY WIDIA