Buoy, Inovasi Pendeteksi & Pemantauan Wilayah Perbatasan

BOPL-1, Penjaga Batas Maritim Nusantara Berbasis Automatically Real Time System. (Foto: istimewa/youngster.id)

youngster.id - Indonesia merupakan Negara kepulauan yang sangat luas. Namun wilayah perbatasan masih kurang terawasi. Akibatnya, tak terhitung lagi jumlah kerugian atas perompakan, pembajakan, illegal fishing, illegal toging, illegal migrant, eksploitasi sumber daya alam secara ilegal, penyelundupan, dan perusakan ekosistem laut yang dialami Indonesia.

Upaya yang dilakukan pemerintah atas tindakan kriminalitas terhadap lautan Indonesia adalah patroli sepanjang perbatasan Indonesia, pemantauan dengan satelit yang memerlukan waktu untuk berotasi dan mengambil gambar di wilayah Indonesia. Menindaklanjuti akan hal itu, tentunya diperlukan inovasi yang dapat melakukan pemantauan di batas wilayah laut Indonesia secara real time dan otomatis.

Peduli akan hal itu, tiga mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) membuat suatu instrumen yang memiliki kemampuan untuk membedakan suara kapal ikan dengan kapal lainnya yang masuk perbatasan laut Indonesia. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karya Cipta (PKM-KC) 2018, Fariz Mustafa Kamal (Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan), Bung Daka Putera (Departemen Teknik Mesin dan Biosistem), dan Muhammad Rofiq Gempur Tirani (Departemen Ilmu Komputer), merancang Buoy, yakni BOPL-1.

Baca juga :   UI Jadi Kampus Hijau Terbaik di Indonesia

BOPL-1 merupakan singkatan dari Buoy Penjaga Laut. BOPL-1 ini dilengkapi dengan hydrophone untuk merekam suara kapal yang merambat di perairan kemudian dianalisis sehingga dapat dibedakan antara kapal ikan dengan kapal lainnya yang masuk wilayah perairan Indonesia.

“Buoy merupakan alat pengukur parameter oseanografi dan meteorologi yang dipasang untuk mengukur dan memantau keadaan laut dan atmosfer”, tutur Fariz, Ketua Tim yang dilansir Humas IPB baru-baru ini.

Penjaga Batas Maritim Nusantara Berbasis Automatically Real Time System untuk mewujudkan Indonesia Berdaulat. Riset ini dibawah bimbingan Prof Indra Jaya.

Sebelumnya pemerintahan Indonesia di bawah kepemimpinan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan perang terhadap IUU Fishing (Illegal, Unreported, Unregulated Fishing). Menurut Menteri Susi, pencurian ikan di Indonesia telah merugikan Indonesia lebih dari Rp 2.000 triliun.

FAHRUL ANWAR