Mahasiswa UMM Kenalkan Terapi Suntik Gen Untuk Obati Kanker

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang. (Foto: UMM/youngster.id)

youngster.id - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang dari Fakultas Kedokteran, Radya Kusuma Ardianto dan Muhammad Mufti Al Anshori, mengenalkan pengobatan (penyembuhan) kanker tanpa melakukan kemoterapi, tetapi dengan terapi gen.

“Di Indonesia penanganan pasien kanker saat ini hanya melalui kemoterapi saja. Sementara, metode ini membutuhkan biaya yang sangat mahal, karena tidak bisa sekali pengobatan. Sekarang pasien kanker bisa melakukan pengobatan alternatif dengan terapi gen,” kata Radya Kusuma Ardianto dilansir Humas UMM pada Rabu (7/11/2018) dari Malang, Jawa Timur.

Menurut Radya, pengobatan dengan terapi gen adalah menyuntikkan gen P53 yang merupakan “malaikat penjaga” gen kepada pasien untuk menggantikan gen P53 yang tidak berfungsi secara normal. Dengan begitu, gen P53 pengganti tersebut bisa bekerja untuk memperbaiki sel-sel yang rusak.

Untuk mengganti gen P53 ini, menurut Radya, perlu “kendaraan”. “Kendaraan yang saya maksudkan adalah dengan menggunakan virus, yakni Adenovierus. Virus itu tepat sasaran karena langsung menginfeksi sel. Namun, yang kita pakai hanya bungkusnya saja dan penyakit berbahayanya sudah dihilangkan terlebih dahulu,” paparnya.

Baca juga :   XL Dorong Kalangan Wirausaha Manfaatkan Teknologi Digital

Ia menilai dunia medis di Indonesia sudah relatif tertinggal, sebab di Tanah Air pengobatan semacam ini belum diterapkan, atau bisa jadi, masih dalam tahap penelitian.

Ketika di Indonesia masih Symtomatik (bergantung kepada obat), di luar negeri sudah mendalam hingga tahap molekuler atau langsung menyasar kepada akar permasalahannya.

“Ada atau tidaknya pengobatan seperti ini, berawal dari kita siap atau tidak. Awalnya kita mengajukan ide-ide seperti ini untuk menyiapkan. Ketika Indonesia sudah siap secara mental, mungkin bisa diimplementasikan meskipun ini harus menempuh waktu yang lama dan biaya yang mahal,” ucapnya.

Radya menambahkan ketika seseorang terkena kanker, daya produktivitasnya menurun, sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana manusia normal lainnya.

Dia mengatakan ketika tidak bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, maka keluarganya lah yang akan menanggung pengobatannya. Kondisi ini membuat pasien ketergantungan kepada keluarga dan obat dengan waktu yang cukup lama.

“Kita harus mulai mengobati pasien dengan sistem holistic-komprehensif, yaitu pengobatan secara menyeluruh hingga sampai pada kondisi ekonomi, produktivitas, dan kesehatan pasien. Bukan begitu sembuh langsung beres, tapi aspek-aspek lain juga harus dipikirkan,” tuturnya.

Baca juga :   Philips Lighting Indonesia Gelar Kampanye Terangi Masa Depan

Ia mengaku ide terapi gen pada pasien kanker tersebut berawal dari keprihatinan dengan mahalnya biaya kemoterapi bagi penderita kanker.
Berkat inovasi ini keduanya berhasil memenangkan kompetisi penulisan artikel ilmiah tingkat nasional, yaitu ajang Biology Open House For Environmental Recognition (BIOSFER) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Brawijaya (UB) Malang beberapa waktu lalu.

STEVY WIDIA