Mahasiswa Unair Buat Mesin Kapal Bertenaga Listrik Kincir Angin

Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) FST UNAIR. (Foto: Istimewa/youngster.id)

youngster.id - Inovasi dilakukan tiga mahasiswa jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair) yang berhasil membuat mesin penggerak sekaligus pembangkit listrik kapal penangkap ikan dengan menggunakan teknologi berbasis eco-anemo magnetic.

Ketiga mahasiswa tersebut, yakni Eduardus Oldi Kristianto, dan dua anggotanya Leni Manggarsari dan Siti Nurmala. Mereka tergabung dalam kelompok Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) FST UNAIR.

“Kami melakukan inovasi ini karena melihat permasalahan yang terjadi di Indonesia. Sebagai negara maritim dengan 70% wilayahnya berupa perairan, tentu saja sebagian besar penduduk Indonesia dengan mata pencaharian sebagai nelayan,” kata Kristianto sekaligus ketua Tim PKM-KC ini yang dilansir Humas Unair Selasa (10/7/2018).

Dia menjelaskan, teknologi tersebut memanfaatkan tenaga angin dan magnet untuk menghasilkan sumber energi listrik yang sekaligus sebagai penggerak mesin kapal.

Sementara itu, komponen utama nelayan dalam menangkap ikan, di antaranya adalah perahu atau kapal. Dalam moda penangkap ikan tersebut umumnya menggunakan mesin penggerak dan mesin pembangkit berbahan bakar fosil, seperti bensin dan solar. Dengan demikian menjadikan konsumsi bahan bakar fosil semakin meningkat. Sedangkan bahan bakar itu juga digunakan hampir untuk semua lini kehidupan, termasuk sebagai energi pembangkit listrik.

Baca juga :   Infinys Hadirkan Layanan Komputasi Awan Bagi Startup dan UKM

Kristianto menyodorkan data dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada 2014 yang menyebutkan penggunaan bensin mencapai sebesar 50% dan minyak solar sebesar 37%. Hal ini tentu saja menyebabkan bensin dan solar menjadi energi paling dominan yang digunakan oleh masyarakat Indonesia.

”Jika hal ini terjadi secara terus-menerus, tidak mustahil cadangan energi fosil di Indonesia akan terancam habis. Selain itu penggunaan bahan bakar fosil, dalam hal ini solar dan bensin, dapat menghasilkan emisi gas buang berbahaya yang kurang ramah lingkungan,” kata Kristianto.

Gas emisi buang ini jika terakumulasi dalam jumlah besar juga dapat mengganggu ekosistem laut, termasuk ikan-ikan yang ada di dalamnya.
”Berdasar permasalahan itulah muncul gagasan dari kami untuk mencoba membuat alat bernama Pro-Gensine (Propulsor and Generator Ship Engine), mesin penggerak sekaligus sebagai pembangkit listrik di kapal penangkap ikan,” ucapnya.

Teknologi mesin yang disebutnya berbasis eco-anemo magnetic adalah memanfaatkan tenaga angin dan magnet untuk menghasilkan sumber energi listrik, sekaligus sebagai penggerak mesin kapal. Prinsip kerja Pro-Gensine yaitu memanfaatkan gaya gerak listrik yang dihasilkan dari pergerakan magnet dengan lilitan kawat yang dibantu dengan tenaga angin untuk kemudian menghasilkan energi listrik.

Baca juga :   RNI, Pertamina dan Toyota Kembangkan Energi dari Rumput Gajah

Inivasi ini terletak pada sumber energi yang digunakan dan desain alat yang memungkinkan untuk menghasilkan energi penggerak dan pembangkit mesin kapal penangkap ikan yang lebih besar. Selain itu, Pro-Gensine tidak menggunakan bahan bakar fosil, sehingga dapat meningkatkan efisiensi kerja mesin kapal dan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh nelayan. Hal ini karena pembuatan alat dan perawatannya yang relatif murah.

Dengan prinsip kerja mesin dan bahan bakar yang digunakan, alat Pro-Gensine ini dapat membantu mempertahankan keberlanjutan lingkungan Indonesia menjadi lebih sehat, karena mengurangi penggunaan energi fosil (solar dan bensin). Sehingga dapat menghemat biaya dan meningkatkan pendapatan nelayan sekaligus perekonomian Indonesia.

Laporan keberhasilan mereka yang disusun dengan judul “Pro-Gensine (Propulsor and Generator Ship Engine): Dual Mesin Kapal Penangkap Ikan Berbasis Eco-Anemo Mahnetic yang Efisien, Low-Cost dan Ramah Lingkungan” lolos penyeleksian Dikti. Karenanya berhasil mendapat dana pengembangan dari Kemenristekdikti dalam agenda Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2018.

 

STEVY WIDIA