youngster.id - Budidaya jamur dan tanaman obat keluarga (TOGA) di Kelompok Wanita Tani (KWT) Cempaka Batan Indah, Kelurahan Kademangan, Tangerang Selatan, mulai memanfaatkan teknologi smart farming berbasis Internet of Things (IoT).
Inovasi tersebut dikembangkan oleh mahasiswa Program Studi S1 Farmasi Universitas Pelita Harapan (UPH) untuk membantu mengurangi pekerjaan manual sekaligus meningkatkan efisiensi budidaya.
Selama ini, penyiraman tanaman TOGA dan pemeliharaan kumbung jamur masih dilakukan secara manual. Kondisi tersebut menjadi tantangan karena sebagian besar anggota KWT Cempaka Batan Indah berusia 58–70 tahun.
Melalui teknologi smart farming, proses penyiraman dan pengaturan kondisi kumbung jamur dapat dilakukan secara lebih otomatis dan terukur.
Penyiraman Tanaman Mengandalkan Sensor Kelembapan
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah sistem irigasi tetes untuk tanaman TOGA. Sistem ini menggunakan sensor kelembapan tanah untuk menentukan kebutuhan air tanaman.
Ketika kondisi tanah membutuhkan air, sistem dapat mengaktifkan pompa dan menyalurkan air melalui selang irigasi tetes. Dengan demikian, penyiraman tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pemeriksaan dan penyiraman secara manual.
Sementara itu, pada kumbung jamur diterapkan sistem misting atau pengkabutan menggunakan nozzle yang menghasilkan butiran air halus.
Sistem tersebut dilengkapi sensor suhu dan kelembapan udara sehingga kondisi lingkungan kumbung dapat dipantau dan dikendalikan agar berada pada kisaran yang dibutuhkan untuk budidaya jamur.
Perangkat yang digunakan antara lain ESP32, sensor kelembapan tanah, sensor suhu dan kelembapan udara, pompa air, katup otomatis, nozzle misting, selang irigasi tetes, filter air, serta tangki air berkapasitas 520 liter.
Data dari sensor juga dapat dipantau melalui smartphone sehingga kondisi tanaman dan kumbung dapat diketahui tanpa harus selalu melakukan pemeriksaan secara langsung.
Limbah Daun Diolah Menjadi Pupuk
Inovasi yang dikembangkan tidak hanya berkaitan dengan otomatisasi budidaya. Tim UPH juga memanfaatkan daun dan sisa tanaman di sekitar area KWT yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.
Daun dari area pertanian, tanaman TOGA, dan sekitar kumbung dikumpulkan dan dicacah menggunakan alat yang dikembangkan mahasiswa Teknik Industri.
Hasil pencacahan kemudian dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik cair (POC) dan kompos.
Pendekatan tersebut membuat inovasi smart farming tidak hanya berorientasi pada efisiensi tenaga kerja, tetapi juga mengarah pada pemanfaatan sumber daya secara lebih berkelanjutan.
Target Pangkas Waktu Perawatan
Program smart farming ini ditargetkan dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk penyiraman dan pemeliharaan dari sekitar 1–2 jam menjadi hanya sekitar 15 menit per hari.
Sistem juga dirancang untuk mempertahankan kondisi kumbung jamur pada suhu sekitar 25–28 derajat Celsius dengan kelembapan 70–80%.
Selain itu, program menargetkan lebih dari 70% limbah daun dapat diolah menjadi POC dan kompos. Efisiensi tersebut diharapkan ikut menekan biaya operasional dan meningkatkan kualitas hasil budidaya.
Dari sisi ekonomi, program menargetkan peningkatan laba bersih minimal 15%. Sedikitnya 20 anggota KWT juga ditargetkan mampu mengoperasikan sistem smart farming secara mandiri.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Pengembangan teknologi ini melibatkan 13 mahasiswa dari tiga bidang, yakni Farmasi, Teknik Industri, dan Teknik Elektro.
Mahasiswa Farmasi berperan dalam pengumpulan data terkait tanaman jamur dan TOGA serta pengembangan POC dan kompos. Mahasiswa Teknik Elektro menangani instalasi sistem smart farming, sedangkan mahasiswa Teknik Industri mengembangkan alat pencacah daun.
Dosen S1 Farmasi UPH, Feronia Reni Cyrena Santoso, M.S.Farm., menjelaskan bahwa penerapan inovasi tersebut juga berkaitan dengan kompetensi yang dipelajari mahasiswa Farmasi, termasuk Farmakognosi, Botani Farmasi, dan Fitokimia.
Pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi tanaman serta memahami kandungan dan pemanfaatan bahan alam.
Teknologi untuk Meningkatkan Produktivitas KWT
Ketua KWT Cempaka Batan Indah, Candrawati, mengatakan penerapan sistem misting membantu mengendalikan kondisi kumbung jamur. Area kumbung yang sebelumnya kurang optimal kini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan jamur.
Menurutnya, periode produksi yang sebelumnya sekitar empat bulan dapat diperpanjang hingga enam bulan setelah penerapan dan pendampingan teknologi.
Program ini menjadi contoh bagaimana smart farming berbasis IoT dapat diterapkan pada skala kelompok tani untuk menyelesaikan persoalan yang sederhana tetapi penting, seperti penyiraman, pengaturan kelembapan, pemantauan suhu, hingga pengelolaan limbah.
Bagi KWT Cempaka Batan Indah, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat otomatisasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi tenaga kerja, produktivitas budidaya jamur dan TOGA, serta pemanfaatan limbah pertanian.
STEVY WIDIA


















Discussion about this post