Mahasiswa UPH Sulap Limbah Lele Jadi Cookies dan Keripik, Dorong Konsep Zero Waste

inovasi mahasiswa UPH

Mahasiswa UPH Sulap Limbah Lele Jadi Cookies dan Keripik, Dorong Konsep Zero Waste (Foto: Istimewa/UPH)

youngster.id - Tulang dan kulit ikan lele yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa makanan ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Inovasi tersebut dikembangkan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH) melalui program LESTARI (Lele Sehat Tigaraksa Mandiri).

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tersebut menerapkan konsep zero waste dengan mengoptimalkan pemanfaatan ikan lele, mulai dari daging, tulang, kulit, hingga bagian lainnya. Program ini dikembangkan di Kelurahan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, yang memiliki potensi budidaya lele cukup besar.

Inovasi Mahasiswa UPH Berawal dari Potensi Lele Tigaraksa

LESTARI menjadi salah satu program yang memperoleh hibah Rp24,8 juta melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek RI). UPH turut memberikan dukungan pendanaan tambahan sebesar Rp10 juta.

Program PPK Ormawa sendiri mendorong organisasi kemahasiswaan untuk memanfaatkan pengetahuan, kreativitas, dan kepemimpinan dalam menjawab persoalan di masyarakat.

Pada 21 Mei 2026, Ditjen Dikti Kemdiktisaintek mengumumkan 226 judul subproposal dari 105 perguruan tinggi yang menerima pendanaan. Salah satunya adalah proposal HMPS Teknologi Pangan UPH berjudul “LESTARI (Lele Sehat Tigaraksa Mandiri): Strategi Hilirisasi Produk Olahan Ikan Lele Berbasis Zero Waste Menuju Desa Wirausaha Tangguh.”

Menurut Joanna Faleshia, mahasiswi Teknologi Pangan UPH angkatan 2023 sekaligus Ketua Tim PPK Ormawa HMPS Teknologi Pangan UPH, gagasan LESTARI berangkat dari potensi budidaya lele di Tigaraksa.

Wilayah tersebut memiliki sekitar 600 kolam budidaya lele yang tersebar di enam RW dan dikelola oleh 25 kelompok pembudidaya. Namun, pemanfaatan hasil budidaya sebelumnya masih terbatas pada daging lele, sementara produksinya juga masih bergantung pada pesanan atau pre-order.

“Kami melihat potensi yang lebih besar dengan memanfaatkan bagian ikan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dan belum memiliki nilai ekonomi,” ujar Joanna, Kamis (10/9/2026).

Tulang dan Kepala Lele Diolah Menjadi Cookies

Bersama dosen pembimbing Prof. Dr. Ir. Adolf J. N. Parhusip, M.Si., mahasiswa UPH mengembangkan konsep zero waste dalam pengolahan lele.

Menurut Prof. Adolf, zero waste tidak sekadar berarti mengurangi limbah, tetapi juga memanfaatkan bahan secara lebih efisien sehingga bagian yang sebelumnya terbuang dapat kembali diolah menjadi produk bernilai guna dan ekonomi.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah cookies berbahan tulang dan kepala lele. Ide tersebut terinspirasi dari penelitian Prof. Adolf bersama mahasiswa sebelumnya mengenai pemanfaatan tulang lele.

Dalam penelitian tersebut, tulang lele disebut memiliki kandungan kalsium mencapai 1.650 mg per 100 gram, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan bernilai gizi.

Pengembangan produk juga mempertimbangkan kondisi masyarakat setempat. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Tangerang yang dikutip dalam bahan program, terdapat 1.632 kasus stunting di Tigaraksa pada 2025. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan tim dalam mengembangkan cookies berbahan tulang lele.

Kulit Lele Disulap Jadi Keripik

Selain tulang dan kepala, mahasiswa UPH juga memanfaatkan kulit lele menjadi keripik. Kulit lele mengandung lemak dan kolagen yang menjadi salah satu pertimbangan dalam pemanfaatannya sebagai bahan pangan bernilai tambah. Sementara tekstur renyah keripik dinilai sesuai dengan karakter makanan ringan yang mudah diterima masyarakat.

Proses pembuatannya cukup sederhana. Kulit lele terlebih dahulu dimarinasi menggunakan jeruk nipis dan garam untuk mengurangi bau amis. Setelah dicuci, kulit dikeringkan menggunakan food dehydrator. Masyarakat juga dapat menggunakan sinar matahari sebagai alternatif.

Setelah kering, kulit lele dapat langsung digoreng hingga mengembang dan menghasilkan tekstur renyah.

Tak Berhenti di Pangan, Sisa Lele Jadi Pupuk Organik

Konsep zero waste LESTARI tidak berhenti pada pemanfaatan tulang, kepala, dan kulit. Organ dalam lele serta air bekas pencucian juga dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik. Organ dalam lele disebut mengandung protein dan asam amino yang dapat menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.

Pemanfaatan ini disesuaikan dengan kondisi ekonomi masyarakat Tigaraksa. Sejumlah UMKM di wilayah tersebut bergerak di bidang media tanam dan pupuk sehingga sisa pengolahan lele berpotensi kembali dimanfaatkan dan menghasilkan nilai ekonomi baru.

“Sebagai mahasiswa Teknologi Pangan, kami melihat bahwa pangan tidak hanya dapat dinilai dari produk utamanya saja, tetapi juga dari bagaimana kita dapat memanfaatkan keseluruhan bahan secara optimal,” kata Joanna.

Inovasi Mahasiswa UPH Melibatkan Tujuh Program Studi

Menariknya, LESTARI tidak hanya dikerjakan mahasiswa Teknologi Pangan. Program ini melibatkan 16 mahasiswa UPH dari tujuh program studi, yakni Teknologi Pangan, Manajemen, Teknik Industri, Teknik Elektro, Desain Komunikasi Visual (DKV), Teknik Sipil, dan Hukum.

Kolaborasi lintas disiplin tersebut diperlukan karena persoalan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan pengolahan produk, tetapi juga bisnis, legalitas, pemasaran, desain, serta penerapan teknologi.

Setiap program studi memiliki peran masing-masing. Mahasiswa Teknologi Pangan menangani pengembangan produk, keamanan, kualitas, dan umur simpan. Manajemen mendampingi pengelolaan bisnis, termasuk HPP, strategi bisnis, dan pemasaran digital.

Sementara itu, mahasiswa Hukum mendampingi legalitas usaha dan produk, DKV mengembangkan desain kemasan serta identitas visual, Teknik Industri membantu efisiensi produksi, Teknik Elektro menangani kebutuhan teknologi dan kelistrikan, sedangkan Teknik Sipil mendukung sarana dan prasarana.

Targetkan Pemanfaatan 90% Bagian Ikan Lele

Melalui LESTARI, mahasiswa UPH menargetkan masyarakat dapat memanfaatkan hingga 90% bagian ikan lele dan menghasilkan dua hingga tiga produk olahan baru.

Program tersebut juga menargetkan peningkatan produksi hingga 60% serta kenaikan omzet hingga 50%.

Menurut Joanna, sebelum program berjalan, omzet masyarakat berada di kisaran Rp700 ribu-Rp900 ribu per minggu dan masih mengandalkan penjualan daging lele.

Setelah LESTARI diterapkan, omzet disebut meningkat hingga sekitar Rp3,4 juta per minggu. Peningkatan tersebut menunjukkan peluang ekonomi dari pemanfaatan bagian ikan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Mahasiswa UPH Dorong Usaha Berkelanjutan

Bagi tim LESTARI, keberhasilan program tidak hanya diukur dari pelatihan atau kenaikan omzet selama program berlangsung. Keberlanjutan usaha setelah program berakhir menjadi salah satu indikator penting.

Masyarakat diharapkan mampu menjalankan usaha secara mandiri sekaligus memenuhi aspek legalitas usaha dan produk.

Sejumlah kegiatan telah dilakukan, mulai dari Sosialisasi Program PPK Ormawa LESTARI pada 22 Juni 2026, Pelatihan Pembuatan Produk pada 8 Agustus 2026, hingga Pelatihan Legalitas, Branding, dan Digital Marketing pada 22 Agustus 2026 yang berkolaborasi dengan PT Mikrobisnis Digital Sejahtera (INAmikro).

Seluruh kegiatan berlangsung di Gucang Farm, Tigaraksa, dengan melibatkan 40 masyarakat dari kelompok budidaya dan pengolahan lele, PKK, Karang Taruna, serta pelaku UMKM.

Pada akhirnya, LESTARI memperlihatkan bagaimana inovasi mahasiswa UPH dapat berangkat dari persoalan sederhana di masyarakat dan dikembangkan menjadi solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Dari satu komoditas lele, mahasiswa tidak hanya mengembangkan produk pangan baru, tetapi juga mendorong pemanfaatan hasil samping, diversifikasi usaha, peningkatan nilai ekonomi, serta kolaborasi lintas disiplin.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version