UGM Kembangkan Chicory, Pakan Ternak Andalan

Chicory yang ditanam di kebun rumput Fapet UGM. (Foto: ugm/youngster.id)

youngster.id - Fakultas Peternakan (Fapet) UGM melakukan uji coba pada lebih dari 30 jenis rumput dan legum dari Cropmark New Zealand untuk dievaluasi potensi pengembangannya di Indonesia. Hasil studi awal uji coba tersebut, Fapet menemukan 3 jenis yang sangat potensial dan adaptif dengan kondisi agroekologi Indonesia. Salah satunya adalah tanaman forbs Chicory.

Chicory merupakan sejenis forbs, yaitu tanaman pakan herbaceous (bukan kayu) berdaun lebar dan tidak seperti rumput sehingga tidak termasuk kategori rumput maupun legum. Jenis tanaman ini banyak terdapat pada ladang penggembalaan dengan masa hidup dua tahun atau lebih. Tanaman ini penting untuk meningkatkan produktifitas ladang penggembalaan. Di negara asalnya, New Zealand, Chicory merupakan tanaman andalan bagi ternak sapi perah maupun domba di padang penggembalaan.

Fapet UGM sangat optimis, tanaman Chicory Intibus mampu menjadi pakan unggul di Indonesia. Riset yang telah dilakukan menunjukkan bahwa produksi Chicory di Indonesia lebih besar 2—3 kali lipat dibandingkan dengan produksi di negara asalnya, New Zealand.

Baca juga :   BioFela, Pupuk dari Limbah Ikan Layang

“Hasil riset yang telah kami lakukan, Chicory mampu beradaptasi dengan baik di sini dengan kandungan protein kasar yang tinggi (25.5% BK) dan serat kasar yang rendah (26,0% BK). Dibandingkan dengan tanaman pakan legum yang umum dibudidayakan di Indonesia, kandungan nutriennya jauh lebih baik. Ini menjadi keunggulan utama dari tanaman ini,” ungkap Prof Ali Agus Dekan Fapet UGM dalam keterangannya baru-baru ini.

Ali menambahkan, Chicory yang ditanam di kebun rumput Fapet UGM dapat menghasilkan produksi segar sebanyak 55 ton/hektare pada umur potong 30 hari dengan kadar air sekitar 18%. Pada musim kering (Agustus 2017 – Februari 2018), Chicory dapat menghasilkan produksi hijauan sebanyak 27,5 ton/hektare setiap kali panen.

“Jika panen dilakukan setiap bulan, maka produksi Chicory pada musim kering dapat mencapai 330 ton/hektare/tahun atau sekitar 60 ton bahan kering/hektare/tahun,” ungkapnya.

Menurut Ali, Produksi ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Chicory yang ditanam di New Zealand dengan bahan kering berkisar 8 – 19 %, protein kasar 20 – 26 % dan kandungan serat kasar 20 – 30 %. Di New Zealand, produksi bahan kering yang dihasilkan sebanyak 8-16 ton/hektare/tahun.

Baca juga :   Endri Geovani dkk Kembangkan Papan Partikel Berbahan Batang Singkong

“Hal ini berarti bahwa produksinya 3 sampai 4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan di negara asalnya. Kesuburan lahan di Jawa menjadi salah satu faktor pendukung produktivitas yang tinggi,” ungkapnya.

Sejak 2015 Fapet UGM telah menjalin kerja sama dengan Cropmark Seed Company New Zealand. Cropmark Seed merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam industry eksportir biji rumput dan legum terkemuka di dunia.

Tim peneliti proyek ini, yang terdiri atas Ir. Nafiatul Umami, Dr. Ir. Bambang Suhartanto, Slamet Widodo S.Pt, serta Dr. Tim Cookson dan Brian Thorrington, perwakilan Cropmark Seed Company New Zealand. Mereka menyatakan bahwa Chicory sangat cocok dikembangkan di Indonesia dan yakin akan mampu menyumbang kemajuan pakan ternak Indonesia.

FAHRUL ANWAR