youngster.id - Riset terbaru Kaspersky mengungkapkan bahwa 65% pebelanja online percaya mereka mampu mendeteksi penipuan secara mandiri. Bahkan, 83% pebelanja online Indonesia percaya mereka dapat mendeteksi penipuan sendiri, angka ini jauh lebih tinggi daripada angka global (65%).
Para ahli menganggap ini sebagai risiko besar bagi pebelanja online. Pasalnya, selama setahun terakhir, Kaspersky mengidentifikasi hampir 6,7 juta serangan phishing yang menyamar sebagai toko online, sistem pembayaran, dan perbankan, dengan 55,6% menargetkan pebelanja online.
“Sepanjang tahun ini, kami mengamati bahwa pebelanja online secara konsisten menjadi salah satu target paling diinginkan oleh penipu. Selama periode diskon misalnya, penipuan mereka dapat menjadi lebih meluas,” komentar Olga Altukhova, Analis Konten Web Senior di Kaspersky dikutip Kamis (15/1/2026).
Temuan membuktikan bahwa 97% responden menunjukkan tingkat kesadaran substansial tentang risiko keamanan online dan menerapkan setidaknya beberapa langkah untuk melindungi transaksi digital mereka.
Namun, survei juga menemukan bahwa kurang dari setengah peserta menggunakan solusi keamanan khusus untuk memblokir upaya phishing dan melindungi transaksi pembayaran. Tren yang mengkhawatirkan ini sangat menonjol di kalangan generasi senior (55+), dengan hanya 32% responden dalam kelompok usia ini yang benar-benar menggunakan perangkat lunak keamanan saat melakukan pembelian online.
Untuk Indonesia, 58% pengguna mengakui menggunakan solusi keamanan untuk melindungi pembayaran online mereka dan memblokir tautan phishing. Protokol keamanan mandiri yang paling umum diadopsi meliputi kewaspadaan terhadap potensi tanda-tanda peringatan, seperti hyperlink yang mencurigakan atau desain situs web yang tidak biasa (65%) dan verifikasi keaslian penjual (62%).
Langkah-langkah lain yang dapat melindungi pebelanja online, seperti menggunakan kartu kredit terpisah untuk pembelian digital atau menggunakan alamat email terpisah untuk mendaftar di toko online yang tidak dikenal, dilakukan oleh 33% dan 26% partisipan survei. Sementara itu, 30% mengaku berkonsultasi dengan teman dan kerabat sebelum melakukan pembelian, Indonesia mencatat persentase yang lebih tinggi daripada angka global dengan 37%.
Menariknya, pilihan ini sangat populer di kalangan generasi muda, dengan 37% memilihnya, sementara kurang umum di kalangan senior (21%).
Pakar Kaspersky menekankan bahwa meskipun praktik tersebut merupakan langkah-langkah perlindungan penting untuk belanja online, praktik-praktik tersebut hanya merupakan strategi perlindungan dasar dan bukan pencegahan penipuan komprehensif yang disediakan
“Tetap waspada sangat penting, tetapi melindungi diri sendiri membutuhkan lebih dari sekadar kesadaran. Sangat mengkhawatirkan bagaimana penipu sekarang menggunakan AI untuk membuat upaya phishing yang lebih canggih dan tertarget sehingga semakin sulit dikenali oleh pengguna biasa,” kata Olga.
Untuk melindungi diri dari ancaman, terapkan praktik keamanan berikut:
- Jangan pernah menyimpan detail kartu kredit lengkap di situs web kecuali benar-benar diperlukan.
- Pertimbangkan untuk menggunakan kartu debit terpisah khusus untuk pembelian online dan atur peringatan transaksi di rekening bank dan kartu kredit Anda.
- Berhati-hatilah terhadap “penjualan kilat/flash sale” yang tampak terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Waspadai situs web yang menekan Anda untuk membuat keputusan cepat, dan berhati-hatilah terhadap penjual yang menolak pengembalian atau penukaran.
- Gunakan kata sandi yang berbeda untuk setiap akun online dan aktifkan otentikasi dua faktor jika memungkinkan.
- Terapkan solusi keamanan dengan komponen anti-phishing yang kuat.
- Para penipu terus mengembangkan metode mereka, jadi tetap mengikuti perkembangan Teknik phishing terbaru dapat membantu Anda mengenali dan menghindarinya.
STEVY WIDIA
