Ancaman Siber Berbasis Web di Indonesia Tembus 14,9 Juta Kasus di Tahun 2025

Ancaman Siber Berbasis Web

Indonesia Jadi Sumber Serangan Spam dan Malware Terbesar Sepanjang 2025 (Foto : istimewa/ilustrasi)

youngster.id - Secara keseluruhan, 22,4% pengguna internet di Indonesia menghadapi ancaman online selama periode Januari–Desember 2025. Perusahaan keamanan siber Kaspersky mencatat lebih dari 14,9 juta serangan siber berbasis web terdeteksi dan berhasil diblokir di Indonesia sepanjang tahun lalu. Jumlah tersebut setara dengan 40.848 upaya serangan siber online per hari.

General Manager ASEAN dan Asia Emerging Countries (AEC) Kaspersky Simon Tung mengatakan, Indonesia kini menjadi salah satu pasar sasaran utama dalam pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Apalagi data Oxford Insights, tingkat kesiapan Indonesia dalam penggunaan AI telah mencapai 65,85%, terutama di sektor pemerintahan dan pengelolaan data.

“Namun, pertumbuhan pesat ekosistem digital dan adopsi AI tersebut tidak hanya membawa peluang, tetapi juga memicu peningkatan skema kejahatan siber yang semakin kompleks. Keamanan siber menjadi aspek krusial yang harus dipertimbangkan dalam implementasi AI. Tim TI perlu memiliki kapabilitas operasi keamanan yang memadai untuk memantau dan merespons ancaman secara proaktif,” kata Simon, dikutip Selasa (3/3/2026).

Selain itu, Simon menekankan perlindungan data pribadi harus menjadi prioritas utama, baik bagi individu maupun organisasi. Ia juga menilai kebijakan dan regulasi perlindungan data yang jelas menjadi fondasi penting dalam menciptakan pertahanan keamanan siber yang solid.

“Faktor-faktor ini saling memperkuat dalam membangun sistem pertahanan keamanan yang komprehensif,” katanya.

Simon menjelaskan serangan melalui browser masih menjadi metode utama dalam penyebaran malware. Pelaku kejahatan siber kerap memanfaatkan kerentanan pada peramban dan plugin-nya melalui teknik drive-by download, serta mengombinasikannya dengan rekayasa sosial untuk menembus sistem korban.

Simon memperkirakan tahun 2026 akan diwarnai oleh peningkatan serangan siber yang semakin canggih, dengan AI menjadi benang merah yang menghubungkan berbagai risiko baru.

Menurutnya, AI tidak hanya dimanfaatkan oleh pihak bertahan (defenders) untuk mendeteksi anomali secara lebih cepat, tetapi juga oleh pelaku kejahatan siber untuk memetakan target, menyelidiki infrastruktur, serta menghasilkan konten berbahaya yang semakin meyakinkan.

“Oleh karena itu, kami terus menekankan pentingnya kewaspadaan tinggi serta pembangunan pertahanan terbaik melalui solusi keamanan yang andal, baik untuk pengguna individu maupun pelaku usaha di Indonesia,” pungkasnya.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version