youngster.id - Belanja online harusnya makin gampang, tapi realitanya kadang malah ribet. Mulai dari cari produk, pindah aplikasi, sampai harus input ulang data berkali-kali. Kondisi ini mulai coba “diputus” lewat pendekatan baru bernama continuous commerce.
Inisiatif ini menjadi fondasi utama dalam roadmap agentic commerce AEON360 bersama Google Cloud di Asia Tenggara. Kerjasama ini dirancang untuk membuat setiap interaksi pelanggan—mulai dari pencarian produk hingga pengiriman dan layanan purna jual—secara intuitif menyesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi pengguna secara real-time.
“Ambisi kami adalah membangun sebuah ekosistem yang mampu melayani konsumen sebagai satu kesatuan yang cerdas dan terintegrasi, sehingga setiap interaksi terasa personal, di mana pun mereka berbelanja,” kata Daisuke Maeda, Chairman AEON360 dikutip Senin (20/4/2026).
Dia menjelaskan, pihaknya akan bertransformasi dari interaksi digital yang sederhana ke pemanfaatan agen AI yang mampu menghadirkan rekomendasi paling relevan sekaligus menjalankan tugas yang lebih kompleks bagi pelanggan.
Di balik pengalaman ini, ada peran besar AI. Tapi bukan AI yang sekadar “tambahan fitur”, melainkan yang benar-benar aktif membantu. AEON360 dan Google Cloud mengembangkan konsep agentic commerce, di mana AI bisa bertindak sebagai asisten digital yang bukan cuma kasih rekomendasi, tapi juga bisa menjalankan tugas.
Misalnya, shopping agent yang bisa bantu susun keranjang belanja otomatis dari teks, suara, atau bahkan gambar. Atau customer experience agent yang siap jawab pertanyaan 24/7 tanpa harus nunggu lama. Semua ini dirancang supaya proses belanja terasa lebih praktis dan efisien.
Untuk mewujudkan itu, AEON360 membangun fondasi data terpadu yang menggabungkan berbagai interaksi pengguna dalam satu sistem. Jadi, pengalaman belanja nggak lagi terpecah-pecah, tapi terasa seperti satu perjalanan yang utuh dari awal sampai akhir.
Menurut Hana Raja, Country Manager Malaysia Google Cloud, masalah utama belanja digital selama ini memang ada di pengalaman yang nggak terintegrasi.
“Selama ini, teknologi ritel konvensional kerap memberikan pengalaman yang tidak terintegrasi, sehingga pelanggan harus mengulang perjalanan belanja di setiap tahap,” jelasnya.
“AEON360 mengubah hal ini dengan memanfaatkan full-stack AI dari Google Cloud untuk menjadikan proses pencarian produk yang sebelumnya rumit menjadi lebih mudah dan terintegrasi.”
Menariknya, inovasi ini juga nggak berhenti di platform AEON saja. Ke depan, mereka akan mengembangkan integrasi dengan berbagai ekosistem lain, termasuk Google Search dan Google Pay. Artinya, interaksi dengan brand bisa terjadi di mana saja—bahkan langsung dari hasil pencarian—dengan pengalaman yang tetap personal dan relevan. Implementasi ini dimulai di Malaysia dan akan menjangkau beberapa negara lainnya di Asia Tenggara.
Selain teknologi, AEON360 juga menyiapkan sumber daya manusia lewat Innovation Foundry di Kuala Lumpur. Di sini, karyawan akan dibekali kemampuan AI dan sertifikasi Google untuk memastikan inovasi ini benar-benar bisa dijalankan secara maksimal.
Buat Gen Z yang sudah terbiasa dengan personalisasi—dari algoritma TikTok sampai rekomendasi Spotify—arah ini terasa seperti evolusi yang wajar. Bedanya, sekarang bukan cuma konten yang dipersonalisasi, tapi juga seluruh pengalaman belanja.
Ke depan, bukan nggak mungkin kita nggak perlu lagi “mencari” barang. Justru, sistem yang akan lebih dulu ngerti apa yang kita butuhkan.
STEVY WIDIA


















Discussion about this post