youngster.id - Akselerasi investasi pada infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) global kini dihadapkan pada tantangan kelayakan ekonomi. Laporan tahunan Global Technology Report ke-7 dari firma konsultan manajemen Bain & Company mengungkapkan bahwa pendanaan untuk memenuhi kebutuhan daya komputasi AI memerlukan pendapatan tahunan hingga US$6 triliun pada 2031.
Aplikasi AI yang ada saat ini—seperti langganan AI konsumen, pengembangan perangkat lunak (software), pemasaran, layanan pelanggan, dan operasi IT—diperkirakan hanya menyumbang pendapatan antara US$1,2 triliun hingga US$1,8 triliun. Artinya, industri membutuhkan inovasi kategori baru untuk menutup kekurangan pendapatan sebesar US$4,2 triliun.
Bain mengidentifikasi empat pilar inovasi baru yang bakal menjadi pendorong utama pendapatan tersebut: integrasi iklan pada penyedia model pengganti mesin pencari, integrasi sistem otonom (autonomous system) pada transportasi dan industri, AI fisik (physical AI) seperti robotika dan digital twins di sektor manufaktur, serta aplikasi terobosan di bidang penemuan obat (drug discovery) dan energi.
Chairman Global Technology Practice Bain & Company, David Crawford, menekankan bahwa gelombang inovasi AI harus mampu melampaui dampak yang pernah dihasilkan oleh teknologi seluler dan komputasi awan (cloud).
“Perdebatan hari ini terlalu berfokus pada produktivitas karyawan. Ekonomi infrastruktur AI membutuhkan triliunan dolar dalam bentuk pendapatan baru di luar keuntungan produktivitas. Infrastruktur AI dibangun jauh melampaui kurva permintaan saat ini, dan untuk membiayainya secara berkelanjutan diperlukan tambahan sekitar 1% pada tingkat pertumbuhan PDB global tahunan,” ujar David dalam laporan resminya, Selasa (29/9/2026).
Pergeseran Pasar Perangkat Keras dan Sektor Semikonduktor
Lonjakan permintaan komputasi AI memicu kebangkitan kembali industri perangkat keras (hardware). Saham sektor hardware dan semikonduktor mencatatkan laju pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) sebesar 24% dari 2020 hingga 2026, jauh melampaui sektor software yang hanya tumbuh 6%.
Kebutuhan akan memori berkapasitas tinggi (High-Bandwidth Memory/HBM) dan kustomisasi cip (custom silicon) seperti Application-Specific Integrated Circuits (ASIC) mengalami ekspansi pesat. Fokus para produsen pada kapasitas HBM berisiko memicu kelangkaan pada memori standar (DRAM dan NAND), yang berpotensi menaikkan harga smartphone dan PC di pasar global.
Global Head of Technology Practice Bain, Anne Hoecker, menyebutkan bahwa dinamika rantai pasok kini menjadi kunci keunggulan kompetitif.
“Model lama di mana satu vendor berinovasi dan menjual ke semua pihak mulai berubah. Gelombang vertikalisasi dan desain semi-kustom kini semakin mendominasi industri teknologi,” jelas Anne.
Risiko Keamanan Siber dan Efisiensi Pengembangan Perangkat Lunak
Di sisi keamanan siber, penggunaan AI telah memangkas durasi serangan siber dari rata-rata empat minggu menjadi hanya 18 jam. Proliferasi AI agents menambah kompleksitas celah keamanan, mendorong pimpinan keamanan informasi (CISO) mengalokasikan hingga 20%–25% sumber daya manusia keamanan siber untuk menangani kerentanan hasil scan berbasis AI.
Di sektor rekayasa perangkat lunak (software engineering), survei Bain terhadap 293 pemimpin teknologi menunjukkan ekspektasi peningkatan produktivitas pengembang hingga 95% dan kecepatan rilis sebesar 148% dalam satu hingga dua tahun ke depan. Meski demikian, efisiensi pembuatan kode harus diimbangi dengan perancangan ulang seluruh siklus hidup pengembangan perangkat lunak (Software Development Lifecycle/SDLC) agar tidak menimbulkan bottleneck pada tahap peninjauan dan tata kelola. (*AMBS)

















Discussion about this post