youngster.id - Ekosistem aset kripto Indonesia kini memasuki babak baru dengan penguatan regulasi, adopsi masif, serta masuknya partisipasi institusional. Mengacu data Juni 2026, jumlah pengguna aset kripto nasional telah menembus 22,69 juta orang.
Ajang Coinfest Asia 2026 di Bali menjadi wadah strategis bagi pemerintah, regulator, dan pelaku industri untuk menegaskan pentingnya keseimbangan antara kepastian regulasi dan ruang bagi inovasi agar pertumbuhan industri tetap sehat serta berkelanjutan.
Co-Founder INDODAX, Oscar Darmawan, menyoroti bahwa kepatuhan (compliance) merupakan fondasi penting untuk menarik masuknya investor institusional. Namun, ia menekankan bahwa perlindungan konsumen harus berjalan selaras dengan kebebasan pelaku bisnis domestik dalam berinovasi.
“Kepatuhan tetap diperlukan sebagai fondasi institusi. Namun, pada saat yang sama, inovasi juga perlu terus berjalan. Jika produk di dalam negeri semakin berkembang, pengguna akan memilih berada di ekosistem yang teregulasi,” kata Oscar, Sabtu (22/8/2026).
Oscar juga mendukung penuh skema regulatory sandbox OJK sebagai ruang pengujian produk sebelum diluncurkan secara luas ke masyarakat, sehingga percepatan inovasi tetap mengutamakan aspek keamanan konsumen.
Dukungan Pemerintah dan Kriteria Keberlanjutan Proyek
Dari sisi pemerintah, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, melihat teknologi blockchain dan aset digital kian relevan untuk mendukung investasi nasional. Ia juga menilai Bali berpotensi bertransformasi dari pusat pariwisata menjadi hub teknologi, Web3, dan fintech dunia.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan pentingnya regulasi keuangan digital yang adaptif tanpa mengekang inovasi, disertai penguatan kapasitas SDM dan kolaborasi antarotoritas.
Sementara itu dari kacamata pasar, Vice President of Business Development INDODAX, James Eugene, menjelaskan bahwa keberlanjutan sebuah proyek aset digital di platform lokal ditentukan oleh market fit.
“Pangsa pasar, permintaan, dan likuiditas menjadi faktor penting dalam proses listing. Pada akhirnya, kualitas proyek dan kemampuan menciptakan market fit yang akan menentukan keberlanjutannya,” tutup James. (*AMBS)
