youngster.id - Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus memperkuat perannya sebagai motor penggerak ekonomi digital di Asia Tenggara. Seiring meningkatnya adopsi perdagangan online, kontribusi UMKM terhadap pasar e-commerce kawasan diproyeksikan mencapai 58% pada 2029.
Temuan tersebut terungkap dalam studi terbaru bertajuk “How Southeast Asia Buys and Pays 2026: Unlocking SMEs’ Potential” yang dirilis oleh 2C2P by Antom bersama firma market intelligence IDC.
Group CEO 2C2P by Antom, Worachat Luxkanalode, mengatakan UMKM memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi kawasan, namun masih menghadapi sejumlah tantangan dalam proses transformasi digital.
“Pelaku usaha di Asia Tenggara, khususnya UMKM, memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi kawasan. Namun banyak di antaranya masih menghadapi tantangan dalam proses transformasi digital,” ujarnya dikutip Senin (18/5/2026).
Laporan tersebut menunjukkan pasar e-commerce Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh 85,4% hingga mencapai nilai US$289,8 miliar pada 2029. Pertumbuhan ini turut didorong oleh semakin aktifnya UMKM dalam memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar.
Studi yang melibatkan 600 responden UMKM di enam negara Asia Tenggara—Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam—menunjukkan bahwa 66% pelaku usaha kini telah berjualan secara online. Angka tersebut mencerminkan semakin besarnya partisipasi UMKM dalam ekonomi digital kawasan.
Meski demikian, tingkat kesiapan digital UMKM masih belum merata. Sekitar sepertiga responden mengaku masih sangat bergantung pada transaksi tunai dalam operasional sehari-hari, termasuk di negara dengan tingkat digitalisasi yang relatif maju seperti Singapura.
Berbagai tantangan masih membayangi transformasi digital UMKM, mulai dari kompleksitas integrasi sistem, kekhawatiran terhadap fraud, biaya operasional yang tinggi, hingga keterbatasan infrastruktur.
Di Indonesia dan Filipina, hambatan utama berkaitan dengan infrastruktur dan konektivitas digital. Sementara di Singapura dan Vietnam, pelaku usaha lebih banyak menyoroti isu keamanan dan integrasi sistem.
Meski baru 49% UMKM yang menjalankan bisnis lintas negara, sekitar tiga dari empat responden mengaku berencana melakukan ekspansi internasional dalam dua tahun ke depan. Tren ini terlihat cukup kuat di Indonesia dan Thailand, di mana pelaku usaha mulai aktif menjangkau pasar baru melalui platform digital.
IDC memperkirakan peningkatan partisipasi UMKM dalam e-commerce lintas negara berpotensi membuka tambahan nilai penjualan hingga US$20,8 miliar pada 2029 atau setara dengan peningkatan 7,1% terhadap total nilai e-commerce kawasan.
Luxkanalode menilai pelaku usaha membutuhkan sistem yang mampu mendukung operasional secara lebih fleksibel dan efisien agar dapat berkembang di tengah ekonomi digital yang semakin kompetitif.
“Pelaku usaha membutuhkan sistem yang dapat mendukung pertumbuhan bisnis secara lebih fleksibel dan efisien agar mampu berpartisipasi lebih optimal dalam ekonomi digital Asia Tenggara yang terus berkembang,” pungkasnya.
STEVY WIDIA
