Menekraf: Indonesia Jadikan Kekayaan Intelektual Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kekayaan Intelektual

Menekraf: Indonesia Jadikan Kekayaan Intelektual Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru (Foto: Ilustrasi)

youngster.id - Pemerintah Indonesia mulai menggeser fokus pembangunan ekonomi masa depan dengan bertumpu pada sektor ekonomi kreatif dan aset Kekayaan Intelektual (KI). Langkah strategis ini diambil sebagai jalur pertumbuhan baru sekaligus memperkuat otonomi strategis di tengah ketatnya persaingan geopolitik kekuatan besar dunia.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa Indonesia memandang sektor kreatif bukan lagi sekadar industri pendukung, melainkan roda penggerak utama (engine of growth) ekonomi nasional.

“Saat ini, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana berpartisipasi dalam ekonomi global. Tantangan utamanya adalah bagaimana tetap kompetitif, adaptif, dan relevan di lingkungan di mana ide, inovasi, teknologi, dan talenta menentukan keberhasilan ekonomi,” ujar Teuku Riefky, dalam acara Asia Economic Summit di Jakarta, dikutip Kamis (18/6/2026).

Sebagai bentuk keseriusan, Indonesia telah memperkenalkan regulasi yang mengakui Kekayaan Intelektual (IP) sebagai aset sah yang dapat digunakan sebagai agunan atau jaminan untuk memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan. Saat ini, pemerintah juga tengah mengembangkan sistem “Penilai KI” (IP valuators) guna memperluas adopsi skema ini di perbankan.

Langkah ini didorong oleh performa sektor kreatif domestik yang terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data kementerian, ekonomi kreatif Indonesia tumbuh sebesar 6,86% pada tahun 2025, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Sektor ini berhasil menyumbang: Nilai Ekspor hampir mencapai US$32 miliar, Realisasi Investasi menembus angka US$10,3 miliar, dan Penyerapan Tenaga Kerja, yang menghidupi lebih dari 27 juta masyarakat Indonesia.

Melihat lanskap regional, Teuku menyatakan bahwa Asia Tenggara memiliki posisi unik di antara kekuatan ekonomi dan teknologi besar dunia. Ia menekankan bahwa ASEAN tidak perlu terjebak dalam dikotomi memilih kubu politik global.

“Masa depan kita tidak boleh ditentukan oleh pilihan memihak (blok tertentu). Masa depan kita harus ditentukan oleh penguatan kapabilitas kita sendiri,” pungkasnya.

 

STEVY WIDIA 

Exit mobile version