Ekonomi Digital Mampu Serap 10 Juta Tenaga Kerja

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengajak generasi muda Indonesia menjadi pebisnis startup. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

youngster.id - Melalui penerapan ekonomi digital, diproyeksi mampu mendorong peningkatan pada pertumbuhan ekonomi hingga 1%-2%, penyerapan tenaga kerja lebih dari 10 juta orang, dan kontribusi industri manufaktur sebesar 25% terhadap PDB nasional. Hal ini sesuai dengan target yang terdapat dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, untuk itu pemerintah terus memberikan dukungan untuk memaksimalkan potensi dari penerapan ekonomi digital pada era industri 4.0. Indonesia dinilai memiliki sumber daya yang penting untuk pengembangan ekosistem ekonomi digital.

“Lebih dari 60 juta masyarakat Indonesia memiliki smartphone. Dengan sumber daya ini, tidaklah heran kalau dalam waktu cepat Indonesia sudah punya empat unicorn, dan menjadi terbanyak di ASEAN. Kami optimistis sampai tahun 2024 akan lahir dua unicorn lagi di Indonesia,” kata Airlangga dalam keterangannya Senin (7/10/2019) di Jakarta.

Airlangga mengungkapkan, berdasarkan studi McKinsey, didorongnya ekonomi digital, Indonesia akan membutuhkan 17 juta tenaga kerja yang melek digital, dengan komposisi 30% di industri manufaktur dan 70% di industri penunjang. Sehingga, nantinya mendorong tambahan ekonomi sebesar USD150 miliar kepada ekonomi Indonesia.

Baca juga :   Presiden : Para Pelaku Startup Diprioritaskan dan Difasilitasi

“Inilah yang didorong agar kesempatan sebesar US$150 dalam bentuk ekonomi digital itu dimanfaatkan oleh tenaga kerja dan masyarakat Indonesia. Bisnis ini ada di Indonesia tergantung bagaimana kita memanfaatkannya,” tegasnya.

Airlangga menuturkan, dalam memaksimalkan potensi digital ekonomi di Tanah Air, Kemenperin juga mendorong startup atau perusahaan rintisan agar mereka mampu mengembangkan Industri Kecil Menengah (IKM) di Tanah Air. Oleh karena itu, dipilih pula sektor-sektor andalan yang mampu memberikan dampak besar dalam implementasi industri 4.0 di Indonesia. “Telah dipilih lima sektor yang menjadi prioritas, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik serta kimia-biokimia,” sebutnya.

Selain itu, menurut Airlangga, dalam peta jalan implementasi Industri 4.0 tersebut, telah dipersiapkan berbagai inisiatif strategis untuk masing masing sektor prioritas. Kemudian, telah ditunjuk lighthouse atau pabrik percontohan bagi penerapan industri 4.0 yang sudah menggunakan artificial intelligence (AI) dan internet of things (IoT), antara lain Schneider di Batam dan Petrosea di Tangerang, Banten.

Merujuk pada laporan Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI), dalam Mapping & Database Startup Indonesia 2018, bahwa jumlah startup di Indonesia pada 2018 mencapai 992 startup. Dari jumlah tersebut, tidak sedikit yang merupakan technology provider menghasilkan teknologi digital aplikatif dan solutif bagi Industri Kecil Menengah (IKM).

Baca juga :   Pemerintah Perlu Meningkatkan Pertumbuhan PDB Lewat UKM digital

STEVY WIDIA