Digitalisasi Bantu UMKM Laundry Tingkatkan Efisiensi Operasional dan Jangkau Lebih Banyak Pelanggan

UMKM laundry

Digitalisasi Bantu UMKM Laundry Tingkatkan Efisiensi Operasional dan Jangkau Lebih Banyak Pelanggan (Foto: Istimewa)

youngster.id - Pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia terus meningkat, termasuk bisnis penatu atau laundry yang kini menjamur di kawasan permukiman padat dan sekitar perkantoran. Namun, tantangan pelaku usaha tidak lagi sebatas kualitas hasil cucian, melainkan bagaimana membangun kehadiran digital agar mudah ditemukan pelanggan.

Banyak usaha laundry masih mengandalkan promosi konvensional dan belum memanfaatkan kanal digital. Padahal, calon pelanggan kini lebih sering mencari layanan terdekat melalui ponsel, membandingkan ulasan, lalu melakukan pemesanan lewat pesan instan. Kondisi ini membuat sejumlah bisnis sulit ditemukan, respons menjadi lambat, serta operasional tidak efisien akibat transaksi kecil yang terjadi berulang dengan pencatatan manual yang tidak konsisten.

Digitalisasi pun menjadi pembeda. Transformasi tidak harus dilakukan secara kompleks, melainkan dimulai dari aktivitas operasional yang paling sering terjadi, seperti penerimaan pesanan dan pembayaran.

Salah satu contoh penerapan digitalisasi dilakukan oleh Muhammad Irfan, pemilik Mau Laundry. Di awal usaha, pelanggan hanya berasal dari lingkungan sekitar kios. Untuk menjangkau konsumen baru, Irfan memanfaatkan Google Maps dengan rutin memperbarui foto, memastikan informasi usahanya relevan, serta aktif merespons ulasan pelanggan.

“Ketika orang mencari ‘laundry dekat sini’, usaha kami jadi lebih mudah ditemukan,” ujar Irfan, dikutip Senin (2/3/2026).

Selain itu, Irfan menjadikan WhatsApp sebagai saluran utama menerima pesanan. Ia juga menerapkan strategi jemput bola dengan menyapa pelanggan lama saat pesanan sedang sepi, sekaligus menawarkan layanan antar-jemput gratis di area sekitar.

Untuk urusan pembayaran, Irfan membiasakan pelanggan menggunakan QRIS agar transaksi lebih cepat dan nominal selalu sesuai tagihan. Seluruh transaksi dicatat melalui DANA Bisnis, sehingga riwayat pembayaran dapat dipantau secara otomatis tanpa perlu menghitung uang tunai setiap hari.

Menurut Irfan, pencatatan digital memudahkannya memantau pemasukan sekaligus mencocokkan pembayaran dengan cucian yang telah diambil pelanggan. Selain itu, pemisahan antara uang usaha dan uang pribadi membuat arus kas lebih terkendali.

“Dulu saya mengandalkan ingatan untuk melihat kondisi usaha, jadi sulit mengatur pengeluaran. Setelah menggunakan sistem digital, saya bisa membaca ritme usaha dengan lebih jelas,” katanya.

Keuntungan lain dari digitalisasi adalah percepatan perputaran arus kas. Saldo hasil transaksi dapat langsung digunakan untuk membeli kebutuhan operasional seperti deterjen dan plastik laundry tanpa harus melalui proses pemindahan dana yang memakan waktu. Hal ini membuat kegiatan operasional tetap berjalan lancar, terutama saat volume pesanan meningkat.

Seiring berjalannya waktu, Irfan mengaku pekerjaannya menjadi lebih efisien karena tugas administratif berkurang dan risiko kesalahan pencatatan semakin kecil. Saat ini, Mau Laundry telah beroperasi di Jakarta Timur dan Bekasi, serta mulai membuka peluang franchise untuk ekspansi usaha.

“Sejak digitalisasi, transaksi dan arus kas lebih tertata, pekerjaan repetitif berkurang, dan layanan bisa berjalan lebih stabil terutama di hari-hari paling ramai,” tutup Irfan.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi sederhana, mulai dari pemasaran, pembayaran, hingga pencatatan keuangan, dapat membantu UMKM laundry meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas jangkauan pelanggan di era serba digital.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version