Facebook Hadirkan Peta Kepadatan Populasi Asia Pasifik

youngster.id - Peneliti AI di Facebook ciptakan peta kepadatan populasi Asia Pasifik paling detail sedunia Peta beresolusi tinggi yang dimotori oleh teknologi AI ini dapat membantu badan dan organisasi bidang kesehatan untuk memberikan pendampingan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Facebook bekerja sama dengan pusat penelitian dan organisasi non-profit untuk memanfaatkan big data dan artificial intelligence (AI) guna mengatasi permasalahan dan tantangan sosial, kesehatan, dan infrastruktur di Asia, dan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals). 

“Peta kepadatan populasi Facebook dapat meningkatkan kinerja lembaga non-profit, termasuk kinerja peneliti mereka, dan bagaimana kebijakan dikembangkan. Membangun produk berupa data dari sumber data non-personal seperti gambar satelit dan data sensus, memungkinkan Facebook untuk memanfaatkan kemampuan komputasi dan olah datanya untuk seluruh dunia serta menjaga privasi mereka,” ucap John Wagner, juru bicara untuk Facebook Indonesia dalam keterangan pers, Kamis (21/6/2019).

Dia menjelaskan, Facebook menerapkan kekuatan pemrosesan komputer, keterampilan olah data yang mumpuni, dan keahlian dalam AI untuk menciptakan peta populasi lokal yang paling detail dan akurat di dunia. Facebook juga bekerja sama dengan Center for International Earth Science Information Network dari Columbia University (CIESIN) untuk memastikan bahwa upaya ini menggunakan data administratif yang terkini dari seluruh negara yang terlibat.

Dengan mengkombinasikan seluruh data yang tersedia di publik dengan kemampuan teknologi AI, Facebook mampu menciptakan peta populasi yang tiga kali lebih detail dibandingkan sumber lainnya. Peta kepadatan populasi beresolusi tinggi ini akan menunjukkan estimasi jumlah penduduk dalam jarak 30 meter, termasuk jumlah anak-anak dibawah usia lima tahun, dan jumlah perempuan pada usia produktif, dan informasi demografis lainnya.

 Gambar resolusi tinggi dari satelit kini sudah digunakan hampir di seluruh dunia. Namun, sebelum proyek pemetaan Facebook dimulai, dibutuhkan waktu yang panjang bagi para relawan untuk menyisir jutaan gambar untuk mengidentifikasi kota atau desa kecil.

“Sejak saya memulai karir bidang kemanusiaan di Peace Corps hingga beberapa minggu lalu saya berbicara dengan para ahli di World Health Assembly 2019 di Jenewa, kebutuhan yang utama saat ini adalah data populasi yang akurat,” kata Alex Pompe, manajer penelitian di Facebook.

 Tim Facebook menggunakan AI untuk mengatasi masalah tersebut, dan secara efisien melakukan pendataan secara detail. Sebagai contoh, untuk negara Indonesia, sistem pemindaian komputer menguji 725 juta gambar satuan untuk menentukan apakah di dalamnya terdapat gambar gedung. Tim menemukan sekitar 28 juta gambar lokasi gedung atau bangunan hanya dalam beberapa hari.

 “Peta ini menunjukkan kolaborasi yang kuat antara Facebook dengan institusi penelitian terkemuka seperti Columbia University, untuk menggabungkan data publik dan machine learning untuk mendukungan lebih banyak proyek kemanusiaan yang berbasis data di seluruh dunia,” kata Alex lagi.

Memanfaatkan kemampuan machine learning, Facebook mulai mengembangkan peta kepadatan populasi sebagai alat untuk mendukung konektivitas di seluruh dunia. Tidak ada data akun Facebook yang digunakan dalam proyek ini dan seluruh data satelit maupun sensus yang digunakan tidak mengandung data pribadi yang dapat teridentifikasi.

STEVY WIDIA