Facebook Pantau Linimasa Sepanjang Pemilu 2019

Facebook mengawasi ruang komunitasnya. (Foto: istimewa/youngster.id)

youngster.id - Facebook meningkatkan pengawasan di platformnya, Instagram, dan WhatsApp selama Pemilu 2019. Peningkatan pengawasan ini dilakukan sebelum hingga setelah pemilu.

Head of Cybersecurity Policy of Facebook Nathaniel Gleicher mengatakan, pihaknya akan fokus mengawasi pola perilaku tidak otentik yang terorganisir di platformnya, Instagram, dan WhatsApp.

“Kami catat pola seperti ini meningkat jelang pemilu di Indonesia,” kata Nathaniel dalam keterangannya, Kamis (28/3/2019) di Jakarta.

Menurut dia, peningkatan pembahasan mengenai politik di media sosial sebelum dan selama pemilu adalah hal yang wajar. Namun, tak banyak yang tahu bahwa sesudah pemilu pun pembahasan tentang politik masih berlanjut.

“Ada yang berpikir bahwa pemilu tidak adil dan lainnya, setelah pemilu. Pola perilaku seperti inilah yang dipantau oleh tim investasi Facebook. Sebab, ia menemukan bahwa konten bisa saja terlihat baik dan tidak melanggar Standar Komunitas Facebook. Padahal, orang-orang yang terlibat dibalik konten tersebut menciptakan pemahaman yang kurang tepat mengenai identitas mereka dan apa yang mereka lakukan,” ungkap Nathaniel lagi.

Untuk mengidentifikasi pola perilaku ini, Facebook bekerja sama dengan media sosial yang terintegrasi dengan perusahaan seperti Instagram dan WhatsApp. “Kami juga bekerja sama dengan perusahaan lain, seperti Twitter untuk mengidentifikasi pola perilaku ini,” katanya.

Saat ini, Facebook dan Instagram telah menghapus lebih dari 2.600 akun, grup, dan halaman di Iran, Rusia, Makedonia Utara, dan Kosovo. Akun, grup, dan halaman itu teridentifikasi adanya perilaku tidak otentik yang terorganisir. Secara rinci, ada 513 halaman di Facebook yang teridentifikasi adanya perilaku tidak otentik yang terorganisir dan berkaitan dengan Iran.

Lalu, lebih dari 1,4 juta akun membahas tentang ketegangan antara India dan Pakistan, konflik di Yaman dan Suriah dan krisis politik di Venezuela. Sebanyak 1.907 halaman, grup, dan akun yang ditautkan ke Rusia juga dihapus Facebook. Selain itu, Facebook menyebut ada beberapa halaman yang dihapus, mewakili komunitas politik di Australia, Inggris dan Amerika Serikat (AS). Alasan dihapus karena mereka berbagi konten yang berkaitan dengan nasionalisme, Islam, dan tokoh politik.

Di Indonesia, Facebook telah menghapus ratusan akun, grup, serta halamanyang menyebarkan berita palsu di Indonesia. Secara keseluruhan, ada 207 halaman, 800 akun Facebook, 546 grup dan 208 akun Instagram yang dihapus, termasuk akun milik Permadi Arya alias Abu Janda.

STEVY WIDIA

Exit mobile version