youngster.id - Selama hampir satu dekade, “bakar uang” bukan sekadar strategi — itu adalah iman. Para pendiri startup Indonesia meyakini bahwa kerugian hari ini adalah investasi untuk dominasi pasar hari esok. Investor global mengalirkan miliaran dolar dengan logika yang sama. Dan konsumen? Mereka menikmati setiap sen subsidi: ojek Rp5.000, kopi premium setengah harga, tiket pesawat murah dengan cashback berlipat.
Kini, era bakar uang itu resmi berakhir.
Satu per satu, startup terbesar Indonesia mulai melaporkan angka yang tak pernah mereka harapkan bisa terjadi secepat ini: laba. GoTo membukukan adjusted EBITDA positif pertama kalinya di tahun 2024. Bukalapak — yang bertahun-tahun melaporkan kerugian triliunan — tiba-tiba mencetak laba bersih Rp3,14 triliun di 2025. Traveloka melaporkan lonjakan laba bersih lima kali lipat di 2024. Kopi Kenangan, si unicorn kopi kekinian, mencatat profit pertamanya senilai US$17 juta di 2025.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari tekanan sistemik yang memaksa seluruh ekosistem startup untuk dewasa, cepat.
Gojek dan Tokopedia — GoTo Group
GoTo Group adalah merger dua raksasa digital Indonesia: Gojek (ojek online, pengiriman, pembayaran) dan Tokopedia (e-commerce). Resmi merger pada Mei 2021 dengan valuasi US$18 miliar, GoTo kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia pada April 2022 — IPO terbesar dalam sejarah bursa saat itu. Pada puncaknya, GoTo adalah “ekosistem digital terbesar di Indonesia,” melayani lebih dari 60 juta pengguna aktif tahunan.
Sebelum merger, Gojek dan Tokopedia sudah menjadi mesin pembakaran uang kelas dunia. Gojek — yang didirikan Nadiem Makarim pada 2010 sebagai layanan ojek via SMS — bertransformasi menjadi super-app dengan modal ventura dari Google, Tencent, Facebook, hingga Mitsubishi. Tokopedia, didirikan William Tanuwijaya pada 2009, tumbuh dengan suntikan dana dari SoftBank dan Alibaba.
Setelah merger, gabungan kerugian mereka terasa seperti lubang hitam. Pada 2023 saja, GoTo membukukan rugi bersih Rp90,51 triliun — angka yang bahkan sulit dibayangkan. Sebagian besar berasal dari impairment goodwill (penurunan nilai aset) pasca-merger dan pembakaran insentif. Beban penjualan dan pemasaran pada 2023 mencapai Rp6,43 triliun.
Aksi efisiensi pun tidak dapat dihindari. Sepanjang 2023, GoTo dua kali melakukan PHK besar-besaran: 1.300 karyawan pada Maret 2023, lalu 600 karyawan pada November 2023. Total karyawan terjun dari 7.522 orang di akhir 2023 menjadi hanya 3.352 orang di akhir 2024 — pengurangan lebih dari 50%.
Momentum perubahan datang dari keputusan strategis besar: melepaskan Tokopedia ke TikTok Shop pada Desember 2023. GoTo menerima bayaran berupa komisi dari setiap transaksi Tokopedia, tanpa harus menanggung beban operasionalnya lagi. Pendapatan e-commerce service fee mengalir masuk: Rp439 miliar hingga kuartal III/2024.
Bersamaan, GoTo secara drastis memangkas insentif, memperketat disiplin biaya, dan memindahkan infrastruktur cloud ke Alibaba dan Tencent yang lebih murah — langkah yang diperkirakan memangkas biaya cloud lebih dari 50%.
|
Tahun |
Rugi Bersih (IFRS) |
Adjusted EBITDA |
|
2022 |
Sangat besar |
Negatif |
|
2023 |
Rp90,51 triliun |
-Rp2,3 triliun |
|
2024 |
Rp5,46 triliun |
+Rp386 miliar ✓ |
|
Q1 2025 |
— |
+Rp47 miliar (FinTech) |
|
Q3 2025 |
— |
Pre-tax profit pertama |
Pada 2024, pendapatan bruto GoTo naik 30% menjadi Rp18,1 triliun. GTV (Gross Transaction Value) melonjak 58% menjadi Rp268,2 triliun. Pengguna aktif tahunan naik 33% menjadi 61,1 juta — sekitar 30% populasi dewasa Indonesia.
Per Q3 2025, GoTo bahkan mencatat adjusted pre-tax profit pertama dalam sejarahnya, dengan net revenue tumbuh 21% dan core GTV naik 43% year-on-year. Perusahaan menaikkan guidance EBITDA 2025 dari Rp1,4–1,6 triliun menjadi Rp1,8–1,9 triliun.
“Berkat disiplin eksekusi dan investasi yang terfokus, kami dapat tumbuh, melayani lebih banyak pengguna, dan melakukannya dengan lebih efisien.” — Simon Ho, CFO GoTo Group.
Bukalapak
Didirikan Ahmed Zaky pada 2010 dari kamar kos di ITB Bandung, Bukalapak adalah marketplace pertama yang serius memberdayakan UMKM Indonesia. Pada puncaknya, Bukalapak mengklaim lebih dari 100 juta pengguna. Bukalapak melantai di BEI pada Agustus 2021 — IPO terbesar sepanjang sejarah bursa Indonesia saat itu — meraih dana Rp21,9 triliun dengan valuasi awal Rp85 triliun.
Perjalanan Bukalapak pasca-IPO adalah salah satu kisah paling menyedihkan di ekosistem startup Asia Tenggara. Harga saham yang sempat Rp1.200 per lembar saat IPO terus merosot hingga ke kisaran Rp50–80 — kehilangan lebih dari 90% nilainya.
Kerugian bersih Bukalapak tidak pernah berhenti:
- 2023: Rugi bersih Rp1,36 triliun
- 2024: Rugi bersih Rp1,54 triliun (naik 13,28%)
Bisnis marketplace inti (B2C) Bukalapak terus tergerus persaingan dari Tokopedia, Shopee, dan Lazada. Yang menyelamatkan operasional adalah segmen Mitra Bukalapak — platform O2O (online-to-offline) yang melayani warung dan agen di seluruh Indonesia, serta pendapatan bunga deposito dari kas IPO yang masih tersisa.
Krisis makin dalam ketika Bukalapak mengumumkan penutupan bisnis marketplace-nya pada Agustus 2024, memfokuskan diri hanya ke empat segmen: Mitra Bukalapak, Gaming, Retail, dan Investment.
Restrukturisasi radikal terbukti efektif. Pada Q1 2025, Bukalapak mencatat laba bersih Rp112 miliar — berbalik tajam dari rugi Rp955 miliar di Q4 2024. Core earnings (adjusted, tidak termasuk biaya restrukturisasi satu kali) naik dari Rp42 miliar di 2023 menjadi Rp443 miliar di 2024.
Dan kemudian terjadi sesuatu yang tak terduga: seluruh tahun 2025 Bukalapak membukukan laba bersih Rp3,14 triliun, berbalik dari rugi Rp1,55 triliun di 2024. Pendapatan bersih melonjak 46% menjadi Rp6,51 triliun.
|
Indikator |
2024 |
2025 |
|
Pendapatan bersih |
Rp4,46 triliun |
Rp6,51 triliun (+46%) |
|
Laba/Rugi bersih |
-Rp1,54 triliun |
+Rp3,14 triliun ✓ |
|
Laba usaha |
-Rp2,51 triliun |
+Rp2,42 triliun ✓ |
Kas Bukalapak dari IPO — yang sempat dianggap “harta karun yang terus menipis” — kini menjadi mesin penghasil bunga yang signifikan. Per awal 2025, kas masih mencapai Rp18,8 triliun.
Traveloka
Didirikan Ferry Unardi, Albert Zhang, dan Derianto Kusuma pada 2012, Traveloka tumbuh dari aplikasi pencari tiket pesawat sederhana menjadi super-app perjalanan terbesar di Asia Tenggara. Beroperasi di delapan negara dengan hampir 140 juta unduhan aplikasi dan sekitar 50 juta pengguna aktif bulanan pada awal 2024, Traveloka menguasai sekitar 40% pasar OTA (Online Travel Agency) di Indonesia.
Pandemi COVID-19 menghancurkan Traveloka lebih parah daripada startup lain manapun. Bisnis perjalanan berhenti total. Pada 2020, Traveloka harus mengembalikan US$100 juta kepada pelanggan yang membatalkan perjalanan. Valuasi yang pernah mencapai US$3 miliar sempat terancam.
Bahkan setelah pandemi, Traveloka bergulat dengan biaya pemasaran besar untuk merebut kembali pasar, sambil ekspansi agresif ke layanan keuangan (PayLater/BNPL) dan gaya hidup.
Fenomena “revenge travel” pasca-pandemi menjadi katalis sempurna. Orang-orang yang selama tiga tahun tidak bepergian meluapkan hasrat wisata mereka. Traveloka, dengan infrastruktur yang sudah ada, tinggal menuai hasilnya.
Pada 2023, Traveloka untuk pertama kalinya mencapai profitabilitas, didorong lonjakan permintaan perjalanan dan pengendalian biaya operasional yang lebih disiplin. Laba berlanjut dan makin kuat di 2024: pendapatan Traveloka tumbuh 74,7% di 2024, mencapai US$766,4 juta, sementara laba bersih meroket 5 kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Per 2024, Traveloka sedang dalam proses mencari pendanaan pra-IPO, membidik valuasi yang lebih kuat sebelum go public.
Kopi Kenangan
Kopi Kenangan lahir dari sebuah gerai kecil di Menara Standard Chartered, Jakarta, pada 2017 — dimodali sendiri oleh Edward Tirtanata, James Prananto, dan Cynthia Chaerunnisa. Dalam tujuh tahun, brand ini tumbuh menjadi unicorn F&B pertama di Asia Tenggara, dengan valuasi lebih dari US$1 miliar dan lebih dari 1.300 gerai di enam negara per akhir 2025.
Ketika dana seri B (US$109 juta dari Sequoia Capital, 2020) dan seri C (US$96 juta, 2021) masuk, Kopi Kenangan masuk perangkap klasik: diversifikasi berlebihan. Lahirlah Cerita Roti, Chigo (fried chicken), dan Flip Burger — yang belakangan diakui sendiri oleh CEO Edward Tirtanata sebagai “gangguan” yang memperdalam kerugian hingga 70% di 2022.
Kerugian bersih di 2022 mencapai sekitar US$34 juta (Rp452 miliar). Di tahun 2023, perusahaan masih merugi US$18,4 juta.
Kopi Kenangan melakukan sesuatu yang sulit bagi startup yang mabuk pendanaan: mundur secara strategis. Bisnis non-inti ditutup. Fokus dikembalikan ke satu hal: kopi.
Hasilnya terlihat cepat. Di Q2 2024, Kopi Kenangan mencatat EBITDA margin 23% dan net profit margin 5%. Sepanjang 2024, kerugian menyusut 74% menjadi hanya US$2,3 juta dengan pendapatan naik 24% ke US$119 juta.
Dan 2025 menjadi tahun pembuktian: laba bersih US$17 juta (Rp377 miliar), naik 371% dari Rp80 miliar di 2024. Pendapatan grup melonjak 45% ke US$184 juta. Jumlah gerai mencapai 1.324, melampaui Starbucks Indonesia.
|
Tahun |
Pendapatan |
Laba/Rugi |
Jumlah Gerai |
|
2022 |
~US$70 juta |
-US$34 juta |
~700 |
|
2023 |
US$96 juta |
-US$18,4 juta |
~860 |
|
2024 |
US$119 juta |
-US$2,3 juta |
~977 |
|
2025 |
US$184 juta |
+US$17 juta ✓ |
1.324 |
Platform teknologi internal menjadi kunci: pengguna digital bulanan naik 116% ke 1,5 juta per Desember 2025. Kopi Kenangan menargetkan laba US$29 juta di 2026.
“Terlalu banyak funding membuat kami tidak fokus. Sekarang kami membuktikan bahwa kopi saja sudah cukup untuk membangun bisnis besar.” — Edward Tirtanata, CEO Kopi Kenangan.
Mengapa Sekarang? Anatomi Titik Balik
1. Tech Winter Memaksa Kedewasaan
Antara 2022–2024, pasar modal ventura global mengalami pembekuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di Indonesia, pendanaan ke startup anjlok 67% dalam periode ini. Dana yang masuk ke fintech Indonesia turun dari US$1,07 miliar (H1 2022) menjadi hanya US$25 juta (H1 2023).
Penyebabnya: The Fed menaikkan suku bunga acuan dari 0,25% menjadi 5,25–5,50% antara 2022–2023 — kenaikan paling agresif dalam empat dekade. Ketika deposito bank menawarkan return 5%, mengapa investor akan menaruh uang di startup berisiko tinggi?
“Era bakar uang sudah tidak relevan lagi. Sekarang startup dituntut untuk berada di jalur profitabilitas,” kata analis dari AC Ventures.
2. Investor Mengubah Mandat
Logika lama: grow at all costs, profitability comes later. Logika baru: show me the path to profit, or I won’t write the check.
Startup yang tidak bisa membuktikan jalur profitabilitas tidak mendapat pendanaan. Tanpa pendanaan, tidak ada uang untuk dibakar. Tanpa uang dibakar, perusahaan terpaksa efisien. Bagi yang bertahan, efisiensi ini terbukti bukan sekadar penghematan — tapi transformasi fundamental model bisnis.
3. Pasar Semakin Matang
Pengguna digital Indonesia yang kini berjumlah lebih dari 200 juta tidak lagi sepenuhnya bergantung pada subsidi untuk menggunakan layanan digital. Habituasi sudah terbentuk. Gojek tidak perlu lagi subsidi besar untuk meyakinkan orang naik ojol — perilaku itu sudah mendarah daging.
4. Efisiensi Teknologi
Biaya server, cloud, dan AI tools terus turun. GoTo sendiri memangkas biaya cloud 50% dengan migrasi ke Alibaba dan Tencent. Otomasi berbasis AI mengurangi kebutuhan tenaga kerja di beberapa fungsi. Unit economics membaik bukan karena revenue naik, tapi juga karena cost turun.
5. Momentum Spesifik Sektoral
- Travel: Revenge travel pasca-pandemi menguntungkan Traveloka.
- F&B: Tren kopi kekinian stabil dengan loyalitas merek yang terbentuk — Kopi Kenangan tinggal menuai.
- Ride-hailing: Pasar oligopoli Gojek-Grab memungkinkan rasionalisasi harga tanpa kehilangan pengguna.
Catatan Skeptis: Apa yang Belum Selesai
Profitabilitas yang baru saja dicapai sebagian startup Indonesia perlu dibaca dengan hati-hati:
GoTo: Adjusted EBITDA positif ≠ laba bersih IFRS. GoTo masih membukukan rugi bersih Rp5,46 triliun di 2024. Adjusted EBITDA mengecualikan banyak biaya “non-cash” dan “one-time” yang dalam praktiknya terus berulang.
Bukalapak: Laba bersih Rp3,14 triliun di 2025 perlu dicermati sumbernya — seberapa besar dari operasional inti versus pendapatan bunga deposito atau keuntungan investasi? Model bisnis baru (fokus Mitra, Gaming, Retail, Investment) belum teruji dalam siklus penuh.
Risiko struktural: Jika suku bunga global kembali naik, pendanaan akan kembali ketat. Jika pemain baru (atau TikTok Shop yang kini mengamuk) masuk lebih agresif, perang harga bisa kembali pecah.
Penutup: Setelah Musim Dingin
Perjalanan startup Indonesia menuju profitabilitas bukan sekadar kisah sukses finansial. Ini adalah refleksi dari kedewasaan seluruh ekosistem — investor yang lebih bijak, pendiri yang lebih disiplin, dan pengguna yang (akhirnya) mau membayar nilai sebenarnya dari sebuah layanan.
Tech winter yang brutal antara 2022–2024 ternyata menjadi seleksi alam terbaik yang bisa terjadi. Yang bertahan adalah mereka yang belajar bahwa pertumbuhan tanpa profitabilitas hanyalah trik akuntansi, bukan bisnis nyata.
GoTo, Bukalapak, Traveloka, Kopi Kenangan — masing-masing dengan caranya sendiri — sedang membuktikan bahwa Indonesia memiliki pasar digital yang cukup besar dan matang untuk mendukung bisnis teknologi yang sungguh-sungguh menghasilkan uang.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “kapan mereka akan profit?” Pertanyaannya adalah: “seberapa besar profit yang bisa mereka pertahankan?” (*AMBS/diolah dari berbagai sumber)
