Kisah Runtuhnya Airy Rooms: Dari Ekspansi Agresif VHO ke Gulung Tikar Diterjang Pandemi

Airy Rooms tutup

Kisah Runtuhnya Airy Rooms: Dari Ekspansi Agresif VHO ke Gulung Tikar Diterjang Pandemi (Foto: Istimewa/Airy)

youngster.id - Di antara sekian banyak startup Indonesia yang tumbang dalam gelombang pertama pandemi COVID-19, Airy Rooms menjadi salah satu simbol paling gamblang tentang betapa rentannya model bisnis yang bertumpu penuh pada mobilitas manusia. Dalam hitungan kurang dari satu bulan sejak kabar penutupan pertama kali berembus ke publik, perusahaan yang pernah mengelola sekitar 30 ribu kamar di 100 kota ini resmi menghentikan seluruh operasionalnya pada 31 Mei 2020.

Namun menyalahkan pandemi semata sebagai penyebab tunggal keruntuhan Airy Rooms adalah simplifikasi yang berisiko menyesatkan. Di balik pengumuman resmi yang sarat kata “terpaksa” dan “menyesal”, ada jejak persaingan bisnis akomodasi murah yang sudah menekan margin sejak jauh sebelum virus corona pertama kali terdeteksi di Wuhan. Artikel ini menelusuri sejarah Airy Rooms secara runtut — dari pendirian, pertumbuhan, hingga proses kebangkrutannya — sekaligus mengurai pembelajaran yang bisa dipetik founder startup dari kegagalan ini.

Sejarah dan Pendirian: Lahir dari Rahim Traveloka

Airy Rooms didirikan pada 2015 oleh Danny Handoko dan Samsu Sempena, dua mantan karyawan Traveloka, dengan misi menjembatani kesenjangan di industri hotel budget Indonesia yang saat itu masih sangat terfragmentasi dan minim standardisasi layanan.

Alvin Kumarga turut disebut sebagai salah satu co-founder pada masa pendirian. Menurut catatan CompassList, Kumarga meninggalkan Boston Consulting Group pada Oktober 2015 untuk mengembangkan produk baru di Traveloka, sembari ikut mendirikan Airy Rooms pada tahun yang sama — sebelum akhirnya keluar dari startup tersebut pada Juni 2017.

Sejak awal, Airy menjalankan model Virtual Hotel Operator (VHO): alih-alih memiliki properti sendiri, perusahaan bermitra dengan pemilik hotel budget dan motel kecil, lalu mengelola standar layanan, branding, hingga distribusi kamar tersebut secara digital. Model ini berbeda dari Online Travel Agent (OTA) seperti Traveloka atau Tiket.com yang hanya berfungsi sebagai etalase pemesanan — Airy justru ikut mengelola operasional kamar mitranya, sekaligus menjual inventaris tersebut lewat berbagai kanal OTA, termasuk Traveloka sendiri. Keterkaitan erat dengan Traveloka inilah yang membuat DealStreetAsia menjuluki Airy sebagai startup “Traveloka-affiliated” dalam liputannya pada 2019.

Gambaran Pertumbuhan Bisnis

Dalam empat tahun pertama, Airy tumbuh cukup pesat mengikuti tren bisnis budget hotel yang tengah naik daun di Asia Tenggara, dipelopori kesuksesan OYO Rooms di India. Pada 2016, Airy sudah hadir di sekitar 35 kota besar Indonesia dengan tiga tingkatan kamar: Airy Premier, Airy Standard, dan Airy Eco, masing-masing menjanjikan standar fasilitas dasar seperti Wi-Fi gratis, AC, air panas, dan seprai bersih.

Ekspansi berlanjut hingga cakupan kemitraan menembus lebih dari 2.000 properti dengan sekitar 30 ribu kamar terkelola di 100 kota di Indonesia. Untuk memperluas basis pendapatan, perusahaan kemudian merambah lini bisnis baru: penjualan tiket pesawat domestik, Airy Syariah untuk segmen hotel halal, Airy for Business untuk manajemen perjalanan dinas korporat, serta Airy Community sebagai program pelatihan standar layanan bagi mitra hotel. Ekspansi lini produk ini pula yang mendorong perusahaan merapikan brandingnya dari “Airy Rooms” menjadi cukup “Airy” menjelang akhir dekade.

Pertumbuhan ini terjadi di tengah persaingan yang kian sengit. RedDoorz, kompetitor sesama VHO yang didirikan Amit Saberwal pada 2015, mengantongi pendanaan pra-Seri B senilai US$11 juta pada Maret 2018 dari investor seperti Susquehanna International Group, IFC, InnoVen Capital, dan Jungle Ventures. Pada Februari 2018, OYO Rooms asal India resmi masuk pasar Indonesia dan langsung bersaing head-to-head dengan Airy, RedDoorz, dan ZenRooms — memicu perang diskon yang menggerus margin seluruh pemain VHO, termasuk Nida Rooms yang belakangan tutup lebih dulu.

Pendanaan VC: Data yang Tak Sepenuhnya Terbuka

Berbeda dari sejumlah startup Indonesia lain yang riwayat pendanaannya terdokumentasi rapi di basis data seperti Crunchbase atau Tracxn, jejak pendanaan Airy Rooms relatif tertutup ke publik. Tracxn bahkan mencatat perusahaan ini sebagai “unfunded” meski beroperasi dengan skala ratusan karyawan dan puluhan ribu kamar terkelola — sebuah anomali yang lebih mencerminkan minimnya keterbukaan informasi ketimbang benar-benar nihilnya suntikan modal ventura.

Yang bisa dipastikan dari catatan Crunchbase adalah struktur pendiri (Alvin Kumarga dan Danny Handoko) serta status operasional perusahaan sebagai entitas swasta yang pernah mempekerjakan 101–250 karyawan pada masa puncaknya. Kedekatan operasional dengan Traveloka — baik lewat rekrutmen eksekutif maupun kemitraan distribusi kamar — kerap memunculkan spekulasi soal dukungan modal dari lingkaran investor Traveloka, namun klaim ini belum dapat diverifikasi lewat dokumen pendanaan resmi yang dipublikasikan.

Kekosongan data ini sendiri adalah temuan yang layak dicatat: di sektor VHO Asia Tenggara yang butuh modal besar untuk subsidi kamar dan akuisisi mitra hotel. Ketertutupan pendanaan Airy bertolak belakang dengan keterbukaan kompetitornya seperti RedDoorz maupun OYO yang rutin mengumumkan putaran investasi ke media. Tanpa bantalan modal yang terdokumentasi dan teruji tahan banting, ruang gerak Airy untuk bertahan menghadapi guncangan permintaan pun menjadi lebih sempit dibanding pesaingnya yang lebih transparan sekaligus lebih well-funded.

Garis Waktu Menuju Kebangkrutan

Periode

Peristiwa Kunci

2015

Danny Handoko dan Samsu Sempena, dua mantan karyawan Traveloka, mendirikan Airy Rooms sebagai Virtual Hotel Operator (VHO) di Jakarta.

2015–2017

Alvin Kumarga turut menjadi co-founder pada masa awal, namun keluar dari perusahaan pada Juni 2017.

2016–2019

Ekspansi agresif: kemitraan menembus lebih dari 2.000 properti dan sekitar 30.000 kamar di sekitar 100 kota, plus peluncuran lini Airy Premier, Standard, dan Eco.

Feb 2018

OYO Rooms asal India resmi masuk pasar Indonesia, memperketat persaingan sesama VHO bersama RedDoorz, ZenRooms, dan Nida Rooms.

Akhir 2019

Airy meluncurkan Airy for Business (manajemen perjalanan dinas korporat) dan merambah penjualan tiket pesawat, seiring rebranding dari “Airy Rooms” menjadi “Airy”.

Jan 2020

Louis Alfonso Kodoatie, mantan eksekutif Traveloka, ditunjuk menggantikan Danny Handoko sebagai CEO Airy Indonesia.

Apr 2020

Di tengah anjloknya permintaan akibat COVID-19, Airy dilaporkan merumahkan sekitar 70% karyawannya.

7–8 Mei 2020

DealStreetAsia dan sejumlah media melaporkan Airy bersiap menutup operasional secara permanen.

15 Mei 2020

Manajemen resmi mengumumkan penghentian seluruh operasional per 31 Mei 2020 dan membuka proses pengembalian dana pengguna.

31 Mei 2020

Airy resmi berhenti beroperasi; seluruh kemitraan hotel dan transaksi melalui platform maupun OTA mitra dihentikan.

Awal Mula dan Penyebab Kebangkrutan

Tanda-tanda tekanan bisnis sebenarnya sudah terlihat sejak awal 2020, sebelum pandemi memukul penuh. Pada Januari 2020, manajemen melakukan suksesi kepemimpinan dengan menunjuk Louis Alfonso Kodoatie — mantan eksekutif Traveloka — menggantikan co-founder Danny Handoko sebagai CEO Airy Indonesia. Pergantian pucuk pimpinan menjelang krisis besar semacam ini kerap menjadi indikator adanya tekanan internal atau kebutuhan mendesak akan pendekatan bisnis baru.

Pukulan telak datang begitu COVID-19 melumpuhkan sektor pariwisata pada kuartal pertama 2020. “Selama beberapa bulan terakhir, Airy mengalami penurunan penjualan yang sangat signifikan serta menerima permintaan pengembalian dana yang sangat besar,” ujar Louis kepada media pada pertengahan Mei 2020.

Menurut laporan DealStreetAsia, indikasi kebangkrutan sudah terlihat sejak April 2020 ketika perusahaan merumahkan sekitar 70% karyawannya. Manajemen kemudian menghubungi mitra hotel lewat surel untuk memberitahukan penghentian kerja sama efektif 31 Mei 2020, sebelum akhirnya mengumumkan penutupan resmi ke publik pada 15 Mei 2020.

“Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan banyak hal, termasuk kondisi pasar yang nyaris tumbang akibat pandemi COVID-19 serta tantangan ekonomi yang sangat berat. Tentunya kami sangat menyesal akan keputusan ini,” kata Louis.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai penutupan Airy sebagai bagian dari “seleksi alam” bagi startup yang model bisnisnya sejak awal sudah rapuh secara keberlanjutan finansial — sebuah pandangan yang menegaskan bahwa pandemi berperan sebagai pemicu (trigger), bukan akar tunggal masalah.

Jika ditelaah lebih jauh, setidaknya ada tiga lapis penyebab yang saling menumpuk. Pertama, konsentrasi risiko: seluruh lini pendapatan Airy — kamar hotel, tiket pesawat, perjalanan bisnis korporat — bermuara pada satu variabel yang sama, yaitu mobilitas manusia. Ketika mobilitas berhenti total akibat kebijakan pembatasan, tidak ada lini bisnis lain yang bisa menahan arus kas.

Kedua, tekanan margin struktural dari model VHO itu sendiri: skema bagi hasil dengan mitra hotel plus subsidi harga untuk bersaing dengan OYO, RedDoorz, dan ZenRooms membuat Airy beroperasi dengan margin tipis bahkan di masa normal, sehingga daya tahan menghadapi guncangan permintaan mendadak sangat terbatas.

Ketiga, minimnya bantalan modal yang terdokumentasi membuat ruang manuver finansial Airy untuk membiayai masa krisis lebih sempit dibanding kompetitor yang rutin mengumumkan putaran pendanaan segar.

Pembelajaran bagi Founder Startup

Kegagalan Airy Rooms memberikan pelajaran berharga bagi para founder startup, khususnya mengenai pentingnya membangun diversifikasi pendapatan yang tidak melulu bergantung pada satu variabel utama seperti mobilitas manusia. Selain itu, ketergantungan pada perang harga dan subsidi di pasar yang mudah dikomoditisasi terbukti menggerus margin usaha secara fatal. Ketertutupan informasi finansial serta pergantian kepemimpinan mendadak juga menjadi sinyal bahaya internal yang mempersempit opsi penyelamatan saat krisis melanda.

Di sisi lain, transparansi pendanaan menjadi kunci dalam membangun rekam jejak kepercayaan investor guna menarik modal darurat di situasi genting. Akhirnya, proses penutupan bisnis (wind-down) yang bertanggung jawab—melalui komunikasi terbuka, tenggat waktu yang jelas, serta kepastian pengembalian dana bagi pengguna dan mitra—menjadi teladan penting untuk menjaga reputasi jangka panjang para founder di ekosistem startup.

Penutup

Airy Rooms bukan satu-satunya korban startup Indonesia pada masa awal pandemi — ia berbaris bersama Fabelio, JD.ID, Sorabel, hingga Zenius dalam daftar panjang perusahaan rintisan yang gulung tikar sejak 2020. Namun kisahnya tetap relevan sebagai studi kasus tentang bagaimana model bisnis yang secara struktural sudah tertekan bisa runtuh dengan cepat begitu diterjang guncangan eksternal yang benar-benar di luar kendali manajemen.

Bagi founder startup hari ini, pelajaran dari Airy bukan sekadar soal “jangan bangun bisnis travel di tengah pandemi” — melainkan soal disiplin membangun ketahanan finansial dan diversifikasi risiko jauh sebelum krisis benar-benar datang. (*AMBS)

 

Exit mobile version