Sabtu, 5 September 2026
No Result
View All Result
youngster.id
Pratesis Ads
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
No Result
View All Result
Home News Features

Startup yang Mati Sebelum Kehabisan Uang

5 September 2026
in Features, Headline
Reading Time: 12 mins read
startup kehabisan uang

Startup yang Mati Sebelum Kehabisan Uang (Foto: Ilustrasi)

0
SHARES
0
VIEWS

youngster.id - Dalam dunia startup, ada satu narasi kegagalan yang paling mudah dipahami: uang habis, investor tidak lagi mau menyuntikkan dana, runway mencapai nol, lalu perusahaan tutup.

Tetapi tidak semua startup mati dengan cara seperti itu. Ada perusahaan yang justru memilih berhenti ketika masih memiliki uang.

Fenomena ini terdengar paradoks. Bukankah selama masih memiliki kas, startup masih punya kesempatan untuk melakukan pivot, memperbaiki produk, mengejar pasar baru, atau mencari investor berikutnya?

Tidak selalu.

Dua kasus di Indonesia menunjukkan paradoks tersebut dengan jelas: PT Ringan Teknologi Indonesia (RINGAN) di sektor fintech dan ULA, startup e-commerce B2B yang membangun platform perdagangan untuk warung.

Keduanya tidak bisa disebut sebagai startup yang sehat atau sukses. Model bisnis keduanya pada akhirnya tidak menghasilkan prospek ekonomi yang cukup menarik untuk dipertahankan.

Namun ada satu perbedaan penting dari banyak kasus startup gagal lainnya: keduanya tidak menunggu sampai uang benar-benar habis untuk mengambil keputusan berhenti.

RINGAN mengembalikan izin usahanya kepada OJK. Dalam neraca sementara likuidasi per April 2025, perusahaan masih memiliki aset Rp18,89 miliar, termasuk Rp16,8 miliar kas dan setara kas.

Sementara ULA, yang telah menghimpun lebih dari US$141 juta, dilaporkan masih memiliki sekitar US$50 juta ketika proses wind-down dilakukan. Investor ditawari pengembalian sekitar 30% dari total modal yang pernah dihimpun.

Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar: Mengapa RINGAN dan ULA gagal? Pertanyaan yang lebih menarik adalah: Mengapa sebuah startup memilih mati ketika masih punya uang?

RINGAN: Mengapa Berhenti Saat Kas Masih Rp16,8 Miliar?

RINGAN memberikan contoh paling jelas.

OJK mencabut izin usaha PT Ringan Teknologi Indonesia pada 24 April 2025. Yang menarik, alasan formal pencabutan bukan karena perusahaan dinyatakan bangkrut, melainkan karena perusahaan mengembalikan izin usahanya. OJK kemudian mewajibkan perusahaan menyelesaikan hak dan kewajiban serta membentuk tim likuidasi.

Data neraca sementara likuidasi per 24 April 2025 menunjukkan total aset RINGAN sebesar Rp18,89 miliar. Sebagian besar berupa kas dan setara kas sebesar Rp16,8 miliar. Selain itu terdapat sekitar Rp1,61 miliar pajak dibayar muka.

Angka tersebut mengubah persepsi sederhana mengenai startup yang tutup.

RINGAN tidak menunggu sampai saldo bank menjadi nol. Perusahaan memilih menghentikan bisnis sebelum seluruh modal yang tersisa ikut terbakar.

Jika bisnis memang menghadapi prospek kerugian yang berkelanjutan, keputusan tersebut bisa dipahami.

Pertanyaannya bukan lagi, “Mengapa RINGAN tidak menggunakan Rp16,8 miliar itu untuk bertahan?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang akan dibeli dengan Rp16,8 miliar tersebut jika perusahaan memilih bertahan?”

Jika jawabannya hanya tambahan waktu, tetapi bukan perubahan mendasar pada bisnis, maka tambahan waktu tersebut mungkin tidak memiliki nilai yang cukup.

ULA: US$50 Juta yang Tidak Dipakai untuk “Last Push”

Kasus ULA lebih ekstrem karena skalanya jauh lebih besar.

ULA didirikan pada 2020 untuk membantu warung memperoleh barang, mengelola stok, dan mendapatkan akses pembiayaan. Startup ini tumbuh cepat dan menarik perhatian investor besar.

Pendanaannya mencapai lebih dari US$141 juta. Pada puncaknya, ULA disebut melayani lebih dari 100.000 warung, memproses sekitar 500.000 pesanan per bulan, dan mencapai sales run rate sekitar US$300 juta.

Namun skala tersebut menyembunyikan persoalan yang lebih mendasar. Model bisnis ULA membutuhkan inventory, gudang, logistik, modal kerja, teknologi, dan pembiayaan. Artinya, semakin besar bisnisnya, semakin besar pula kebutuhan modal dan kompleksitas operasionalnya.

Ketika kondisi pendanaan global berubah pada 2022, kelemahan tersebut semakin terlihat. ULA melakukan PHK terhadap 134 karyawan dan kemudian keluar dari bisnis distribusi FMCG berbasis inventory. Pada akhir 2023, bisnis inti ULA dihentikan.

Namun perusahaan belum kehabisan uang. Laporan mengenai proses wind-down menyebut ULA masih memiliki sekitar US$50 juta. Pada 2025, founder dan investor kemudian masuk ke proses penyelesaian perusahaan dengan sekitar 30% modal yang pernah dihimpun ditawarkan kembali kepada investor.

Di sinilah pelajaran penting dari ULA muncul. Dengan US$50 juta masih tersedia, mengapa tidak melakukan satu pivot terakhir?

Karena pivot membutuhkan uang, sementara tidak ada cukup bukti bahwa uang tambahan akan mengubah persoalan bisnis secara mendasar.

Revenue besar juga tidak otomatis berarti bisnis sehat. ULA disebut menghasilkan sekitar US$121 juta revenue pada 2022, tetapi model bisnisnya tetap menghadapi persoalan karena distribusi FMCG membutuhkan modal, inventory, dan logistik yang besar.

Dengan kata lain, scale bukan selalu penyelamat. Jika pertumbuhan justru membutuhkan semakin banyak modal tanpa memperbaiki keuntungan bisnis, semakin besar skala justru bisa memperbesar masalah.

RINGAN dan ULA: Berhenti Sebelum Uang Terakhir Terbakar

RINGAN dan ULA berbeda jauh dalam skala maupun industri. Namun keputusan akhirnya memiliki logika yang sama.

 

RINGAN

ULA

Industri

Fintech lending

B2B e-commerce

Skala

Relatif lebih kecil

US$141 juta+ pendanaan

Model

Fintech lending

Wholesale, inventory & supply chain

Persoalan

Prospek kerugian

Economics bisnis sulit

Kondisi saat shutdown

Masih ada Rp16,8 M kas

Dilaporkan masih ±US$50 M

Keputusan

Mengembalikan izin & likuidasi

Wind-down

Investor

Penyelesaian melalui likuidasi

±30% modal ditawarkan kembali

Pelajaran

Jangan membakar kas untuk memperpanjang bisnis yang tidak viable

Jangan mengejar growth jika economics tidak mengikuti

Perbedaan skalanya sangat besar. Namun logikanya sama: Berhenti sebelum modal terakhir terbakar.

Dalam bisnis, mempertahankan perusahaan tidak selalu menjadi pilihan terbaik hanya karena perusahaan masih memiliki uang.

Quibi: Ketika US$350 Juta Tidak Cukup untuk Bertahan

Fenomena ini bukan khas Indonesia. Kasus internasional yang sangat mirip adalah Quibi, startup streaming video yang didirikan Jeffrey Katzenberg dan Meg Whitman.

Quibi berhasil mengumpulkan US$1,75 miliar. Namun kurang dari tujuh bulan setelah diluncurkan, perusahaan mengumumkan wind-down karena gagal mendapatkan pelanggan yang cukup untuk membuat model bisnisnya viable.

Yang membuat kasus ini relevan adalah Quibi masih memiliki uang ketika keputusan tersebut dibuat.

Laporan Los Angeles Times menyebut perusahaan memiliki sekitar US$350 juta kas yang direncanakan untuk digunakan membayar kembali investor.

Dalam surat terbukanya, Katzenberg dan Whitman mengakui bahwa naluri entrepreneur adalah terus melakukan pivot, terutama ketika masih ada cash runway. Namun mereka menyimpulkan bahwa berbagai pilihan telah dicoba dan perusahaan memilih melakukan wind-down serta mengembalikan kas kepada pemegang saham.

Quibi menjadi versi ekstrem dari konsep “mati sebelum kehabisan uang.”

Bukan karena perusahaan tidak punya uang, tetapi karena uang yang tersisa tidak lagi dianggap cukup berharga untuk mempertahankan model bisnis yang tidak dipercaya akan berhasil.

Kapan Startup Sebaiknya Berhenti?

Tidak ada formula universal untuk menentukan kapan sebuah startup harus ditutup. Namun ada beberapa pertanyaan sederhana yang dapat membantu founder dan investor mengambil keputusan.

Pertama, apakah bisnis semakin sehat ketika semakin besar? Jika semakin banyak pelanggan justru menghasilkan semakin banyak kerugian, pertumbuhan bukan solusi.

Kedua, apakah masih ada jalan yang realistis menuju keuntungan? Startup tidak harus langsung profit. Tetapi harus ada alasan yang masuk akal bahwa bisnis dapat mencapai kondisi tersebut.

Ketiga, apakah pivot berikutnya membutuhkan terlalu banyak modal? Pivot membutuhkan waktu, orang, teknologi, pemasaran, eksperimen, dan uang. Jika biaya untuk mencoba lagi semakin besar sementara peluang keberhasilannya semakin kecil, keputusan untuk berhenti perlu dipertimbangkan.

Keempat, apakah pendanaan baru hanya membeli waktu? Jika putaran pendanaan berikutnya hanya digunakan untuk membayar biaya operasional tanpa memperbaiki persoalan bisnis, startup sebenarnya hanya memperpanjang masalah.

Kelima, apakah uang tersebut bisa menghasilkan nilai lebih besar di tempat lain? Inilah persoalan yang sering terlupakan. Modal yang terus dipakai untuk mempertahankan bisnis lama tidak bisa digunakan untuk peluang baru.

Pada akhirnya, ada satu pertanyaan sederhana yang bisa merangkum semuanya: Jika uang yang tersisa adalah uang kita sendiri, apakah kita masih mau mempertaruhkannya untuk bisnis ini?

Jika jawabannya tidak, mungkin sudah waktunya berhenti.

“Mati Muda” Tidak Selalu Berarti Mati Terlambat

Ada anggapan bahwa founder yang menghentikan startup berarti kurang gigih.

Dalam budaya startup, founder sering dipuji karena terus melakukan pivot, terus mencari product-market fit, terus melakukan fundraising, dan terus bertahan.

Semua itu penting.

Tetapi kemampuan mengetahui kapan harus berhenti juga merupakan bagian dari kemampuan seorang founder.

Shutdown tidak selalu berarti menyerah. Bisa juga berarti perusahaan sudah memperoleh cukup data untuk menyimpulkan bahwa modal berikutnya lebih baik digunakan di tempat lain.

Justru di sinilah muncul paradoks yang menarik. Startup bisa mati terlalu cepat. Tetapi startup juga bisa mati terlalu lambat.

Startup yang seharusnya berhenti ketika masih memiliki Rp16 miliar, tetapi terus membakar uang tersebut hingga nol, belum tentu lebih gigih. Bisa saja perusahaan hanya menghancurkan modal yang sebenarnya masih bisa diselamatkan.

Tantangannya adalah menemukan garis antara berhenti terlalu cepat dan berhenti terlalu lambat.

Epilog: Mati dengan Sisa Uang

RINGAN tidak mati karena kasnya nol. ULA tidak mati karena tidak pernah mendapat pendanaan. Quibi tidak mati karena rekening banknya kosong.

Mereka berhenti karena uang yang tersisa tidak lagi dianggap cukup bernilai untuk dipertaruhkan demi masa depan bisnis tersebut.

RINGAN meninggalkan proses likuidasi dengan kas yang masih mencapai Rp16,8 miliar. ULA melakukan wind-down setelah perjalanan pendanaan lebih dari US$141 juta dan dilaporkan masih memiliki sekitar US$50 juta. Quibi bahkan masih memiliki sekitar US$350 juta ketika memutuskan berhenti dan mengembalikan kas kepada investor.

Mereka bukan contoh startup yang sukses. Tetapi mereka memberikan pelajaran yang lebih jarang dibahas: kegagalan tidak harus menunggu sampai uang menjadi nol.

Dalam bisnis, ada saat ketika mempertahankan perusahaan memang merupakan pilihan terbaik. Tetapi ada juga saat ketika berhenti justru menjadi keputusan finansial yang paling bertanggung jawab.

Karena pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan: “Berapa lama lagi kita bisa bertahan?” Melainkan: “Jika uang yang tersisa adalah uang kita sendiri, apakah kita masih mau mempertaruhkannya untuk bisnis ini?”

Jika jawabannya tidak, mungkin sudah waktunya berhenti. Sebelum uang terakhir terbakar. (*AMBS)

 

Tags: fintech RINGANQuibistartup Indonesia tutupstartup kehabisan uangUla
Previous Post

XLSMART Kucurkan Investasi Rp20 Triliun, Perkuat Infrastruktur Digital Indonesia

Related Posts

startup Ula
Features

Ula: Ambisi Besar Membangun Rantai Pasok Warung Indonesia, Namun Berakhir Lebih Cepat

17 April 2026
0
Oxford Economics startup
Headline

Dalam 2 Tahun Terakhir, 11 Startup Indonesia Gulung Tikar

31 Desember 2024
0
digitalisasi warung
Features

Perebutan Kue Bisnis Mendigitalisasi Warung oleh Para Startup, Siapa Menuai Sukses?

10 Oktober 2023
0
Load More

Discussion about this post

Recent Updates

startup kehabisan uang

Startup yang Mati Sebelum Kehabisan Uang

5 September 2026
XLSMART Kucurkan Investasi Rp20 Triliun, Perkuat Infrastruktur Digital Indonesia

XLSMART Kucurkan Investasi Rp20 Triliun, Perkuat Infrastruktur Digital Indonesia

4 September 2026
Pencil Finance Danacita

Sokong Mahasiswa Indonesia Lewat Danacita, Pencil Finance Rampungkan Siklus Pembiayaan Web3 senilai US$1 Juta

4 September 2026
Promo QRIS ShopeePay

Dukung Adopsi Pembayaran Digital, ShopeePay Gelar Promo QRIS

4 September 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

27 Juni 2019
Sayurbox x Blitz

Sayurbox Gunakan Motor Listrik Blitz untuk Layanan Pengiriman

10 Januari 2024
Startup Hayokerja

Startup HayoKerja Hadirkan Solusi PHL bagi Perusahaan Pencari Tenaga Kerja

25 September 2023
fraud KoinP2P - KoinWorks

Gara-Gara Kasus Fraud KoinP2P, Rusak KoinWorks Sebelanga

22 November 2025
Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

0
Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

0
Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

0
Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

0
startup kehabisan uang

Startup yang Mati Sebelum Kehabisan Uang

5 September 2026
XLSMART Kucurkan Investasi Rp20 Triliun, Perkuat Infrastruktur Digital Indonesia

XLSMART Kucurkan Investasi Rp20 Triliun, Perkuat Infrastruktur Digital Indonesia

4 September 2026
Pencil Finance Danacita

Sokong Mahasiswa Indonesia Lewat Danacita, Pencil Finance Rampungkan Siklus Pembiayaan Web3 senilai US$1 Juta

4 September 2026
Promo QRIS ShopeePay

Dukung Adopsi Pembayaran Digital, ShopeePay Gelar Promo QRIS

4 September 2026
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Layanan Bisnis
Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved
No Result
View All Result
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development

Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Go to mobile version