youngster.id - Sejak eFishery resmi menyandang status unicorn pada 25 Mei 2023, tidak ada satu pun startup baru asal Indonesia yang berhasil menembus valuasi US$1 miliar. Tiga tahun sudah berlalu, dan angka itu—13 unicorn—tidak bergerak. Padahal periode 2019–2021 adalah masa ketika gelar ini hampir menjadi rutinitas tahunan: J&T Express, Ajaib, Kopi Kenangan, Xendit, dan Akulaku semuanya lahir dalam rentang waktu yang berdekatan.
Data terbaru dari Tracxn per Juni 2026 mengonfirmasi bahwa Indonesia kini berada di peringkat ke-16 dunia dari sisi jumlah unicorn yang pernah lahir, tertinggal dari Uni Emirat Arab dan Swedia yang masing-masing mencatat 14 unicorn. Jakarta tetap menjadi basis dominan dengan 11 dari 13 unicorn nasional bermarkas di kota itu. Dari sisi sektor, Consumer memimpin dengan tujuh unicorn, disusul Fintech dengan enam, dan Retail dengan empat.
Perlu digarisbawahi bahwa jumlah unicorn Indonesia berbeda-beda menurut lembaga pemeringkat. Tracxn dan CB Insights mencatat 13, sementara basis data lain seperti Failory hanya mengakui 9 karena mengeluarkan entitas yang sudah merger, delisting status unicorn-nya, atau dianggap startup regional bukan asli Indonesia (seperti Traveloka dan J&T yang beroperasi lintas negara).
Mengapa Blibli dan Tiket.com Tidak Masuk Daftar 13 Unicorn?
Sebelum membedah ke-13 unicorn, penting untuk menjawab pertanyaan yang kerap muncul: mengapa Blibli dan Tiket.com—dua nama yang kerap disebut dalam diskusi unicorn Indonesia—tidak masuk daftar ini?
Blibli (PT Global Digital Niaga Tbk) memang pernah menyandang status unicorn privat pada Agustus 2021 dengan valuasi US$1 miliar, dikonfirmasi langsung oleh CEO Kusumo Martanto kepada DailySocial.id. Namun, tidak seperti mayoritas unicorn yang membangun valuasinya melalui pendanaan modal ventura secara bertahap, Blibli tidak pernah mengumumkan pendanaan eksternal secara formal—perusahaan ini didirikan dan didanai langsung oleh Djarum Group melalui GDP Venture.
Karena tidak ada funding round publik yang terverifikasi, CB Insights dan Tracxn tidak pernah memasukkan Blibli ke dalam daftar resmi unicorn mereka. Dan ketika Blibli akhirnya melantai di Bursa Efek Indonesia pada November 2022—dengan IPO senilai sekitar Rp7,99 triliun yang menjadi pencatatan saham terbesar kedua tahun itu setelah GoTo—statusnya langsung berubah menjadi perusahaan publik, yang secara otomatis mengeluarkannya dari kategori “unicorn privat” menurut standar pelaporan global.
Tiket.com memiliki cerita yang berbeda tapi berujung pada hasil yang sama. Startup online travel agency (OTA) yang didirikan pada 2011 ini diakuisisi 100% oleh Blibli pada 2017, sehingga sejak saat itu tidak pernah berdiri sebagai entitas independen yang bisa mengumpulkan pendanaan ventura atas namanya sendiri. Meski Bloomberg melaporkan valuasi Tiket.com melampaui US$1 miliar pada 2021, dan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyebutnya sebagai unicorn dalam rapat DPR pada Agustus 2021, CB Insights tidak pernah memasukkan Tiket.com dalam daftar resminya.
Rencana Tiket.com untuk IPO melalui mekanisme SPAC di Amerika Serikat (bernegosiasi dengan COVA Acquisition Corp. dengan target valuasi gabungan US$2 miliar) juga tidak pernah terealisasi. Pada Oktober 2022, Tiket.com dilebur bersama Blibli dan Ranch Market menjadi ekosistem terintegrasi “Blibli Tiket” sebelum Blibli IPO—dan dengan itu, identitas Tiket.com sebagai calon unicorn independen menghilang sepenuhnya.
Singkatnya: Blibli tidak masuk daftar karena tidak punya riwayat funding round publik yang terverifikasi dan sudah IPO, sementara Tiket.com tidak masuk karena tidak pernah berdiri sebagai entitas independen yang diakui lembaga riset global, dan kini sudah melebur ke dalam induk yang sudah go public.
Berikut ini profil 13 Unicorn Indonesia, dari eFishery yang paling baru hingga Gojek yang membuka jalan pada 2016:
- eFishery (Mei 2023) — Unicorn AgriTech yang Berakhir dalam Skandal
eFishery mencatatkan diri sebagai unicorn paling baru di Indonesia pada 25 Mei 2023, dengan valuasi sekitar US$1,3 miliar setelah pendanaan Seri D. Startup yang didirikan pada 2013 oleh Gibran Huzaifah ini awalnya dipuji sebagai bukti bahwa teknologi bisa menembus sektor non-glamor seperti akuakultur—menyediakan alat pemberi pakan otomatis berbasis IoT untuk peternak ikan dan udang.
Investor utamanya mencakup nama-nama besar seperti Temasek, SoftBank Vision Fund 2, Aqua-Spark, dan Sequoia Capital India (kini Peak XV Partners). Namun, eFishery kini menjadi simbol paling ekstrem dari krisis tata kelola startup Indonesia. Skandal manipulasi laporan keuangan terkuak pada akhir 2024, ketika investigasi internal yang melibatkan auditor eksternal menemukan praktik penggelembungan pendapatan yang diduga berlangsung sejak 2018—dengan angka pendapatan yang digelembungkan hingga 75% di atas realisasi sebenarnya, menyebabkan kerugian investor diperkirakan mencapai US$ 300 juta (sekitar Rp5,2 triliun). Gibran Huzaifah dicopot dari posisi CEO pada Desember 2024 dan FTI Consulting ditunjuk sebagai manajemen sementara untuk meninjau bisnis perusahaan.
Dampaknya jauh lebih dari sekadar krisis reputasi: operasional eFishery dilaporkan berhenti total sejak Desember 2024, disertai gelombang PHK bertahap yang akhirnya memangkas sekitar 90–98% dari total 1.500 karyawan perusahaan. Pada 31 Juli 2025, Bareskrim Polri resmi menahan Gibran Huzaifah bersama dua eks eksekutifnya, Angga Hadrian Raditya (eks VP Corporate Finance) dan Andri Yadi (eks VP AI & IoT), atas dugaan penggelapan dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Kasus ini berujung pada vonis Pengadilan Negeri Bandung pada 29 April 2026: Gibran dijatuhi hukuman 9 tahun penjara dan denda Rp1 miliar, sementara Angga divonis 9 tahun dan Andri 7 tahun penjara dengan denda yang sama. Praktis, eFishery sebagai entitas bisnis yang beroperasi sudah tidak lagi eksis dalam bentuknya yang dulu menyandang status unicorn—menjadikannya bukan sekadar studi kasus tata kelola, melainkan satu-satunya unicorn Indonesia yang berakhir melalui kejatuhan pidana, bukan merger, IPO, atau divestasi seperti unicorn lain dalam daftar ini.
- Kredivo Holdings / Finaccel (2022) — Raksasa Buy Now Pay Later
Kredivo, yang beroperasi di bawah induk usaha Finaccel, mendapatkan status unicorn pada 2022 setelah serangkaian pendanaan yang menempatkan valuasinya di atas US$1 miliar. Didirikan oleh Akshay Garg pada 2016, Kredivo membangun model bisnis paylater dan pinjaman konsumen digital yang terintegrasi erat dengan platform e-commerce besar di Indonesia.
Investor utama Kredivo termasuk Square Peg Capital, Naver Financial, Mirae Asset-Naver Asia Growth Fund, dan Victory Park Capital untuk pendanaan utang. Kredivo juga sempat berupaya melantai di bursa Amerika Serikat melalui mekanisme SPAC pada 2022, meski rencana tersebut akhirnya dibatalkan di tengah gejolak pasar modal global.
- Akulaku (Februari 2022) — Fintech Pembiayaan Point-of-Sale
Akulaku bergabung dengan klub unicorn pada 15 Februari 2022 setelah meraih pendanaan Seri E senilai US$100 juta, dengan valuasi mencapai US$1,5 miliar. Startup yang berfokus pada pembiayaan cicilan untuk produk elektronik, gawai, dan kebutuhan rumah tangga ini menyasar segmen masyarakat yang belum terlayani penuh oleh perbankan konvensional (underbanked).
Model bisnis Akulaku berkembang dari marketplace pembiayaan menjadi grup finansial yang lebih luas, termasuk lini perbankan digital melalui Bank Neo Commerce dan lini asuransi. Investor utamanya mencakup Ant Financial (Alibaba Group), Sequoia Capital, dan Qiming Venture Partners.
- Xendit (2022) — Infrastruktur Pembayaran Regional
Xendit, perusahaan payment gateway yang didirikan oleh Moses Lo pada 2015, mencapai status unicorn pada 2022 setelah pendanaan Seri D yang dipimpin oleh Coatue Management dan Insight Partners, dengan partisipasi dari Accel dan Tiger Global. Xendit menyediakan infrastruktur pembayaran digital bagi bisnis di Indonesia dan Filipina, memproses transaksi untuk ribuan merchant mulai dari UMKM hingga perusahaan skala besar.
Keunggulan Xendit terletak pada posisinya sebagai “pipa” infrastruktur—bukan produk konsumen langsung—sehingga pendapatannya relatif terinsulasi dari fluktuasi sentimen konsumen, meski tetap terdampak oleh perlambatan investasi modal ventura di sektor fintech secara umum sejak 2023.
- Kopi Kenangan (Desember 2021) — Unicorn F&B Pertama Asia Tenggara
Kopi Kenangan resmi menjadi unicorn pada 27 Desember 2021 setelah meraih pendanaan Seri C senilai US$96 juta yang dipimpin oleh Tybourne Capital Management, dengan valuasi mencapai US$1 miliar. Didirikan oleh Edward Tirtanata, James Prananto, dan Cynthia Chaerunnisa pada 2017, Kopi Kenangan mengusung model jaringan kedai kopi “grab and go” berbasis teknologi yang menggabungkan efisiensi operasional ritel dengan platform pemesanan digital.
Pencapaian Kopi Kenangan menjadikannya unicorn F&B pertama di Asia Tenggara, sebuah anomali karena sebagian besar unicorn regional berasal dari sektor teknologi murni seperti fintech atau e-commerce. Investor lain yang turut mendukung termasuk Sequoia Capital India dan Horizons Ventures.
- Ajaib (Oktober 2021) — Unicorn Fintech Investasi Pertama Asia Tenggara
Ajaib mencapai status unicorn pada 4 Oktober 2021 setelah pendanaan Seri B senilai US$153 juta yang dipimpin oleh DST Global, dengan valuasi US$1 miliar. Platform investasi saham dan reksa dana digital ini didirikan oleh Anderson Sumarli dan Yada Piyajomkwan pada 2018, dengan target utama investor ritel pemula di pasar modal Indonesia.
Capaian ini menjadikan Ajaib unicorn fintech investasi pertama di Asia Tenggara—sebuah pencapaian yang relatif cepat mengingat usia perusahaan saat itu baru tiga tahun. Investor lain termasuk Ribbit Capital, Horizons Ventures, dan SoftBank Ventures Asia.
- J&T Express (April 2021) — Logistik Lintas Negara dengan Pendanaan Jumbo
J&T Express mendapat status unicorn pada 1 April 2021 setelah pendanaan Seri C senilai US$ 2 miliar dari konsorsium yang dipimpin Sequoia Capital dan Boyu Capital—salah satu putaran pendanaan terbesar yang pernah dicatat startup Indonesia hingga saat itu. Didirikan oleh Jet Lee (eks eksekutif OPPO Indonesia) dan Tony Chen pada 20 Agustus 2015, J&T membangun jaringan ekspedisi yang kini menjangkau lebih dari belasan negara, termasuk Tiongkok, Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
Karena cakupan operasinya yang lintas negara (lebih dari 13 negara di Asia, termasuk Tiongkok, Vietnam, Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Arab Saudi) dan basis kepemilikan yang terkait erat dengan modal dan eksekutif asal Tiongkok, sejumlah lembaga riset seperti Cento Ventures mengklasifikasikan J&T sebagai startup regional ketimbang unicorn “asli” Indonesia—sebuah perdebatan klasifikasi yang juga berlaku untuk Traveloka.
J&T bahkan sempat mencapai status decacorn dengan valuasi sekitar US$20 miliar sebelum IPO. Pada 27 Oktober 2023, J&T Global Express resmi melantai di Bursa Saham Hong Kong (HKEX), menjadikannya unicorn Indonesia kedua yang IPO setelah GoTo—dan sekaligus keluar dari kategori “unicorn privat” dalam basis data global.
- Traveloka (Juli 2017) — Travel-Tech Regional dengan Basis di Singapura
Traveloka mendapat status unicorn setelah memperoleh pendanaan sebesar US$ 350 juta dari Expedia pada Juli 2017, dengan dukungan investor lain seperti East Ventures, Hillhouse Capital Group, dan Sequoia Capital. Didirikan oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang pada 2012, Traveloka tumbuh dari platform pemesanan tiket pesawat menjadi super-app travel yang juga melayani pemesanan hotel, asuransi perjalanan, paylater, dan layanan gaya hidup.
Perlu dicatat, Traveloka adalah salah satu unicorn dalam daftar ini yang status “asal Indonesia”-nya kerap diperdebatkan: perusahaan ini beroperasi lintas negara di setidaknya enam pasar Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Australia), dan manajemen Traveloka sendiri menyatakan bahwa kantor pusatnya berada di Singapura—bukan Jakarta.
Itulah sebabnya sejumlah lembaga riset seperti Cento Ventures dan Failory memilih mengklasifikasikan Traveloka sebagai startup “regional” ketimbang unicorn “asli Indonesia”. Meski demikian, Traveloka tetap konsisten dimasukkan dalam daftar 13 oleh Tracxn mengingat akar pendirian dan basis pengguna terbesarnya berada di Indonesia.
Di antara seluruh unicorn dalam daftar ini, Traveloka termasuk yang paling konsisten mempertahankan relevansinya hingga 2026, dengan valuasi yang berbagai laporan tempatkan di kisaran US$3 miliar.
- Bukalapak (2017) — Unicorn E-Commerce yang Sudah IPO, Kini Menuju Akuisisi
Bukalapak mendapat status unicorn pada 2017 dan menjadi unicorn Indonesia pertama yang melantai di bursa saham. IPO Bukalapak pada Agustus 2021 di Bursa Efek Indonesia mencatatkan sejarah sebagai penawaran saham perdana terbesar dalam sejarah BEI saat itu, menghimpun sekitar Rp21,9 triliun (sekitar US$1,5 miliar) dan sempat memberikan valuasi pasar di kisaran US$6–7,5 miliar. Karena sudah berstatus perusahaan publik (Tbk), Bukalapak otomatis keluar dari kategori “unicorn privat” menurut standar CB Insights dan Tracxn—meski secara historis tetap dihitung dalam narasi ekosistem unicorn Indonesia.
Didirikan oleh Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan Fajrin Rasyid pada 2010, Bukalapak awalnya membangun marketplace C2C sebelum bertransformasi menjadi platform yang lebih fokus pada UMKM dan mitra warung (Mitra Bukalapak). Memasuki 2025–2026, performa saham Bukalapak di bursa mengalami tekanan signifikan, dan perusahaan ini bahkan menutup lini marketplace produk fisiknya pada awal 2025 untuk berfokus pada produk digital dan investasi.
Kabar terbaru menyebutkan adanya pembicaraan potensi akuisisi oleh raksasa e-commerce asal Tiongkok, Temu—sebuah perkembangan yang jika terealisasi akan menjadi salah satu konsolidasi paling signifikan di lanskap e-commerce Indonesia.
- OVO (2019) — Status Unicorn yang Memudar dari Radar Global
Menteri Komunikasi dan Informatika saat itu, Rudiantara, mengumumkan status unicorn OVO dalam acara Siberkreasi 2019, dengan CB Insights mencatat valuasi sebesar US$2,9 miliar sejak Maret 2018. OVO dibangun sebagai dompet digital yang terintegrasi luas dengan ekosistem ritel Grup Lippo, sebelum kemudian bermitra erat dengan Grab di Indonesia.
Yang menarik, OVO kini tidak lagi tercatat secara konsisten dalam basis data unicorn aktif seperti CB Insights—sebagian karena perubahan struktur kepemilikan dan akuisisi mayoritas saham oleh Grab pada 2023–2024, yang pada praktiknya melebur status independensi OVO sebagai entitas unicorn yang berdiri sendiri.
- GoTo Group (2021) — Decacorn Hasil Merger Gojek-Tokopedia
GoTo Group lahir dari merger Gojek dan Tokopedia pada Mei 2021, menggabungkan dua unicorn sektor berbeda—ride-hailing/super-app dan e-commerce—menjadi satu entitas raksasa dengan status decacorn (valuasi di atas US$10 miliar). GoTo kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia pada April 2022 dengan kapitalisasi pasar awal yang sempat menembus lebih dari Rp400 triliun.
Sejak IPO, performa saham GoTo mengalami volatilitas tinggi dan tekanan harga yang signifikan, mendorong manajemen melakukan berbagai langkah efisiensi, termasuk PHK massal dan divestasi lini bisnis on-demand kepada Grab pada 2024 sebagai bagian dari konsolidasi regional. Hingga 2026, GoTo tetap menjadi entitas digital paling bernilai di Indonesia, meski lintasannya mencerminkan transisi keras dari era “bakar uang” ke tuntutan profitabilitas pasar modal.
- Tokopedia (2017) — Marketplace yang Melebur ke GoTo
Tokopedia didirikan pada 17 Agustus 2009 oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison, dan mendapat status unicorn pada 2017 setelah serangkaian pendanaan besar dari investor seperti SoftBank Ventures dan Sequoia Capital, yang kemudian diikuti investasi raksasa dari Alibaba Group dan SoftBank Vision Fund pada 2018. Sebagai salah satu pionir e-commerce C2C/marketplace Indonesia, Tokopedia membangun basis penjual UMKM yang sangat luas di seluruh pelosok negeri.
Sejak merger ke GoTo pada 2021 dan kemudian divestasi mayoritas saham bisnis e-commerce kepada TikTok (melalui TikTok Shop) pada akhir 2023, identitas Tokopedia sebagai entitas unicorn berdiri sendiri praktis melebur sepenuhnya ke dalam struktur korporasi yang lebih besar—mencerminkan pola umum di mana unicorn generasi awal Indonesia berakhir melalui konsolidasi, bukan pertumbuhan independen berkelanjutan.
- Gojek (2016) — Unicorn Pertama yang Membuka Jalan
Gojek mendapat status unicorn pertama di Indonesia pada tahun 2016, dengan total pendanaan lebih dari US$1 miliar sejak 2015 dari investor seperti NSI Ventures, Sequoia Capital, dan DST Global, yang kemudian disusul investasi dari KKR & Co. dan Warburg Pincus pada pertengahan 2016 yang membawa valuasinya ke angka US$ 1,2 miliar. Didirikan oleh Nadiem Makarim pada 2010, Gojek memulai bisnisnya sebagai layanan kurir dan ojek berbasis panggilan telepon sebelum bertransformasi total menjadi platform aplikasi pada 2015.
Data Tracxn secara spesifik mencatat momen unicorn Gojek pada 4 Agustus 2016, menyusul putaran pendanaan Seri C senilai US$550 juta yang dipimpin KKR, Warburg Pincus, dan Farallon Capital Management. Gojek menjadi blueprint bagi model super-app Indonesia—menggabungkan transportasi, logistik, pembayaran, dan hiburan dalam satu ekosistem—sebuah pendekatan yang kemudian ditiru secara luas oleh kompetitor regional seperti Grab. Setelah merger menjadi GoTo pada 2021, Gojek tetap beroperasi sebagai lini bisnis utama di bawah holding tersebut.
Mengapa Indonesia Tidak Melahirkan Unicorn Baru Sejak 2023?
Kemandekan tiga tahun ini bukan kebetulan, melainkan akumulasi dari beberapa faktor struktural yang saling berkaitan.
Pertama, berakhirnya era suku bunga rendah global. Kenaikan suku bunga The Fed sejak 2022 mengubah kalkulasi investor modal ventura secara fundamental. Modal yang dulu mengalir murah ke startup berisiko tinggi kini lebih memilih instrumen aman dengan imbal hasil kompetitif, memaksa dana ventura global menjadi jauh lebih selektif dan disiplin dalam menilai startup tahap akhir (late-stage) yang biasanya menjadi kandidat unicorn.
Kedua, pergeseran paradigma dari “growth at all costs” ke jalur menuju profitabilitas. Era “bakar uang” demi pertumbuhan pengguna tanpa unit ekonomi yang sehat telah berakhir. Investor kini menuntut bukti konkret bahwa rasio customer acquisition cost (CAC) lebih rendah dari lifetime value (LTV) pelanggan, sesuatu yang banyak startup Indonesia generasi 2018–2021 belum mampu buktikan secara konsisten.
Ketiga, dampak reputasional dari skandal eFishery. Terungkapnya manipulasi laporan keuangan eFishery pada akhir 2024 menjadi pukulan signifikan terhadap kepercayaan investor global pada kualitas tata kelola dan transparansi pelaporan startup Indonesia. Kasus ini memperkuat kehati-hatian investor dalam proses due diligence, terutama untuk startup non-fintech yang model bisnisnya lebih sulit diverifikasi secara independen dibandingkan startup dengan data transaksi finansial yang lebih terstandardisasi.
Keempat, gelombang konsolidasi yang justru mengurangi jumlah “unicorn independen”. Alih-alih melahirkan unicorn baru, ekosistem Indonesia 2023–2025 justru diwarnai oleh konsolidasi unicorn lama—divestasi Tokopedia ke TikTok, divestasi lini on-demand GoTo ke Grab, akuisisi mayoritas OVO oleh Grab, dan kabar rencana akuisisi Bukalapak oleh Temu. Tren ini mencerminkan preferensi investor global untuk mendukung konsolidasi pemain yang sudah mapan ketimbang membiayai pertumbuhan agresif pemain baru dari nol.
Kelima, down round dan tekanan valuasi di pasar sekunder. Sejumlah startup yang sempat mendekati level unicorn pada 2021–2022 justru mengalami penyesuaian valuasi ke bawah (down round) seiring koreksi pasar modal ventura global, sehingga jarak menuju US$1 miliar justru melebar bagi sebagian kandidat, bukan menyempit.
Siapa Kandidat Unicorn Baru Indonesia?
Meski belum ada unicorn baru sejak 2023, sejumlah startup tetap berada dalam radar sebagai “soonicorn”—istilah yang merujuk pada startup dengan valuasi mendekati US$1 miliar dan dianggap berpotensi menembus status tersebut dalam waktu dekat. Berdasarkan pemetaan valuasi terakhir oleh lembaga riset modal ventura seperti Cento Ventures, beberapa nama berikut konsisten disebut sebagai kandidat utama, meski perlu dicatat valuasi mereka dapat berubah signifikan sejak data tersebut dipublikasikan:
Halodoc menjadi salah satu kandidat paling kuat di sektor healthtech, mengingat penetrasi telemedicine di Indonesia masih jauh dari titik jenuh, terutama di luar Jakarta. Keunggulannya terletak pada integrasi layanan konsultasi dokter, pemesanan obat, dan laboratorium dalam satu platform, dengan basis pengguna yang terus tumbuh seiring digitalisasi layanan kesehatan primer.
Sociolla memimpin di sektor beauty-commerce, dengan model bisnis omnichannel yang menggabungkan e-commerce kosmetik dengan jaringan toko fisik—sebuah kombinasi yang relatif tahan terhadap volatilitas pasar dibanding pemain e-commerce murni digital.
GudangAda mewakili sektor B2B commerce dan distribusi grosir, segmen yang dianggap menarik karena menyasar inefisiensi rantai pasok tradisional yang masih sangat besar di Indonesia, terutama untuk distribusi kebutuhan sehari-hari ke warung dan toko kelontong di luar kota besar.
Segmen ini sekaligus menjadi pengingat bahwa model bisnis B2B distribusi berbasis inventaris (inventory-led) sangat padat modal dan rentan di tengah tech winter—seperti yang dialami Ula, kompetitor sejenis yang didanai Jeff Bezos dan meraup total US$141 juta, namun resmi tutup pada awal 2025 setelah mengembalikan sekitar 30% dana ke investor karena model bisnisnya tidak lagi sustainable secara unit ekonomi, meski masih memiliki sekitar US$50 juta kas di tangan saat keputusan wind-down diambil.
Ruangguru tetap menjadi nama besar di sektor edutech, meski sektor ini secara global mengalami perlambatan pendanaan pasca-pandemi seiring normalisasi pembelajaran tatap muka.
Pluang dan Bibit mewakili gelombang kedua fintech investasi ritel, bersaing dengan Ajaib dalam menangkap minat generasi muda Indonesia terhadap investasi pasar modal dan aset digital.
Dari sisi sektor, laporan riset menyebut Green Tech (energi terbarukan), HealthTech, dan AgriTech sebagai kandidat sektor unicorn generasi berikutnya, sejalan dengan agenda transisi energi dan ketahanan pangan nasional. Adopsi kecerdasan buatan (AI) untuk efisiensi operasional juga disebut sebagai faktor pembeda yang akan meningkatkan daya tarik startup di mata investor global ke depan—startup yang berhasil mengintegrasikan AI untuk personalisasi, deteksi kecurangan (fraud detection), dan otomasi proses bisnis diproyeksikan memiliki valuasi premium dibanding kompetitor yang masih mengandalkan model operasional konvensional.
Penutup: Era Kualitas, Bukan Sekadar Kecepatan
Pergeseran dari era “berburu unicorn” ke era “membangun fundamental yang tangguh” tampaknya menjadi narasi dominan ekosistem startup Indonesia memasuki paruh kedua dekade ini. Jumlah unicorn yang stagnan di angka 13 selama tiga tahun bukan otomatis berarti kegagalan ekosistem—melainkan cerminan dari proses seleksi alam yang lebih ketat, di mana investor kini menimbang keberlanjutan model bisnis di atas kecepatan pertumbuhan semata.
Bonus demografi Indonesia dan penetrasi internet yang masih jauh dari titik jenuh di kota-kota tingkat dua dan tiga tetap menjadi modal besar bagi lahirnya unicorn generasi berikutnya. Pertanyaannya bukan lagi “kapan” unicorn baru akan lahir, tetapi “siapa” yang mampu membuktikan unit ekonomi sehat sambil tetap mempertahankan pertumbuhan eksponensial yang menjadi syarat mutlak status tersebut. (*AMBS)



















Discussion about this post