51 Tahun Polytron, Strategi Beradaptasi dengan Generasi Baru

youngster.id - Selama 51 tahun, Polytron menghadapi perubahan teknologi sekaligus perubahan generasi konsumennya. Dari televisi tabung hingga perangkat pintar dan kendaraan listrik, perjalanan brand asal Kudus ini menunjukkan bagaimana produk teknologi perlu terus menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan masyarakat.

Menariknya, meski telah lama hadir di Indonesia, masih ada konsumen yang mengira Polytron sebagai brand asing. Padahal, Polytron merupakan brand lokal yang lahir di Kudus pada 1975. Sejak awal, perusahaan dibangun dengan keyakinan bahwa Indonesia mampu menciptakan produk elektronik untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri.

Menjaga relevansi selama lebih dari lima dekade tentu bukan perkara mudah. Kebutuhan konsumen terus berubah, begitu pula teknologi dan gaya hidup yang mengikutinya. Karena itu, Polytron menerapkan strategi 3I, yakni innovation, improvement, dan invention untuk mengembangkan produknya.

General Manager Corporate Communications Polytron, Diantika, mengatakan strategi tersebut dilakukan dengan terus mendengarkan kebutuhan konsumen dan melakukan pengembangan secara berkelanjutan.

“Di Polytron itu kita mengenal strategi 3I. Kita selalu melakukan inovasi dan improvement terus-menerus. Jadi kita dengarkan konsumen maunya apa,” ujar Diantika dalam jumpa pers gelat Polytron Fest 2026, Sabtu (19/9/2026) di Gelora Bung Karno,Jakarta.

Menurutnya, kebutuhan konsumen menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan produk. Salah satu contohnya adalah AC Polytron Neuva Pro dengan fitur Voice Sense yang baru diperkenalkan. Teknologi tersebut memungkinkan pengguna mengoperasikan AC melalui perintah suara tanpa membutuhkan koneksi internet. Pengguna dapat memberikan perintah seperti “Hai Polytron”, “Nyalakan AC”, atau “Suhu Nyaman”.

“Pengembangan tersebut berangkat dari kebiasaan konsumen dalam menggunakan perangkat sehari-hari. Misalnya, ketika seseorang baru tiba di rumah dan harus mencari remote AC untuk menyalakan pendingin ruangan.

Dengan fitur Voice Sense, Polytron mencoba membuat teknologi yang lebih praktis sekaligus sesuai dengan kebiasaan pengguna, ” katanya.

Diantika mengakui, menjaga relevansi juga tidak hanya dilakukan melalui produk. Polytron menghadapi tantangan lain, yaitu bagaimana tetap dekat dengan generasi konsumen yang terus berganti.

Jika sebelumnya brand lebih dekat dengan generasi yang sudah mengenal Polytron sejak lama, kini perusahaan juga perlu membangun hubungan dengan Gen Z. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah menghadirkan aktivitas yang memungkinkan brand berkomunikasi langsung dengan konsumen, mulai dari festival hingga konser dan podcast.

“Dulu generasi milenial dan lebih tuanya memang sudah buy-in dengan Polytron. Tapi Gen Z ini bagaimana caranya kita tetap relevan,” ujarnya.

Untuk itu brand ini menggelar kampanye “Bangga Terus Melangkah” yang menghadirkan grup musik MALIQ & D’Essentials . Menurut Diantika, pesan kampanye tersebut ingin mengajak masyarakat untuk tetap bergerak meski menghadapi berbagai tantangan.

“Tidak penting langkah besar, langkah kecil yang penting melangkah,” ujarnya.

Semangat tersebut kemudian diterjemahkan melalui program “5.100 Langkah Baik” bersama Kitabisa.com. Program ini mengajak masyarakat membagikan cerita mengenai langkah baik yang mereka lakukan. Setiap satu share dari kampanye tersebut akan dikonversikan menjadi donasi senilai Rp51.000 untuk beasiswa pendidikan dan bantuan alat usaha bagi UMKM yang membutuhkan.

Bagi Polytron, perjalanan selama 51 tahun bukan hanya soal bertahan di tengah perubahan. Relevansi juga dibangun dengan memahami kebutuhan konsumen, mengembangkan teknologi, dan mencari cara baru untuk tetap terhubung dengan generasi yang terus berganti.

 

STEVY WIDIA

 

Exit mobile version