youngster.id - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara belajar dan mengajar di dunia pendidikan. Namun di tengah pesatnya perkembangan teknologi tersebut, peran guru dinilai tetap menjadi faktor utama dalam membentuk karakter, cara berpikir, hingga kesiapan generasi muda menghadapi masa depan.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) menunjukkan bahwa Gross Enrollment Ratio (GER) pendidikan tinggi Indonesia baru mencapai 32,89% pada 2025, Artinya, lebih dari separuh kelompok usia kuliah di Indonesia masih belum mengenyam pendidikan tinggi, terutama masyarakat berpenghasilan rendah dan siswa dari daerah dengan akses pendidikan terbatas.
Hal tersebut menjadi fokus dalam penyelenggaraan PSF Education Summit: Transforming Lives, Shaping the Future yang digelar Putera Sampoerna Foundation (PSF). Forum ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, komunitas pendidikan, hingga pelaku industri dan teknologi untuk membahas masa depan pendidikan di era digital.
Head of Program & GuruBinar PSF-SDO Juliana menekankan, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah, sektor swasta, hingga komunitas pendidikan.
“Untuk mewujudkan transformasi yang menyeluruh dan berkelanjutan, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas pendidikan perlu terus diperkuat agar dampaknya semakin luas dan merata,” katanya pada gelar PSF Education Summit 2026, Rabu (13/5/2026) di Jakarta.
Melalui kegiatan ini, PSF kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pendidikan Indonesia melalui perluasan akses pendidikan berkualitas, penguatan kapasitas guru, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan. Komitmen ini terus diwujudkan secara konsisten selama 25 tahun melalui pemberian lebih dari 53 ribu beasiswa serta program pengembangan guru yang telah menjangkau lebih dari 34 provinsi di seluruh Indonesia.
Selain forum diskusi, rangkaian acara ini turut diperkuat dengan sesi Workshop Strategi Pembelajaran bertajuk “Kolaborasi dan Visualisasi Pembelajaran di Era Digital” yang berfokus pada penguatan kapasitas guru agar dapat mengajar dengan lebih cerdas, efisien, dan berdampak.
“Kami berharap acara ini dapat menjadi ruang untuk memperkuat dialog dan kolaborasi dalam mendorong kemajuan pendidikan di Indonesia. Melalui momentum 25 tahun PSF dan peringatan Hari Pendidikan Nasional, PSF akan terus melanjutkan komitmennya dalam mendukung transformasi pendidikan di Indonesia,” kata Juliana.
Salah satu dampak nyata dari upaya pemerataan akses pendidikan ini dirasakan langsung oleh Tinton Galih Yudhianto, Director of Partnership & Communications Konservasi Indonesia, yang merupakan penerima beasiswa PSF untuk jenjang S1 di Universitas Airlangga pada tahun 2002.
“Bagi saya, pendidikan adalah ‘paspor’ untuk meraih kehidupan yang lebih baik, bukan hanya dari segi pengetahuan, tetapi juga cara berpikir dan karakter. Kesempatan menerima beasiswa PSF dan menempuh pendidikan tinggi membantu saya melihat dunia dengan lebih luas, berpikir lebih kritis, dan lebih percaya diri. Selain itu, saya juga mendapat dukungan dari mentor, teman, dan komunitas untuk terus berkembang. Pengalaman ini membuktikan bahwa latar belakang ekonomi bukanlah batas untuk melangkah lebih jauh,” katanya.
Sementara itu, upaya memperluas akses dan meningkatkan kualitas pendidikan perlu berjalan secara beriringan. Dampak dari penguatan kapasitas pendidik ini juga dirasakan oleh Iswatul Khoiriyah, S.Pd.SD, Kepala Sekolah SDN Temas 02 Kota Batu yang menerima beasiswa pelatihan guru PSF melalui GuruBinar.
“Mengikuti pelatihan dari PSF memberi saya banyak wawasan baru yang saya terapkan di kelas. Bagi saya, mengajar bukan sekadar tentang siapa muridnya, tetapi bagaimana mempersiapkan mereka untuk 10 tahun ke depan dengan sepenuh hati. Di era digital ini, saya juga mendorong siswa untuk berpikir kreatif agar siap menghadapi dunia kerja di masa depan,” ungkap Iswatul.
Pada kesempatan itu, Kepala Seksi Pendidik Bidang PTK Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Juwarto menilai perkembangan AI tidak akan menggantikan peran guru dalam proses pendidikan.
“Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat, guru tetap menjadi kunci utama transformasi pendidikan. Lebih dari sekadar menyampaikan pengetahuan, guru hadir dengan hati untuk membimbing setiap siswa menjadi pemenang di masa depan,” ucapnya.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post