Biaya Pengiriman Melonjak 18,9%, Sektor Ritel dan Logistik RI Agresif Rombak Rantai Pasok

Armada Logistik

Biaya Pengiriman Melonjak 18,9%, Sektor Ritel dan Logistik RI Agresif Rombak Rantai Pasok (Foto: Ilustrasi)

youngster.id - Sektor ritel dan logistik di Indonesia tengah melakukan restrukturisasi rantai pasok secara agresif. Langkah ini dipicu oleh rilis laporan utama yang mengungkapkan adanya lonjakan biaya pengiriman sebesar 18,9% serta pergeseran preferensi konsumen, di mana rasio dua banding satu menunjukkan konsumen kini lebih memilih kepastian waktu pengiriman (predictability) dibandingkan kecepatan (speed).

Diterbitkan dalam ajang Last Mile Leaders Asia Summit di Bangkok, laporan bertajuk FarEye’s APAC Report 2026 tersebut menyoroti jejak besar Indonesia dalam transformasi logistik regional. Indonesia tercatat sebagai pasar tunggal terbesar dalam survei ini, dengan porsi mencapai 22% dari total studi.

Temuan ini menjadi titik balik krusial bagi pelaku bisnis lokal dalam mengelola jaringan distribusi yang kompleks di pasar kepulauan terbesar di dunia ini. Guna menyiasati margin keuntungan yang kian tergerus serta kenaikan biaya transportasi, perusahaan regional mulai mengubah strategi operasional mereka dengan cepat.

Laporan tersebut menemukan bahwa 48% organisasi yang disurvei berencana menekan biaya dengan meningkatkan ketergantungan pada penyedia jasa pengiriman pihak ketiga (outsourced). Selain itu, alur kerja logistik tradisional kini mulai digantikan oleh jaringan otomatis, di mana 98,3% responden menyatakan kepercayaan penuh pada pengambilan keputusan berbasis AI (AI-enabled) untuk manajemen armada dan penentuan rute (routing).

General Manager Supply Chain Strategy & Excellence Matahari (Hypermart), Abdul Aziz, menekankan bahwa fondasi utama transformasi digital terletak pada kualitas data sebelum melangkah ke pemanfaatan kecerdasan buatan.

“Mendapatkan data yang berkualitas jauh lebih penting daripada langsung melompat ke AI. Jika data Anda tidak bersih, AI tidak akan membantu. Kepatuhan operasional (operational compliance) adalah yang utama, dan itulah tahapan yang saat ini masih dijalani oleh sebagian besar dari kami,” ujar Abdul, dikutip Senin (8/6/2026).

CEO dan Co-Founder FarEye, Kushal Nahata, menambahkan bahwa fokus industri logistik masa depan telah bergeser.

“Tantangan berikutnya bukan lagi soal kecepatan, melainkan keandalan (reliability), kecerdasan sistem, dan kejelasan biaya. Operator yang mampu mencapai konvergensi ini lebih dulu akan memimpin pasar,” pungkas Kushal.

 

STEVY WIDIA 

Exit mobile version