Bisnis Restoran Jepang Bertumbuh, Gokuniku Unggulkan Cita Rasa Lokal

Cooking live di Gokuniku Jakarta. (Foto: stevywidia/youngster)

youngster.id - Minat terhadap kuliner Jepang di Indonesia terus berkembang. Data Japan External Trade Organization (JETRO) menunjukkan jumlah restoran Jepang di Indonesia mencapai 6.580 restoran pada 2025, meningkat 2.580 restoran dibandingkan 2023. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam survei restoran Jepang di berbagai negara dan kawasan.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan pasar kuliner masih menjadi salah satu sektor yang menarik di Jakarta. Apalagi sepanjang 2025, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum di Jakarta tumbuh 9,33%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jakarta secara keseluruhan yang mencapai 5,21%.

Potensi ini mendorong PT Lima Boga Bersaudara menghadirkan Gokuniku, restoran dengan menu utama shabu-shabu dan sukiyaki. Berbeda dari restoran Jepang yang secara khusus menyasar ekspatriat atau warga Jepang, Gokuniku justru menjadikan konsumen lokal sebagai target utama.

“Kami menghadirkan Gokuniku untuk kalangan high-end yang menginginkan cita rasa Jepang dengan pengalaman bersantap yang eksklusif,” kata Michael CEO Gokuniku pada grand opening Senin (24/8/2026) di Jakarta.

Restoran ini memilih lokasi di kawasan Senopati, Jakarta. Menurut Michael, pemilihan lokasi ini mengingat sasaran utama dari Gokuniku adalah konsumen lokal.

“Pemilihan lokasi ini mengikuti perkembangan pasar konsumen pecinta makanan Jepang yang terus tumbuh di kawasan ini,” ujarnya.

Sejak soft opening pada Maret 2026, sekitar 80% pengunjung restoran saat ini merupakan konsumen lokal. Sementara sisanya adalah ekspatriat Jepang dan wisatawan.

Komposisi tersebut turut memengaruhi pendekatan Gokuniku dalam mengembangkan menu. Alih-alih mempertahankan cita rasa Jepang secara sepenuhnya, restoran melakukan penyesuaian agar hidangan lebih mudah diterima oleh konsumen Indonesia. Menu spicy tomato sukiyaki yang menonjolkan rasa asam segar dan cabai rawit menjadi signature product Gokuniku.

“Yang membedakan kami dengan menu restoran Jepang lain adalah spicy tomato sukiyaki. Itu adalah signature product kami, mengingat pasar utama Gokuniku memang adalah orang Indonesia,” ujar Michael.

Sementara untuk daging yang digunakan adalah Togarashi, Kata Rosu, dan Ribeye. Bahkan untuk pilihan Ribeye premium, Gokuniku menggunakan daging yang berasal dari wilayah Miyazaki, Kagoshima, dan Hida di Jepang.

Pilihan tersebut menjadi salah satu cara Gokuniku mencari pembeda di tengah banyaknya restoran Jepang yang sudah hadir di kawasan Senopati.

Selain menawarkan shabu-shabu dan sukiyaki, Gokuniku juga menghadirkan konsep private dining dengan 9 VIP room yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti karaoke dan demo cooking. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp368 ribu hingga Rp1 juta per paket.

“Konsep private room tersebut menjadi salah satu fasilitas yang banyak digunakan pengunjung,” ujarnya.

Michael mengatakan, sejauh ini operasional Gokuniku berjalan sesuai harapan. Namun, perusahaan belum memiliki target ekspansi.

“Fokus kami adalah agar semakin banyak konsumen yang mencoba hidangan di Gokuniku. Dengan harapan bisnis kami dapat terus bertumbuh dengan baik,” pungkasnya.

Di tengah pertumbuhan bisnis restoran Jepang di Indonesia, Gokuniku mencoba membangun pasarnya dengan menyasar konsumen lokal. Penyesuaian cita rasa, terutama melalui spicy tomato sukiyaki, menjadi salah satu strategi untuk membedakan diri di tengah persaingan restoran Jepang di Jakarta.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version