BSSN dan Huawei Perkuat Kerja Sama, Lebih dari 39.000 Orang Ikut Program Keamanan Siber

Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi dan CEO Huawei Indonesia Guo Hailong. (Foto: istimewa/huawei)

youngster.id - Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), hingga komputasi kuantum menghadirkan peluang baru sekaligus tantangan di bidang keamanan siber. Di tengah meningkatnya ancaman digital, kebutuhan akan talenta dan kesadaran keamanan siber menjadi semakin penting untuk mendukung ekosistem digital yang aman dan tepercaya.

Karena itu, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Huawei Indonesia memperbarui Nota Kesepahaman (MoU) mengenai kerja sama pengembangan keamanan siber. Penandatanganan dilakukan oleh Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi dan CEO Huawei Indonesia Guo Hailong, serta disaksikan Huawei Global Cybersecurity and Privacy Officer Sean Yang.

Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi mengatakan, pembaruan kerja sama ini bukan sekadar perpanjangan kemitraan, tetapi juga langkah untuk memperkuat kapasitas keamanan siber nasional melalui kolaborasi berbagai pihak.

“Sejalan dengan semangat quad-helix dalam Strategi Keamanan Siber dan Sandi, sektor swasta memiliki peran penting dalam melindungi ruang siber nasional. Melalui pembaruan Nota Kesepahaman ini, kolaborasi antara BSSN dan Huawei diharapkan mampu menjadi katalis bagi lahirnya berbagai program yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan keamanan siber Indonesia,” ungkap Nugroho dikutip Kamis (13/8/2026).

Kerja sama BSSN dan Huawei sendiri telah dimulai sejak 2019 dan diperbarui pada 2021 serta 2023. Hingga kini, kemitraan tersebut menghasilkan lebih dari 200 kegiatan kolaboratif yang melibatkan lebih dari 39.000 peserta.

Program yang dijalankan mencakup seminar, pelatihan, kampanye peningkatan kesadaran keamanan siber, asesmen tingkat kematangan, hingga pengembangan keterampilan khusus di bidang pertahanan berbasis AI dan keamanan siber industri.

Huawei Global Cybersecurity and Privacy Officer Sean Yang mengatakan, membangun ekosistem digital yang aman membutuhkan kepercayaan dan kerja sama seluruh pemangku kepentingan.

“Pada akhirnya, interaksi kita di dunia ini didasarkan pada kepercayaan. Membangun ekosistem kepercayaan digital yang tangguh memerlukan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan. Dengan bekerja sama, kita dapat membangun dunia cerdas yang berlandaskan kepercayaan digital,” ujarnya.

Sementara itu, Cyber Security and Privacy Officer Huawei Indonesia Syarbeni menilai keamanan siber merupakan tantangan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.

“Keamanan siber merupakan tantangan yang kompleks dan tidak dapat diatasi hanya dengan memperbaiki satu kelemahan pada satu waktu. Dibutuhkan pendekatan yang terkoordinasi dengan melibatkan seluruh sektor industri serta masyarakat luas,” kata Syarbeni.

Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta tersebut juga menghasilkan berbagai inisiatif seperti penyusunan makalah riset bersama, berbagi praktik terbaik berdasarkan standar global, hingga pengembangan talenta keamanan siber secara berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya pemanfaatan AI dan teknologi digital, upaya memperkuat literasi serta keterampilan keamanan siber dinilai menjadi salah satu fondasi penting agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi secara aman. Bagi generasi muda, kemampuan memahami keamanan siber tidak lagi hanya relevan bagi profesi teknologi, tetapi juga menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan dalam kehidupan digital sehari-hari.

 

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version