Dukung Kesehatan Mental Remaja, Program Thriving Together Targetkan Perluasan ke 34 Provinsi

program Thriving Together kesehatan mental remaja

Dukung Kesehatan Mental Remaja, Program Thriving Together Targetkan Perluasan ke 34 Provinsi (Foto: Istimewa/Zurich)

youngster.id - UNICEF Indonesia bersama Pemerintah Indonesia—melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak—memperkuat komitmen perlindungan remaja melalui program Thriving Together. Program yang didukung oleh Zurich dan Z Zurich Foundation ini berfokus pada penguatan kesehatan mental serta kesejahteraan psikososial generasi muda berbasis keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Memasuki fase kedua yang berlangsung sejak September 2024 hingga Desember 2027, Thriving Together mendorong perluasan dan pengintegrasian pendekatan program ke dalam kebijakan pembangunan keluarga nasional di 34 provinsi. Pada fase pertama (2021–2024), program ini telah berhasil menjangkau 318.048 individu di seluruh Indonesia.

Melalui kemitraan strategis ini, UNICEF dan BKKBN meningkatkan kapasitas Forum Generasi Berencana (GenRe) untuk membekali remaja, orang tua, guru, hingga pengasuh dengan keterampilan menciptakan lingkungan yang aman dari kekerasan dan stigma kesehatan mental.

Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Tini Nurianto, menegaskan bahwa keterlibatan lingkungan sekitar menjadi kunci utama tumbuh kembang remaja.

“Melalui program Thriving Together di Indonesia, kami ingin mendorong terciptanya ruang yang aman dan suportif bagi remaja, sekaligus memperkuat peran keluarga, sekolah, dan komunitas dalam mengenali tantangan kesehatan mental, mengurangi stigma, serta mendorong keberanian untuk mencari bantuan,” ujar Tini, dikutip Jum’at (23/10/2026).

Sinergi Global dan Kampanye Turn Down the Noise

Program Thriving Together di Indonesia merupakan wujud nyata kemitraan global antara Z Zurich Foundation dan UNICEF sejak 2021 yang menargetkan dapat menjangkau 150 juta anak dan kaum muda di 150 negara pada 2030.

Sebagai bagian dari inisiatif ini, diluncurkan pula kampanye global Turn Down the Noise yang mengajak remaja mengenali tekanan internal (inner noise) akibat media sosial, kekerasan, maupun penilaian lingkungan sekitar, serta mendorong mereka membangun hubungan sosial yang positif.

Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia, Muhammad Rafiq Khan, menyampaikan pentingnya penguatan ekosistem pendukung bagi remaja.

“Keluarga, sekolah, masyarakat, serta platform digital memiliki peran penting dalam melindungi anak dari kekerasan, mendorong terbentuknya hubungan yang positif, serta memastikan setiap anak merasa aman, dihargai, didengar, dan didukung,” jelas Rafiq.

 

HENNI S.

Exit mobile version