Kesulitan Belajar Anak Perlu Dilihat dari Sisi Kesehatan Jiwa

Tim peneliti IHDC. (Foto: stevywidia/youngster)

youngster.id - Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia masih menjadi tantangan. Hanya 25% siswa berusia 15 tahun yang mencapai kompetensi minimum membaca, jauh di bawah rata-rata negara OECD sebesar 74%. Kemampuan matematika dan sains siswa Indonesia juga berada di bawah rata-rata OECD.

Namun, kesulitan belajar anak tidak cukup dilihat dari nilai akademik. Anak yang sulit berkonsentrasi, mengikuti pelajaran, atau memahami materi tidak selalu berarti malas belajar. Kondisi kesehatan, termasuk kesehatan jiwa, juga perlu diperhatikan.

Temuan Indonesia Health Development Center (IHDC) terhadap 1.007 siswa berusia 9–14 tahun di empat sekolah dasar negeri di Jakarta memberikan perspektif lain mengenai persoalan ini. Penelitian tersebut menemukan hubungan antara risiko kecemasan dan depresi dengan fungsi kognitif sehari-hari serta harapan masa depan anak.

Direktur Eksekutif IHDC sekaligus Ketua Tim Peneliti, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan kesulitan belajar perlu dipahami secara menyeluruh, bukan langsung dianggap sebagai kemalasan.

“Anak yang sulit fokus perlu diperiksa, bukan buru-buru dicap malas. Kesulitan melihat materi pelajaran atau kecemasan yang tidak tertangani dapat berkaitan dengan kesulitan belajar sehari-hari,” ujar Ray dalam pemaparan hasil penelitian Determinan Perkembangan Kapasitas Kognitif dan Imajinasi Anak Usia Sekolah di DKI Jakarta Tahun 2026, Senin (19/10/2026) di Jakarta.

Kesehatan Jiwa Berkaitan dengan Fungsi Kognitif Anak

Studi IHDC mencatat 68,5% peserta masuk kategori fungsi kognitif sehari-hari kurang baik. Fungsi ini mencakup kemampuan memusatkan perhatian, mengingat informasi, dan mengolah materi pembelajaran. Selain itu, 49,3% peserta memiliki skor harapan masa depan yang rendah.

Analisis penelitian menunjukkan bahwa anak dengan risiko kecemasan tinggi memiliki odds mengalami fungsi kognitif sehari-hari yang kurang baik sekitar 3,3 kali dibandingkan kelompok pembanding. Pada anak dengan risiko depresi tinggi, angkanya sekitar 2,5 kali.

Penelitian tersebut juga menemukan hubungan antara risiko kecemasan dan depresi dengan skor harapan masa depan anak. Anak dengan risiko kecemasan memiliki kemungkinan sekitar 1,5 kali untuk memperoleh skor harapan masa depan yang rendah. Sementara itu, pada anak dengan risiko depresi, angkanya mencapai sekitar 1,78 kali.

Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan statistik, bukan bukti bahwa masalah kesehatan jiwa secara langsung menyebabkan kesulitan belajar atau rendahnya harapan masa depan. Skor harapan masa depan yang rendah juga tidak otomatis berarti anak tidak memiliki cita-cita. Hasil skrining dalam penelitian ini bukan diagnosis klinis dan perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan oleh tenaga profesional sesuai kebutuhan.

Ray mengatakan penelitian tersebut juga menemukan hubungan antara masalah perilaku, masalah emosional, dan kesulitan dengan teman sebaya dengan fungsi kognitif serta harapan masa depan anak.

Karena itu, perubahan perilaku anak perlu diperhatikan tanpa terburu-buru memberikan label negatif. Kesulitan berkonsentrasi atau mengikuti pelajaran perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, termasuk kondisi kesehatan dan lingkungan sosial anak.

Sekolah dapat membantu mengenali perubahan perilaku dan kesulitan belajar yang dialami siswa. Lingkungan yang aman, pencegahan perundungan, serta ruang bagi anak untuk bercerita menjadi bagian penting dalam mendukung kesehatan jiwa mereka.

Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina IHDC, Prof. Nila F. Moeloek, menekankan pentingnya mengintegrasikan kesehatan anak ke dalam agenda pendidikan.

“Indonesia Emas 2045 dimulai dari anak-anak yang duduk di bangku sekolah hari ini. Kita perlu memastikan mereka dapat melihat dengan jelas, belajar dengan tenang, dan memiliki keyakinan untuk meraih masa depan,” ujar Nila, yang pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI periode 2014–2019.

IHDC mendorong agar skrining kesehatan di sekolah diikuti dengan pendampingan dan rujukan kepada tenaga profesional sesuai kebutuhan. Orang tua juga perlu menyediakan ruang aman bagi anak untuk menyampaikan perasaan dan pengalaman mereka.

Penelitian ini terbatas pada siswa di empat sekolah dasar negeri di Jakarta sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi sebagai gambaran seluruh anak di Indonesia. Meski demikian, temuan tersebut menegaskan pentingnya melihat kesulitan belajar dan perubahan perilaku secara menyeluruh. Alih-alih langsung memberi label malas, orang tua dan sekolah perlu mencari tahu kebutuhan anak serta memastikan mereka memperoleh dukungan yang sesuai.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version