youngster.id - Di tengah peringatan Hari Anak Nasional, perhatian terhadap kesehatan anak tidak hanya penting untuk mencegah penyakit, tetapi juga menjaga kemampuan berpikir dan belajar mereka. Indonesia Health Development Center (IHDC) memperingatkan Indonesia berpotensi menghadapi Silent Cognitive Burden.
Silent Cognitive Burden adalah fenomena penurunan kapasitas perkembangan kognitif anak yang berlangsung secara perlahan akibat berbagai asalah kesehatan yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Peringatan tersebut disampaikan IHDC melalui Seri Kajian Strategis IHDC Nomor 4. Kajian ini mengidentifikasi empat determinan kesehatan yang memiliki hubungan ilmiah kuat dengan perkembangan kapasitas kognitif anak usia sekolah. Yakni gangguan refraksi mata yang tidak dikoreksi, defisiensi zat besi, defisiensi protein, dan gangguan perilaku.
Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan RI periode 2014–2019 Prof Nila F Moeloek mengatakan keempat masalah tersebut selama ini lebih sering dipandang sebagai persoalan kesehatan individu, padahal dampaknya bisa jauh lebih luas.
“Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional. Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan,” ungkapnya pada Kamis (23/7/2026) di Jakarta.
Berdasarkan analisis IHDC, lebih dari 8 juta anak Indonesia diperkirakan mengalami gangguan penglihatan yang belum dikoreksi. Selain itu, lebih dari 7 juta balita diperkirakan mengalami defisiensi zat besi, sementara data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 300 ribu anak usia sekolah mengalami gangguan perilaku berupa kecemasan.
Temuan IHDC sejalan dengan perhatian lembaga internasional terhadap pentingnya perkembangan otak anak. UNICEF menyebut masa kanak-kanak sebagai periode paling menentukan bagi perkembangan kognitif karena pada tahun-tahun awal kehidupan otak membentuk lebih dari satu juta koneksi saraf setiap detik. Sementara itu, WHO menegaskan bahwa kekurangan zat besi pada anak usia dini dapat mengganggu perkembangan otak dan berdampak pada kemampuan belajar serta prestasi akademik di kemudian hari.
Nila menegaskan, dampaknya tidak hanya dirasakan pada prestasi belajar anak, tetapi juga berpotensi memengaruhi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, hingga kualitas sumber daya manusia Indonesia pada masa depan. Apalagi pencapaian visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir dan berinovasi.
“Indonesia membutuhkan generasi yang mampu berpikir, berkreasi, memecahkan masalah, dan berinovasi. Investasi terhadap perkembangan otak anak adalah investasi terhadap daya saing bangsa,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif IHDC Ray Wagiu Basrowi mengatakan, fenomena Silent Cognitive Burden menunjukkan bahwa pembangunan anak perlu bergeser dari pendekatan yang hanya berfokus pada pencegahan penyakit menuju penguatan kapasitas otak sebagai fondasi pembangunan manusia.
Untuk itu, menurut dia, pembangunan anak perlu bergeser dari pendekatan yang hanya berfokus pada pencegahan penyakit menuju penguatan kapasitas otak sebagai fondasi pembangunan manusia.
“Kajian IHDC ini mengusulkan model Community Framework, yang menjelaskan bahwa perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial. Kapasitas ini sebaiknya mulai diukur sejak usia anak agar mereka dapat memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya,” kata Ray.
Kajian ini disusun berdasarkan rapid review berbagai penelitian internasional dan divalidasi bersama para pakar lintas disiplin . Menurut Ray IHDC menilai, gangguan refraksi mata yang tidak dikoreksi menjadi masalah paling mendesak karena prevalensinya tinggi, berdampak langsung terhadap proses belajar, dan relatif mudah diatasi melalui skrining mata serta penggunaan kacamata.
Selain itu, IHDC juga mendorong penguatan pencegahan anemia akibat defisiensi zat besi, peningkatan kualitas gizi anak sekolah, dan deteksi dini gangguan perilaku sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia.
Melalui kajian tersebut, IHDC juga memperkenalkan konsep Cognitive and Future Imaginative Capacity, yaitu kemampuan neurokognitif yang memungkinkan anak belajar secara efektif, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkreasi, sekaligus membangun orientasi terhadap masa depan.
“Kami berharap hasil kajian ini menjadi dasar bagi pengembangan penelitian nasional mengenai Cognitive and Future Imaginative Capacity, sekaligus mendorong integrasi kebijakan kesehatan, pendidikan, dan pembangunan manusia agar perkembangan kemampuan kognitif anak menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional,” pungkas Ray.
STEVY WIDIA
