Empat Tim Mahasiswa Pemenang Genera-Z Berbakti 2026 Siap Terjun ke Desa Wisata Binaan BCA

Genera-Z Berbakti 2026

Empat Tim Mahasiswa Pemenang Genera-Z Berbakti 2026 Siap Terjun ke Desa Wisata Binaan BCA (Foto: Istimewa/BCA)

youngster.id - Program call for proposal mahasiswa Genera-Z Berbakti 2026 yang diselenggarakan oleh Bakti BCA memasuki babak baru. Setelah melalui proses seleksi ketat, bootcamp, hingga babak final yang kompetitif, empat tim terbaik terpilih untuk mengimplementasikan gagasan mereka secara langsung di desa wisata binaan Bakti BCA.

Keempat tim mahasiswa yang berhasil lolos beserta desa tujuannya meliputi: Tim Laskar Selasik (Universitas Gadjah Mada/UGM)–Desa Wisata Kreatif Terong, Kabupaten Belitung, Tim MEGA LESTARI (Universitas Padjadjaran/UNPAD)–Desa Wisata Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, Tim Amerta Pertiwi (Universitas Airlangga/UNAIR)–Desa Wisata Patakbanteng, Kabupaten Wonosobo, dan Tim KATALIS (Universitas Indonesia/UI)–Desa Wisata Kakaskasen Dua, Kota Tomohon.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan bahwa terpilihnya pemenang menandai mulainya tahap paling krusial, yaitu aksi nyata di tengah masyarakat.

“Terpilihnya pemenang Genera-Z Berbakti 2026 menandai dimulainya tahap yang krusial dari program ini, yaitu pengabdian di lapangan. Kami yakin para pemenang dapat menjalankan program yang sudah disusun dengan lancar bersama masyarakat. Harapannya, pengabdian ini dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk masa depannya; dan masyarakat agar semakin berdaya dan tangguh,” ujar Hera, dikutip Selasa (28/7/2026).

Sebelum diterjunkan ke lapangan, para pemenang dibekali melalui rangkaian bootcamp yang mencakup pemetaan kebutuhan masyarakat, perencanaan program, team building, pengolahan data, hingga pemahaman terkait aspek Health, Safety, and Environment (HSE).

Kesempatan terjun langsung ini dinilai para peserta sebagai momentum penting untuk menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan. Anggota Tim Amerta Pertiwi (UNAIR), Usamah, menekankan pentingnya empati dalam pengabdian.

“Kami harus memahami persoalan dari sudut pandang masyarakat dan membangun perubahan bersama mereka, bukan datang sebagai pihak yang merasa paling tahu. Dari situlah dampak yang berkelanjutan bisa tercipta,” tutur Usamah.

 

STEVY WIDIA 

Exit mobile version